“Saya merasakan betapa senangnya UMKM kalau ada kompetisi yang hidup,” katanya.
Namun demikian, menyelenggarakan kompetisi skala desa tidak murah. Butuh biaya dan perhatian pemerintah agar kompetisi bisa berlangsung.
Di samping para pemuda Sukodono, diskusi itu juga dihadiri pemuda dadi lain desa.
Niko, pemuda asal Gedangan juga urun saran. Dia berharap bahwa lapangan desa juga menjadi perhatian para kepala desa. Misalnya untuk perawatan rumput.
Ketika musim hujan, pemotongan rumput harus dilakukan seminggu dua kali. “Nah, selama ini para pegiat ini yang urunan untuk merawat lapangan,” katanya.
Demi kemajuan potensi sepakbola desa, akan lebih baik apabila kepala desa diarahkan untuk memberi perhatian terhadap kualitas lapangan.
Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan berjanji memperhatikan segenap masukan konstruktif dari pegiat bola di desa itu. “Semuanya masukan positif dan membangun,” katanya.
Sullamul yakin dengan pemikiran pemikiran cemerlang para pemudanya, desa ke depan akan lebih cemerlang dan maju. (red/mt)
Kebun Raya Mangrove Surabaya kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata edukasi.
Video yang beredar di media sosial menuding seorang anak berusia lima tahun ditelantarkan dan dieksploitasi…
Ribuan pesilat menggelar aksi damai menuntut penindakan pelaku penganiayaan anggotanya oleh kelompok penagih utang atau…
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo menggelar rapat paripurna dengan agenda penyampaian Laporan Hasil…
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) mengamankan…
Sebanyak sepuluh ribu anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) direncanakan menggelar aksi damai di Kota…
This website uses cookies.