Tradisi Toron Jelang Idul Adha: Warga Madura Pulang Kampung, Jembatan Suramadu Padat Merayap

Bersama istrinya, Yudi memilih berangkat pada sore hari demi kenyamanan perjalanan. Ia mengaku tradisi pulang kampung ini selalu dilakukannya setiap tahun menjelang hari raya.

“Kalau perjalanannya 4 jam dari sini ke Pamekasan. Enak sore lebih adem dan gak macet,” ungkap Yudi.

Rencananya, Yudi akan berada di Pamekasan selama tiga hari di kampung halaman. Ada sejumlah agenda yang wajib ia lakukan, mulai dari ziarah ke makam leluhur hingga bersilaturahmi dengan kerabat yang jarang ditemui sehari-hari.

“Paling pulang tiga hari di Pamekasan. Kalau di sana biasanya kumpul-kumpul sama keluarga yang tidak pernah ketemu. Ziarah di makam keluarga juga itu pasti,” terangnya.

Selain itu Bahri, warga Pasuruan yang hendak menuju Sampang. Ia menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor bersama kedua anaknya yang masih kecil. Meski perjalanan cukup menguras tenaga, Bahri mengaku baru beristirahat satu kali saja sejak berangkat tadi siang.

“Ini bertiga sama anak juga dari Pasuruan tadi siang. Baru sekali ini istirahat. Pelan-pelan saja asal selamat karena bawa anak juga,” ujar Bahri.

Bagi Bahri, perjalanan jauh ini adalah bentuk bakti dan kebiasaan yang tidak boleh dilewatkan. Pulang kampung menjadi momen penting untuk bertemu orang tua dan keluarga besarnya.

“Setiap tahun menjelang Idul Adha mesti toron. Karena ada orang tua juga,” jelasnya.

Hingga petang ribuan kendaraan baik roda dua maupun roda empat terus mengalir menyeberangi Jembatan Suramadu. (ahm)

Bersama istrinya, Yudi memilih berangkat pada sore hari demi kenyamanan perjalanan. Ia mengaku tradisi pulang kampung ini selalu dilakukannya setiap tahun menjelang hari raya.

“Kalau perjalanannya 4 jam dari sini ke Pamekasan. Enak sore lebih adem dan gak macet,” ungkap Yudi.

Rencananya, Yudi akan berada di Pamekasan selama tiga hari di kampung halaman. Ada sejumlah agenda yang wajib ia lakukan, mulai dari ziarah ke makam leluhur hingga bersilaturahmi dengan kerabat yang jarang ditemui sehari-hari.

“Paling pulang tiga hari di Pamekasan. Kalau di sana biasanya kumpul-kumpul sama keluarga yang tidak pernah ketemu. Ziarah di makam keluarga juga itu pasti,” terangnya.

Selain itu Bahri, warga Pasuruan yang hendak menuju Sampang. Ia menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda motor bersama kedua anaknya yang masih kecil. Meski perjalanan cukup menguras tenaga, Bahri mengaku baru beristirahat satu kali saja sejak berangkat tadi siang.

“Ini bertiga sama anak juga dari Pasuruan tadi siang. Baru sekali ini istirahat. Pelan-pelan saja asal selamat karena bawa anak juga,” ujar Bahri.

Bagi Bahri, perjalanan jauh ini adalah bentuk bakti dan kebiasaan yang tidak boleh dilewatkan. Pulang kampung menjadi momen penting untuk bertemu orang tua dan keluarga besarnya.

“Setiap tahun menjelang Idul Adha mesti toron. Karena ada orang tua juga,” jelasnya.

Hingga petang ribuan kendaraan baik roda dua maupun roda empat terus mengalir menyeberangi Jembatan Suramadu. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait