Melalui prosesi ini, diharapkan Surabaya senantiasa dilimpahi keselamatan, kesejahteraan, ketentraman, dan kehidupan yang harmonis bagi seluruh warganya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang kerap dilaksanakan di tingkat kelurahan, RW, atau kampung, tahun ini Pemkot Surabaya memusatkan kegiatan di Tugu Pahlawan.
Lokasi ini dipilih karena dianggap sebagai simbol utama dan titik sentral kebanggaan Kota Pahlawan, agar tradisi ini bisa dinikmati oleh masyarakat dari berbagai penjuru kota.

“Karena itu tahun ini dipusatkan di Tugu Pahlawan agar masyarakat bisa menikmati bersama dan merasakan semangat kebudayaan secara lebih luas,” tambah Yos.
Acara ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas elemen masyarakat. Sebanyak 400 peserta turut memeriahkan kirab budaya dengan mengenakan beragam busana adat Nusantara, berjalan beriringan membawa gunungan dan sesaji ruwat bumi Surabaya.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai jajaran Pemkot Surabaya, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), komunitas budaya, sanggar tari, budayawan, seniman, hingga masyarakat umum.
Selain kirab, rangkaian acara juga diisi dengan pembacaan kidung suci, ujub sesaji, mantra Rajah Kalacakra, hingga prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol persaudaraan dan rasa syukur warga.
Pihaknya sengaja mengemas kegiatan ini secara terbuka dan megah dengan satu tujuan utama mendekatkan generasi muda pada akar budaya, tidak hanya mengenalnya lewat layar gawai atau media sosial.
“Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan dunia digital. Karena itu kami ingin mengenalkan bagaimana tradisi dijalankan secara langsung dan tradisional,” terang Yos.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dibuka untuk umum dan tidak dipungut biaya sepeser pun.

