Sesi diskusi para pegiat bola dan SSB di Sidoarjo yang digelar usai Kopilaborasi di kafe Teras Manazela, Sukodono, Sidoarjo. (Foto: Dite Surendra/METROTODAY)
METROTODAY, SIDOARJO – Uneg-uneg apa saja yang muncul dalam diskusi Kopilaborasi di Teras Manazela semalam? Ternyata beragam. Semuanya pun tersampaikan tanpa sekat.
Diskusi yang mengusung tema Sport Tourism: Branding Lapangan Bola sebagai Ikon Ekonomi Desa tersebut berlangsung gayeng.
Sejumlah peserta menyumbangkan berbagai aspirasi agar talenta talenta muda sepakbola Sidoarjo terus bermunculan.
Aulia, mantan Kapten Deltras Sidoarjo mengungkapkan bahwa di desa-desa Sidoarjo pembinaan bibit-bibit muda terus berlangsung. Sekolah sepakbola juga menjamur dimana-mana.
Menurut Aulia banyak orang tua yang berharap anak-anaknya bisa bermain sepakbola dengan baik. Bahkan, impiannya putra-putranya bisa menjadi atlet sepakbola.
Namun demikian, perhatian pemerintah perlu diberikan. Harapannya agar pembinaan tersebut lebih tertata. “Misalnya membimbing para pelatih untuk mengikuti program kepelatihan,” katanya.
Para pelatih yang memegang sertifikasi kepelatihan akan melakukan pembimbingan lebih sistematik dan terarah. “Namun demikian mendapatkan sertifikasi tidak mudah,” ungkapnya.
Biaya untuk mengikuti program sertifikasi juga tidak murah. “Nah di sanalah pemerintah harus melihat potensi,” ucapnya.
Suhairil, pembina SSB Putra Delta, juga urun rembuk. Dia mengatakan bahwa lapangan-lapangan desa harus digiatkan untuk menggelar kompetisi-kompetisi. Sebab, kegiatan itu akan melahirkan efek domino yang panjang.
“Dengan kompetisi yang panjang. Secara tidak langsung lapangan bola akan menjadi magnet bagi warga masyarakat,” katanya.
Bahkan, hal tersebut juga akan menghidupkan ekonomi desa. Di antaranya UMKM di sekitar lapangan bola bisa hidup. Sebab, banyak orang yang akhirnya membeli dagangan mereka.
“Saya merasakan betapa senangnya UMKM kalau ada kompetisi yang hidup,” katanya.
Namun demikian, menyelenggarakan kompetisi skala desa tidak murah. Butuh biaya dan perhatian pemerintah agar kompetisi bisa berlangsung.
Di samping para pemuda Sukodono, diskusi itu juga dihadiri pemuda dadi lain desa.
Niko, pemuda asal Gedangan juga urun saran. Dia berharap bahwa lapangan desa juga menjadi perhatian para kepala desa. Misalnya untuk perawatan rumput.
Ketika musim hujan, pemotongan rumput harus dilakukan seminggu dua kali. “Nah, selama ini para pegiat ini yang urunan untuk merawat lapangan,” katanya.
Demi kemajuan potensi sepakbola desa, akan lebih baik apabila kepala desa diarahkan untuk memberi perhatian terhadap kualitas lapangan.
Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan berjanji memperhatikan segenap masukan konstruktif dari pegiat bola di desa itu. “Semuanya masukan positif dan membangun,” katanya.
Sullamul yakin dengan pemikiran pemikiran cemerlang para pemudanya, desa ke depan akan lebih cemerlang dan maju. (red/mt)
Diskominfo Sidoarjo menjanjikan akan menyalurkan internet highspeed untuk lapangan-lapangan desa yang mayoritas sudah berbenah dan…
Lapangan bola yang tersebar di banyak desa di Sidoarjo ternyata memiliki potensi ekonomi besar. Hal…
Mimpi untuk menunaikan ibadah haji akhirnya menjadi kenyataan bagi Mukarromah Basyar. Perempuan 57 tahun asal…
Kebun Binatang Surabaya (KBS) resmi menjalin kerja sama konservasi dengan iZoo Shizuoka, Jepang, melalui skema…
Warga Jalan Wonokusumo Jaya Baru, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya, Senin (29/4) digemparkan oleh seorang…
Kecelakaan lalu lintas menimpa rombongan jemaah haji Embarkasi Surabaya Kloter 2 yang berasal dari Kabupaten…
This website uses cookies.