Categories: Fair Play

Maroko Imbangi Brasil, Bouaddi Curi Perhatian di Panggung Piala Dunia 2026

METROTODAY, NEW YORK – Brasil harus puas mengawali perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan hasil imbang. Menghadapi Maroko pada laga perdana Grup C di Metlife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat, Selecao harus puas bermain imbang 1-1. Hasil itu membuat kedua tim sama-sama mengoleksi satu poin pada awal persaingan Grup C.

Di hadapan 80.663 penonton yang memadati stadion, pertandingan berlangsung dalam atmosfer luar biasa. Pendukung Brasil mendominasi tribun dengan warna kuning khas, tetapi tribun suporter Maroko tak kalah berisik dan beberapa kali membuat stadion ramai ketika tim kesayangannya melancarkan serangan berbahaya. Bahkan menurut klaim Sky Sports, pertandingan ini menjadi salah satu laga dengan atmosfer terbaik pada pekan pertama turnamen.

Maroko tampil lebih agresif pada awal pertandingan. Tim asuhan Mohamed Ouahbi bermain berani dan mampu menguasai lini tengah. Dominasi itu berbuah gol pada menit ke-21 ketika Ismael Saibari memanfaatkan umpan terobosan Brahim Diaz sebelum mengeoh Alisson Becker. Gol perdana tersebut membuat pendukung Maroko yang memadati tribun belakang gawang larut dalam euforia.

Gol itu menjadi bukti bahwa Singa Atlas (julukan Maroko) bukan lagi tim kuda hitam seperti saat mencapai semifinal Piala Dunia 2022. Mereka mampu membuat Brasil kesulitan mengembangkan permainan. Duet Casemiro dan Bruno Guimaraes beberapa kali kalah cepat dalam duel lini tengah, sementara Vinicius Junior dan Raphinha kesulitan bergerak di ruang pertahanan lawan.

Namun, kualitas individu pemain Brasil memang tidak dapat diragukan. Tak berselang lama setelah gol pertama Maroko, pada menit ke-32, Vinicius Junior mencetak gol penyama kedudukan melalui aksi cut inside-nya dari sisi kiri. Penyerang Real Madrid itu menusuk ke dalam sebelum melepaskan tembakan melengkung yang gagal dijangkau Yassine Bounou. Gol tersebut tidak hanya menyelematkan wajah Brasil di hadapan fansnya, tetapi juga mengubah momentum pertandingan menjelang turun minum.

Babak kedua berlangsung lebih seimbang. Carlo Ancelotti melakukan beberapa perubahan yang membuat Brasil berani tampil lebih agresif. Meski demikian, Maroko tetap mampu menjaga organisasi permainan mereka. Bono juga tampil sigap di bawah mistar gawang untuk menggagalkan sejumlah tendangan penyerang Brasil yang mengarah padanya. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 1-1 tidak berubah.

Di tengah hasil yang kurang memuaskan bagi kedua tim, lampu sorot mata penonton justru mengarah kepada gelandang muda Maroko, Ayyoub Bouaddi. Pemain berusia 18 tahun itu tampil luar biasa saat menjalani debut di Piala Dunia. Bouaddi mencatat 86 sentuhan bola dengan akurasi umpan 91 persen, tertinggi di antara para pemain senior Maroko lainnya. Reuters menyebut, ia juga menjadi “merkusuar” bagi permainan timnya saat menghadapi tekanan Brasil.

Penampilan Bouaddi bahkan membuat sejumlah pemain senior Brasil kesulitan mengontrol lini tengah. Media-media Eropa memuji agresi pemain Lillie tersebut. Sports Mole memberi perhatian khusus terhadap kemampuannya mengatur tempo permainan, sementara sejumlah pengamat dan komentator menilai Bouaddi tampil jauh lebih matang dan peraya diri dibanding usianya yang masih 18 tahun.

Kisah Bouaddi sendiri menarik. Sebulan sebelum Piala Dunia digelar, ia memutuskan membela Maroko setelah sebelumnya memperkuat berbagai kelompok umur Prancis. Keputusan itu kini mulai menunjukkan hasil menjanjikan. Di laga sebesar melawan Brasil, Bouaddi tampil tanpa rasa gugup dan justru menjadi dinamo permainan negara berseragam dasar merah tersebut.

Di kubu Brasil, hasil ini memunculkan sejumlah reaksi terhadap racikan Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia itu menyadari timnya tampil tidak sesuai ekspektasi, terutama pada babak pertama ketika Maroko mampu mengambil kendali permainan. Ancelotti menilai anak asuhnya perlu memperbaiki keseimbangan lini tengah dan efektivitas serangan jika ingin melangkah lebih jauh dalam turnamen ini.

Meski gagal meraih kemenangan, baik Brasil ataupun Maroko masih memiliki peluang besar untuk lolos dari fase grup. Jika Bouaddi mampu mempertahankan performa seperti ini, bukan tidak mungkin dirinya akan menjadi salah satu “rising star” yang akan banyak dilirik raksasa Eropa. (ezaar)

Naufal

Recent Posts

Pengda JMSI Banyuwangi Resmi Dilantik, Ini Pesan Penting Bupati Ipuk untuk Perusahaan Media

Pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Banyuwangi periode 2026–2031 resmi dikukuhkan di Hotel Santika,…

10 hours ago

Disebut Mirip Zaman Kolonial, Pelibatan TNI-Polri di Sektor Pajak Dipertanyakan

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, mengkritisi wacana pelibatan TNI dan Polri dalam…

11 hours ago

11 Tahun Berkarya Best Western De Papilio Rayakan Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Dalam rangka memperingati Anniversary ke-11 yang mengusung tema Exe11ence – Beyond Expectation, Best Western De…

14 hours ago

Minta Pedagang Bungkam Jika Ada Sidak, Dua Petugas DLH Akui Pungli di Pasar Tumpah Tugu Pahlawan Surabaya

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menindak tegas oknum petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang terbukti…

16 hours ago

Dari Lahan Kosong, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Surabaya Siap Sambut Siswa Baru Awal Agustus

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, melakukan kunjungan lapangan ke Sekolah…

22 hours ago

Gol Sundulan Yuran Bawa Persebaya ke Semifinal Piala Presiden 2026, Tekuk PSMS 1-0

Persebaya Surabaya memastikan langkah ke babak semifinal Piala Presiden 2026 setelah menundukkan PSMS Medan dengan…

23 hours ago

This website uses cookies.