Jogging for Peace: PPIS Unesa Ajak Warga Surabaya Tolak Segala Bentuk Kekerasan

METROTODAY, SURABAYA – Pusat Pencegahan dan Penanganan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Jogging for Peace saat Car Free Day (CFD) Jalan Raya Darmo, tepatnya di sekitar Taman Bungkul, Minggu (19/4).

Direktur PPIS Unesa, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan pentingnya perdamaian dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu menolak segala bentuk kekerasan.

“Kegiatan ini dalam rangkaian bulan PBIS, Voices for Global Peace, isunya adalah isu perdamaian. Kita melakukan edukasi dan kampanye kepada masyarakat berbarengan dengan acara CFD yang memang tempat berkumpulnya berbagai kalangan,” ujar Prof. Mutimmatul.

Melalui aksi ini, pihaknya ingin menekankan bahwa kekerasan tidak boleh terjadi pada siapa pun, baik itu perempuan, kelompok rentan, maupun anak-anak. Bentuk kekerasan yang disoroti tidak hanya fisik, tetapi juga kekerasan seksual, psikis, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

WhatsApp Image 2026-04-19 at 20.17.40 (1)
PPIS Unesa menggelar kampanye perdamaian dan anti kekerasan saat Car Free Daya (CFD) di Jalan Raya Darmo Surabaya, Minggu (19/4). (Foto: Istimewa)

“Kita bersama warga Surabaya mengajak untuk melawan segala bentuk kekerasan. Kita menginginkan sebuah ruang yang aman, nyaman untuk tumbuh bersama, masyarakat yang hidup berdampingan dalam penuh saling menghormati,” tegasnya.

Selain kampanye, Unesa juga membuka layanan pendukung bagi warga. Tersedia asesmen kesehatan mental secara digital, ruang konseling atau curhat, serta tes kebugaran tubuh yang bekerja sama dengan Unesa Science Center.

“Kami memberikan ruang kepada warga Surabaya jika ingin tahu kondisi mentalnya atau fisiknya. Tidak menargetkan jumlah, tapi yang penting akses tersedia bagi yang membutuhkan,” jelasnya.

Meskipun gencar melakukan edukasi, Prof. Mutimmatul menegaskan bahwa pihaknya tidak menerima laporan kasus secara langsung. PPIS Unesa berfungsi sebagai pendidik yang mengarahkan korban atau saksi untuk berani melapor ke instansi berwenang.

“Unesa mengedukasi warga untuk bersikap berani melawan, tidak diam. Kami mengarahkan bahwa ketika ada kekerasan, bisa melapor ke DP3A melalui layanan Sapa Perempuan yang siap 24 jam,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kasi Prevensi Intervensi PPIS Unesa, Putri Aisyiyah Rachma Dewi. Ia berharap masyarakat makin paham bahwa kekerasan memiliki banyak wujud, tidak hanya seksual, namun juga kekerasan terhadap anak dan bentuk lainnya yang sering tidak disadari.

“Kami harapkan masyarakat teredukasi bahwa kekerasan itu ragamnya banyak, termasuk kekerasan terhadap anak yang perlu menjadi perhatian serius,” pungkasnya. (ahm)

METROTODAY, SURABAYA – Pusat Pencegahan dan Penanganan Isu Strategis (PPIS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Jogging for Peace saat Car Free Day (CFD) Jalan Raya Darmo, tepatnya di sekitar Taman Bungkul, Minggu (19/4).

Direktur PPIS Unesa, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan pentingnya perdamaian dan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu menolak segala bentuk kekerasan.

“Kegiatan ini dalam rangkaian bulan PBIS, Voices for Global Peace, isunya adalah isu perdamaian. Kita melakukan edukasi dan kampanye kepada masyarakat berbarengan dengan acara CFD yang memang tempat berkumpulnya berbagai kalangan,” ujar Prof. Mutimmatul.

Melalui aksi ini, pihaknya ingin menekankan bahwa kekerasan tidak boleh terjadi pada siapa pun, baik itu perempuan, kelompok rentan, maupun anak-anak. Bentuk kekerasan yang disoroti tidak hanya fisik, tetapi juga kekerasan seksual, psikis, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

WhatsApp Image 2026-04-19 at 20.17.40 (1)
PPIS Unesa menggelar kampanye perdamaian dan anti kekerasan saat Car Free Daya (CFD) di Jalan Raya Darmo Surabaya, Minggu (19/4). (Foto: Istimewa)

“Kita bersama warga Surabaya mengajak untuk melawan segala bentuk kekerasan. Kita menginginkan sebuah ruang yang aman, nyaman untuk tumbuh bersama, masyarakat yang hidup berdampingan dalam penuh saling menghormati,” tegasnya.

Selain kampanye, Unesa juga membuka layanan pendukung bagi warga. Tersedia asesmen kesehatan mental secara digital, ruang konseling atau curhat, serta tes kebugaran tubuh yang bekerja sama dengan Unesa Science Center.

“Kami memberikan ruang kepada warga Surabaya jika ingin tahu kondisi mentalnya atau fisiknya. Tidak menargetkan jumlah, tapi yang penting akses tersedia bagi yang membutuhkan,” jelasnya.

Meskipun gencar melakukan edukasi, Prof. Mutimmatul menegaskan bahwa pihaknya tidak menerima laporan kasus secara langsung. PPIS Unesa berfungsi sebagai pendidik yang mengarahkan korban atau saksi untuk berani melapor ke instansi berwenang.

“Unesa mengedukasi warga untuk bersikap berani melawan, tidak diam. Kami mengarahkan bahwa ketika ada kekerasan, bisa melapor ke DP3A melalui layanan Sapa Perempuan yang siap 24 jam,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Kasi Prevensi Intervensi PPIS Unesa, Putri Aisyiyah Rachma Dewi. Ia berharap masyarakat makin paham bahwa kekerasan memiliki banyak wujud, tidak hanya seksual, namun juga kekerasan terhadap anak dan bentuk lainnya yang sering tidak disadari.

“Kami harapkan masyarakat teredukasi bahwa kekerasan itu ragamnya banyak, termasuk kekerasan terhadap anak yang perlu menjadi perhatian serius,” pungkasnya. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait