METROTODAY, SURABAYA – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar tradisi Ruwatan Kota di Halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5) malam.
Ritual ini digelar sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar nyata untuk menjaga warisan budaya Jawa tetap lestari di tengah pesatnya arus digitalisasi yang melanda generasi muda saat ini.
Rangkaian perayaan diawali dengan kirab budaya yang meriah, dilanjutkan prosesi ruwatan, dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit lakon Dewa Ruci.
Salah satu hal yang menarik dalam pagelaran tahun ini adalah keterlibatan dalang cilik, yang menjadi simbol harapan akan regenerasi dan keberlanjutan seni tradisi di masa depan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, menegaskan bahwa ruwatan ini bukan sekadar seremoni tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar budaya untuk menjaga keselamatan, keharmonisan, serta mempertegas identitas Kota Surabaya.
“Kegiatan ruwatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keberkahan dan keselamatan yang diberikan bagi Kota Surabaya serta seluruh warganya. Selain itu, ini menjadi salah satu upaya aktif dan kreatif untuk menjaga kelestarian budaya, adat istiadat, dan tradisi lokal,” ujar Yos, sapaan akrabnya.
Dalam pandangan tradisi Jawa, ruwatan memiliki makna mendalam sebagai ritual pembuangan sengkala atau segala hal yang buruk agar masyarakat terhindar dari bencana dan mara bahaya.
METROTODAY, SURABAYA – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar tradisi Ruwatan Kota di Halaman Tugu Pahlawan, Sabtu (23/5) malam.
Ritual ini digelar sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar nyata untuk menjaga warisan budaya Jawa tetap lestari di tengah pesatnya arus digitalisasi yang melanda generasi muda saat ini.
Rangkaian perayaan diawali dengan kirab budaya yang meriah, dilanjutkan prosesi ruwatan, dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit lakon Dewa Ruci.
Salah satu hal yang menarik dalam pagelaran tahun ini adalah keterlibatan dalang cilik, yang menjadi simbol harapan akan regenerasi dan keberlanjutan seni tradisi di masa depan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, menegaskan bahwa ruwatan ini bukan sekadar seremoni tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar budaya untuk menjaga keselamatan, keharmonisan, serta mempertegas identitas Kota Surabaya.
“Kegiatan ruwatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keberkahan dan keselamatan yang diberikan bagi Kota Surabaya serta seluruh warganya. Selain itu, ini menjadi salah satu upaya aktif dan kreatif untuk menjaga kelestarian budaya, adat istiadat, dan tradisi lokal,” ujar Yos, sapaan akrabnya.
Dalam pandangan tradisi Jawa, ruwatan memiliki makna mendalam sebagai ritual pembuangan sengkala atau segala hal yang buruk agar masyarakat terhindar dari bencana dan mara bahaya.