“Saya merasakan betapa senangnya UMKM kalau ada kompetisi yang hidup,” katanya.
Namun demikian, menyelenggarakan kompetisi skala desa tidak murah. Butuh biaya dan perhatian pemerintah agar kompetisi bisa berlangsung.
Di samping para pemuda Sukodono, diskusi itu juga dihadiri pemuda dadi lain desa.
Niko, pemuda asal Gedangan juga urun saran. Dia berharap bahwa lapangan desa juga menjadi perhatian para kepala desa. Misalnya untuk perawatan rumput.
Ketika musim hujan, pemotongan rumput harus dilakukan seminggu dua kali. “Nah, selama ini para pegiat ini yang urunan untuk merawat lapangan,” katanya.
Demi kemajuan potensi sepakbola desa, akan lebih baik apabila kepala desa diarahkan untuk memberi perhatian terhadap kualitas lapangan.
Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan berjanji memperhatikan segenap masukan konstruktif dari pegiat bola di desa itu. “Semuanya masukan positif dan membangun,” katanya.
Sullamul yakin dengan pemikiran pemikiran cemerlang para pemudanya, desa ke depan akan lebih cemerlang dan maju. (red/mt)
PDinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) kembali menggelar pemeriksaan sekaligus pelayanan tera…
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)…
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa peningkatan layanan dan penertiban…
Kondisi perekonomian nasional yang menjadi sorotan publik, termasuk sejumlah kebijakan yang dinilai kurang berpihak pada…
Sebuah rumah berlantai dua yang beralamat di Jalan Bronggalan Sawah IV-G/88, Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan…
Korea Selatan memulai kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan hasil manis. Sempat tertinggal lebih dahulu,…
This website uses cookies.