Workshop ‘Bijak Bermedia’: Pelajar Diajak Cerdas Saring Informasi di Era Digital

Isnaini mengatakan, teknologi informasi memungkinkan hoaks berkembang sangat cepat. Siapa saja bisa mengonsumsinya dengan mudah. ”Kita jadi sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah,” ungkapnya di hadapan para siswa SMK Pemuda Krian.

Hoaks di TikTok dan WhatsApp

Anggit Satriyo Nugroho mengatakan, hoaks di Indonesia berkembang dengan cepat. Bahkan, data terakhir menunjukkan sebanyak 1.890 berita hoaks disebarkan dalam setahun. Artinya, sebanyak lima berita hoaks diproduksi setiap hari.

”Itu baru yang ketahuan. Banyak beredar yang tidak ketahuan atau terdeteksi sebagai hoaks,” bebernya.

WhatsApp Image 2026-05-08 at 11.15.15
Anggit Satriyo Nugroho SH., MKn berinteraksi dengan peserta workshop. (metrotoday)

Penduduk negara berkembang, lanjut Anggit, banyak terpapar berita hoaks. Mereka gampang percaya karena berita itu memang meyakinkan. ”Padahal kita semua tahu, berita hoaks itu faktanya palsu atau justru tidak ada faktanya sama sekali,” ungkap Anggit.

Jurnalis berpengalaman belasan tahun di media cetak nasional itu mengatakan, berita hoaks biasanya disertai dengan kata-kata ajakan untuk menyebarkan atau bahkan disertai kalimat ajakan kepada kita untuk membacanya. Biasanya ditandai dengan penggunaan huruf kapital. ”SEBARKAN!! atau TIDAK TERUNGKAP MEDIA,” kata Anggit memberikan contoh.

Hoaks efektif menyebar melalui TikTok dan WhatsApp. Algoritma TikTok memang dirancang agar interaksi pengguna lebih cepat. Video pendek di TikTok juga tidak memungkinkan penggunanya untuk melakukan verifikasi lebih mendalam. ”Memang dirancang agar engagement tinggi. Jadi seolah kita menerima saja,” jelasnya.

Isnaini mengatakan, teknologi informasi memungkinkan hoaks berkembang sangat cepat. Siapa saja bisa mengonsumsinya dengan mudah. ”Kita jadi sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah,” ungkapnya di hadapan para siswa SMK Pemuda Krian.

Hoaks di TikTok dan WhatsApp

Anggit Satriyo Nugroho mengatakan, hoaks di Indonesia berkembang dengan cepat. Bahkan, data terakhir menunjukkan sebanyak 1.890 berita hoaks disebarkan dalam setahun. Artinya, sebanyak lima berita hoaks diproduksi setiap hari.

”Itu baru yang ketahuan. Banyak beredar yang tidak ketahuan atau terdeteksi sebagai hoaks,” bebernya.

WhatsApp Image 2026-05-08 at 11.15.15
Anggit Satriyo Nugroho SH., MKn berinteraksi dengan peserta workshop. (metrotoday)

Penduduk negara berkembang, lanjut Anggit, banyak terpapar berita hoaks. Mereka gampang percaya karena berita itu memang meyakinkan. ”Padahal kita semua tahu, berita hoaks itu faktanya palsu atau justru tidak ada faktanya sama sekali,” ungkap Anggit.

Jurnalis berpengalaman belasan tahun di media cetak nasional itu mengatakan, berita hoaks biasanya disertai dengan kata-kata ajakan untuk menyebarkan atau bahkan disertai kalimat ajakan kepada kita untuk membacanya. Biasanya ditandai dengan penggunaan huruf kapital. ”SEBARKAN!! atau TIDAK TERUNGKAP MEDIA,” kata Anggit memberikan contoh.

Hoaks efektif menyebar melalui TikTok dan WhatsApp. Algoritma TikTok memang dirancang agar interaksi pengguna lebih cepat. Video pendek di TikTok juga tidak memungkinkan penggunanya untuk melakukan verifikasi lebih mendalam. ”Memang dirancang agar engagement tinggi. Jadi seolah kita menerima saja,” jelasnya.

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait