Kopilaborasi Membranding Sport Tourism: Ajak Pegiat Bola Menjual Potensi Lapangan Desa dengan Kreatif

Talenta-talenta muda desa, kata dia, bisa mempromosikan lapangan desa dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Saya yakin adik adik ini pasti hebat membuat konten bermutu untuk memamerkan lapangan desa sebagai potensi menarik,” katanya.

Dia menjanjikan akan memfasilitasi hal tersebut untuk meningkatkan semangat branding lapangan desa. Di antaranya membuat beragam pelatihan konten kreator. Bahkan, pelatihan artificial intelligence (AI) agar membuat konten lebih menarik.

Adapun Sullamul Hadi Nurmawan mengungkapkan bahwa ada potensi ekonomi besar di balik lapangan bola. Misalnya, terkait penyewaan lapangan bola. Bahkan, segmentasi sudah terbangun seiring dengan makin populernya lapangan bola di desa.

Dia mencontohkan lapangan bola Klopo Sepuluh di tempat tinggalnya, kini banyak disewa saat malam hari. Adapun siang atau sore hari, warga dari luar desa lebih senang menyewa lapangan Bangsri.

Mas Wawan, sapaan Sullamul, berharap agar para pegiat bola di desa menemukan keunikan di masing-masing lapangan tersebut. Sehingga bisa menjual potensi dengan diferensiasi masing-masing.

“Para pemuda desa ini kan kreatif. Cari solusi out of the box, saya yakin desa akan bangkit dengan kepedulian pemudanya,” jelasnya.

Beragam pertanyaan pun mengalir dari para peserta. Banyak harapan yang disematkan kepada Pemkab Sidoarjo. Di antaranya memfasilitasi kepelatihan, perawatan lapangan, hingga pemberian perhatian kepada sekolah sepakbola (SSB).

Kepala Diskominfo Eri Sudewo menjanjikan akan menyampaikan semua masukan dari para pegiat sepakbola yang terkait dengan pengembangan dan pembinaan kepada Kepala Disporapar Sidoarjo, Yudhi Arianto. Yudhi sedianya hadir dalam diskusi itu. Namun, sampai diskusi rampung, Yudhi belum datang. (red/mt)

Talenta-talenta muda desa, kata dia, bisa mempromosikan lapangan desa dengan memanfaatkan teknologi informasi. “Saya yakin adik adik ini pasti hebat membuat konten bermutu untuk memamerkan lapangan desa sebagai potensi menarik,” katanya.

Dia menjanjikan akan memfasilitasi hal tersebut untuk meningkatkan semangat branding lapangan desa. Di antaranya membuat beragam pelatihan konten kreator. Bahkan, pelatihan artificial intelligence (AI) agar membuat konten lebih menarik.

Adapun Sullamul Hadi Nurmawan mengungkapkan bahwa ada potensi ekonomi besar di balik lapangan bola. Misalnya, terkait penyewaan lapangan bola. Bahkan, segmentasi sudah terbangun seiring dengan makin populernya lapangan bola di desa.

Dia mencontohkan lapangan bola Klopo Sepuluh di tempat tinggalnya, kini banyak disewa saat malam hari. Adapun siang atau sore hari, warga dari luar desa lebih senang menyewa lapangan Bangsri.

Mas Wawan, sapaan Sullamul, berharap agar para pegiat bola di desa menemukan keunikan di masing-masing lapangan tersebut. Sehingga bisa menjual potensi dengan diferensiasi masing-masing.

“Para pemuda desa ini kan kreatif. Cari solusi out of the box, saya yakin desa akan bangkit dengan kepedulian pemudanya,” jelasnya.

Beragam pertanyaan pun mengalir dari para peserta. Banyak harapan yang disematkan kepada Pemkab Sidoarjo. Di antaranya memfasilitasi kepelatihan, perawatan lapangan, hingga pemberian perhatian kepada sekolah sepakbola (SSB).

Kepala Diskominfo Eri Sudewo menjanjikan akan menyampaikan semua masukan dari para pegiat sepakbola yang terkait dengan pengembangan dan pembinaan kepada Kepala Disporapar Sidoarjo, Yudhi Arianto. Yudhi sedianya hadir dalam diskusi itu. Namun, sampai diskusi rampung, Yudhi belum datang. (red/mt)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait