Akademisi Rusia hingga AS Bahas Transformasi Bisnis Berkelanjutan di UK Petra Surabaya

METROTODAY, SURABAYA – Konferensi internasional Petra International Business and Accounting Conference (PIBACC) 2026 pada 22–23 Mei di Universitas Kristen (UK) Petra.

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi bisnis dari berbagai negara dengan fokus utama membahas integrasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG), inovasi, serta akuntabilitas dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan.

Dunia usaha global kini tengah bergeser, di mana penilaian keberhasilan perusahaan tidak lagi hanya didasarkan pada keuntungan finansial semata, tetapi juga pada kepedulian terhadap kelestarian alam dan kesejahteraan sosial.

Melalui forum ini, para ahli berupaya membuktikan secara ilmiah bahwa kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan bumi, serta merumuskan panduan teori baru bagi dunia bisnis ke depan.

Ketua Komite Ilmiah PIBACC 2026, Saarce Elsye Hatane, menyebutkan bahwa konferensi yang kini memasuki edisi ketiga ini dirancang sebagai wadah lintas disiplin ilmu untuk mencari solusi atas perubahan zaman.

“Sejak awal, PIBACC menjadi ruang diskusi bagi akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk menjawab tantangan dunia melalui berbagai sudut pandang keilmuan,” ungkapnya, Jumat (22/5).

Tahun ini, tercatat sebanyak 151 makalah ilmiah yang dipresentasikan. Peserta dan pemakalah datang dari berbagai wilayah Indonesia mulai Sumatera hingga Papua, serta negara tetangga dan mancanegara seperti Malaysia, Inggris, Filipina, Australia, hingga Rusia.

Sementara tim peninjau dan pembicara berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dengan mengusung tema “Sustainable Business Transformation: Integrating ESG, Innovation, and Accountability for the Future Economy”.

Enam pembicara andal hadir mengulas topik tersebut, yakni Josua Tarigan (UK Petra), Prof. Dr. Hiram Ting (Serawak Research Society Malaysia), Prof. Kim Lim Tan (James Cook University Singapura), James Wright (ACCA Inggris), dan Prof. Sr. Dr. Thuraiya Mohd (Universiti Teknologi Mara Malaysia).

Menurut Saarce, tema ini dipilih agar para pelaku bisnis dan akuntansi segera beradaptasi dengan tuntutan pemangku kepentingan yang kian tinggi serta perubahan regulasi global.

Prinsip ESG sendiri menjadi tolok ukur utama dalam menilai etika dan keberlanjutan sebuah usaha.

“Kami berfokus pada cara memadukan prinsip ESG, inovasi teknologi, serta sistem akuntabilitas yang kuat. Tujuannya agar bisnis mampu menciptakan nilai jangka panjang yang bermanfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana PIBACC 2026, Retno Ardianti, menegaskan komitmen acara ini sebagai jembatan antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah.

Selain berbagi wawasan, konferensi ini juga membuka peluang publikasi karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi.

“PIBACC membuka peluang emas bagi peserta untuk menerbitkan tulisan mereka di jurnal bereputasi, sehingga ilmu yang dibagikan bisa berdampak luas bagi masyarakat. Gelaran ini bukti nyata kita sedang merancang ekonomi dunia yang lebih sehat, hijau, dan bertanggung jawab mulai dari sekarang,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Konferensi internasional Petra International Business and Accounting Conference (PIBACC) 2026 pada 22–23 Mei di Universitas Kristen (UK) Petra.

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi bisnis dari berbagai negara dengan fokus utama membahas integrasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG), inovasi, serta akuntabilitas dalam menjawab tantangan ekonomi masa depan.

Dunia usaha global kini tengah bergeser, di mana penilaian keberhasilan perusahaan tidak lagi hanya didasarkan pada keuntungan finansial semata, tetapi juga pada kepedulian terhadap kelestarian alam dan kesejahteraan sosial.

Melalui forum ini, para ahli berupaya membuktikan secara ilmiah bahwa kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan keberlanjutan bumi, serta merumuskan panduan teori baru bagi dunia bisnis ke depan.

Ketua Komite Ilmiah PIBACC 2026, Saarce Elsye Hatane, menyebutkan bahwa konferensi yang kini memasuki edisi ketiga ini dirancang sebagai wadah lintas disiplin ilmu untuk mencari solusi atas perubahan zaman.

“Sejak awal, PIBACC menjadi ruang diskusi bagi akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk menjawab tantangan dunia melalui berbagai sudut pandang keilmuan,” ungkapnya, Jumat (22/5).

Tahun ini, tercatat sebanyak 151 makalah ilmiah yang dipresentasikan. Peserta dan pemakalah datang dari berbagai wilayah Indonesia mulai Sumatera hingga Papua, serta negara tetangga dan mancanegara seperti Malaysia, Inggris, Filipina, Australia, hingga Rusia.

Sementara tim peninjau dan pembicara berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dengan mengusung tema “Sustainable Business Transformation: Integrating ESG, Innovation, and Accountability for the Future Economy”.

Enam pembicara andal hadir mengulas topik tersebut, yakni Josua Tarigan (UK Petra), Prof. Dr. Hiram Ting (Serawak Research Society Malaysia), Prof. Kim Lim Tan (James Cook University Singapura), James Wright (ACCA Inggris), dan Prof. Sr. Dr. Thuraiya Mohd (Universiti Teknologi Mara Malaysia).

Menurut Saarce, tema ini dipilih agar para pelaku bisnis dan akuntansi segera beradaptasi dengan tuntutan pemangku kepentingan yang kian tinggi serta perubahan regulasi global.

Prinsip ESG sendiri menjadi tolok ukur utama dalam menilai etika dan keberlanjutan sebuah usaha.

“Kami berfokus pada cara memadukan prinsip ESG, inovasi teknologi, serta sistem akuntabilitas yang kuat. Tujuannya agar bisnis mampu menciptakan nilai jangka panjang yang bermanfaat,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana PIBACC 2026, Retno Ardianti, menegaskan komitmen acara ini sebagai jembatan antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah.

Selain berbagi wawasan, konferensi ini juga membuka peluang publikasi karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi.

“PIBACC membuka peluang emas bagi peserta untuk menerbitkan tulisan mereka di jurnal bereputasi, sehingga ilmu yang dibagikan bisa berdampak luas bagi masyarakat. Gelaran ini bukti nyata kita sedang merancang ekonomi dunia yang lebih sehat, hijau, dan bertanggung jawab mulai dari sekarang,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait