Categories: Surabaya

Sarasehan Kebangsaan JSN 45: Ketahanan Ideologi Pancasila Kunci Hadapi Ancaman Proxy

METROTODAY, SURABAYA – Ancaman terhadap negara Indonesia saat ini tidak hanya datang secara langsung, melainkan melalui mekanisme proxy yang menggunakan pihak lain untuk mengganggu stabilitas bangsa.

Hal tersebut disampaikan dalam sarasehan kebangsaan JSN 45 dan Bela Negara Melawan Ancaman Non Fisik Demi Kedaulatan Bangsa yang digelar di Gedung Juang 45, Surabaya, Kamis (19/2).

Dalam kegiatan tersebut, ketahanan ideologi berbasis Pancasila disebutkan sebagai jawaban utama untuk memperkuat negara.

Ketua FKP RRI Surabaya, Laksda TNI (Purn) Dicky Yunianto menyampaikan bahwa konsep ketahanan ideologi bertujuan untuk menguatkan Pancasila sebagai landasan bangsa.

“Jawaban dari seluruhnya itu ketahanan ideologi. Ketahanan ideologi itu berarti kan Pancasila itu kita harus kuat,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan pandangan mengenai ancaman proxy yang diperkirakan terjadi.

“Sebenarnya negara kita kan diserang melalui proxy. Proxy itu bahayanya kan menggunakan orang lain. Misalnya Amerika kita kepingin ngalahkan kita, dia nggak perlu turun sendiri. Malaysia misalnya dikompori terus nyerang kita kayak Korea yang ributin medsos itu ya mungkin itu juga,” jelasnya.

Menurutnya, dengan ketahanan diri yang kuat, bangsa akan memiliki antibodi yang hebat yang diambil dari nilai-nilai Pancasila.

“Nah kalau kita ketahanan diri kita kuat maka antibodi kita hebat, ini kan diambil dari Pancasila toh. Kalau itu kuat nempel pada diri kita ya, tapi bukan hanya generasi muda, generasi tua dulu. Generasi tua harus bisa ngasih contoh gitu loh ya, baru itu akan terjadi ketahanan ideologi kita kuat maka nggak bisa diserang sama misalnya oligarki,” ujarnya.

Dicky mengakui adanya kesenjangan komunikasi antara generasi tua dan muda. Di era saat ini, generasi muda terkadang tidak menyambung dengan cerita masa lalu dari generasi tua.

“Kalau kita bercerita tentang Pertempuran Surabaya itu nggak nyambung bagi generasi muda, mereka bilang ‘nggak nyambung dong bapak, kan perang apa loh kita nggak kita iya kita lapar loh pak’,” katanya.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah mentalitas kolaboratif dan tidak menyerah meskipun langkahnya kecil.

“Seperti melempar kerikil pun akan menimbulkan riak, dan jika banyak orang yang melakukannya, dampaknya akan semakin besar,” imbuhnya.

Terkait kemampuan membangkitkan semangat sesuai dengan impian para pendiri, ia menegaskan pentingnya menyasar secara tepat dan beradaptasi dengan zaman sekarang.

“Pendiri bangsa dulu berjuang dengan cara yang sesuai dengan kondisi zamannya, sekarang kita juga harus berjuang dengan cara yang sesuai dengan kondisi generasi muda saat ini,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Dinilai Lalai, Sopir Taksi Green SM Jadi Tersangka Kecelakaan KRL di Bekasi

Insiden kecelakaan KRL Commuter Line dengan KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur…

5 hours ago

Gubernur Khofifah Lepas Kloter Terakhir Haji Embarkasi Surabaya, Total 43.999 Jemaah Terbanyak di Indonesia

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas keberangkatan kloter 116 sebagai kelompok terbang…

6 hours ago

Seluruh WNI Peserta Global Sumud Flotilla Dibebaskan, Menlu Pastikan Segera Pulang ke Indonesia

Menlu RI) Sugiono memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global…

7 hours ago

Mbah Marsiyah Usia 105 Tahun Berangkat Haji Hasil Nabung di Bawah Bantal, Dapat Layanan Khusus

Usia satu abad lebih tidak menyurutkan tekad Marsiyah Salim,105 untuk menunaikan ibadah haji. Rabu (20/5),…

9 hours ago

Catat! Hasil SNBT Diumumkan 25 Mei, Begini Panduan Cek Kelulusan

Hasil Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2026 segera diketahui. Terjadwal di laman Seleksi Nasional Penerimaan…

9 hours ago

Sentuhan Magis Unai Emery Antar Aston Villa Raih Trofi Eropa Pertama sejak 1982

Aston Villa akhirnya kembali merasakan euforia sebagai jawara Eropa usai menghancurkan SC Freiburg pada partai…

12 hours ago

This website uses cookies.