Kehadiran para siswa untuk mencoba langsung meneliti sampel sungai air tebu di Microplastic Mobile Laboratory (Mimo). (Foto: Istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Kehadiran Microplastic Mobile Laboratory (Mimo) membawa terobosan unik, tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium bergerak kesehatan lingkungan sekaligus wadah aksi kesehatan mental bagi anak dan remaja.
Lewat program ini, siswa diajak mengenali pencemaran mikroplastik serta melakukan penyelidikan sederhana di sekitar mereka bahkan dilatih mengubah rasa cemas akan kerusakan alam menjadi wawasan dan tindakan nyata, bukan sekadar ketakutan.
Direktur Ecoton, Prigi, menjelaskan bahwa rancangan Mimo dibangun di atas tiga pilar utama yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude).
“Pengetahuan didapatkan saat siswa belajar mengenai jenis-jenis mikroplastik dan dampaknya bagi tubuh; skill didapatkan saat siswa mengambil sampel di daun, kulit, dan di minuman dalam kemasan plastik; sedangkan sikap disalurkan setelah siswa mendapatkan edukasi yang nantinya akan disampaikan ke orang tua atau lingkungan terdekat,” jelasnya, Selasa (1/9).
Dalam kegiatan bertajuk mimo blusukan, para siswa berkesempatan turun langsung ke tepian Kali Tebu.
Mereka dilatih mengambil contoh air sungai lalu mengamati isinya menggunakan peralatan lengkap yang tersedia di dalam mobil laboratorium bergerak tersebut.
Staf Ecoton, Sofi yang mendampingi proses belajar, menekankan pesan praktis yang mudah diterima anak-anak agar lebih waspada terhadap bahaya yang tak terlihat mata telanjang.
“Gak boleh ya kalian minum es di plastik seperti ini, soalnya bisa mengandung mikroplastik di dalamnya. Kalau mau minum minta ganti ke tumbler saja,” tegasnya.
Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi banyak siswa, salah satunya Gibran, siswa kelas 3 SD Negeri Tanah Kali Kedinding. Ia mengaku sangat senang karena materi tidak hanya sekadar teori, tetapi dikemas menjadi kegiatan yang seru dan dekat dengan lingkungan.
“Senang, Mbak. Ini hal baru bagi kita, bisa main-main sambil belajar. Kami dan teman-teman berharap Mimo datang lagi, supaya bisa belajar kembali pakai mikroskop,” tuturnya.
Page: 1 2
Sejumlah peziarah di kawasan wisata religi Makam Sunan Ampel, Surabaya, mengeluhkan gangguan dari anak jalanan…
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya segera turun tangan menyelidiki dugaan keracunan…
Komisi D DPRD Kota Surabaya menggelar rapat dengar pendapat bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil…
Final Mini Drama Competition jenjang MI, MTs, dan MA tingkat Provinsi Jawa Timur digelar di…
Kebun Binatang Surabaya (KBS) untuk pertama kalinya menghadirkan kura-kura Aldabra (Aldabrachelys gigantea) sebagai koleksi satwa…
Ratusan santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Sidoarjo dilarikan ke rumah sakit. Diduga keracunan makan bergizi…
This website uses cookies.