“Ya, itu harus selektif. Jadi hewan kurban yang masuk Surabaya, yang berjualan di pinggir-pinggir jalan, itu harus dites dulu. Kalau enggak, nanti bahaya karena itu akan dikonsumsi orang banyak,” ujar Armuji, Sabtu (23/5).
Pengawasan ini diminta dilakukan secara menyeluruh ke seluruh lapak yang tersebar di Surabaya dengan melibatkan petugas kesehatan dan dinas terkait.
Cak Ji menekankan, keberadaan hewan sakit sangat membahayakan warga, sehingga pemeriksaan menyeluruh mutlak diperlukan agar masyarakat merasa aman saat berbelanja.
“Seluruh lapak yang ada di Surabaya itu harus diperiksa. Petugas kesehatan harus turun. Kalau ada penyakit seperti itu kan membahayakan warga yang mengonsumsinya,” tuturnya.
Ketua DPC PDIP Surabaya itu juga meminta agar frekuensi pemeriksaan ditingkatkan seiring mendekati hari penyembelihan.
Sebagai bentuk jaminan keamanan dan kenyamanan pembeli, hewan yang dinyatakan sehat dan lolos uji kesehatan nantinya harus diberi tanda khusus.
“Makin diintensifkan sebelum hari H penyembelihan. Nanti mana yang lolos dan sehat harus dikasih stempel,” tegasnya.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya telah melakukan pemantauan dan pemeriksaan di sejumlah lokasi penjualan.
Dari hasil pengecekan yang dilakukan tim gabungan, ditemukan satu ekor hewan yang terindikasi positif penyakit kulit atau skabies.
Kepala DKPP Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa penemuan tersebut langsung ditindaklanjuti.
Hewan yang sakit tersebut segera dipisahkan agar tidak bercampur dengan hewan sehat dan terjual ke masyarakat.
“Hingga saat ini, tim menemukan satu hewan yang terindikasi terkena skabies. Hewan tersebut langsung diperiksa dan diisolasi agar tidak ikut diperjualbelikan kepada masyarakat,” pungkasnya. (ahm)

