Categories: Surabaya Raya

Tahukah Kamu, Mengapa Jalan Aspal di Kampungmu Cepat Rusak? Ini Jawabannya

METROTODAY, SIDOARJO – Hujan yang terus-terusan turun diSidoarjo beberapa hari terakhir ini membuat cerita lama itu kembali muncul. Jalan yang kemarin mulus, hari ini mulai mengelupas. Lubang kecil, esoknya berubah menjadi menganga.

Di banyak tempat, hujan kerap dituding sebagai biang keladi. Padahal, hujan bukan satu-satunya penyebab. Ia hanya mempercepat kerusakan yang sejak awal sudah rapuh.

Air Hujan, Musuh Diam-Diam Aspal

Di jalan-jalan Sidoarjo, aspal ternyata tidak sepenuhnya kebal air. Di permukaannya ada pori-pori kecil, ada retakan halus yang nyaris tak terlihat. Saat hujan turun, air meresap lewat celah-celah itu. Dari situlah masalah bermula.

Nah, air yang masuk pelan-pelan melemahkan daya rekat aspal dan batuannya. Lapisan pondasi di bawah ikut melunak. Di situlah daya dukung jalan turun. Ketika kendaraan melintas —terutama yang berbobot besar— aspal yang sudah “basah dari dalam” tak lagi kuat menahan tekanan. Retak, pecah, lalu lubang terbentuk.

Drainase Buruk, Kerusakan Berlipat Ganda

Kerusakan jalan makin cepat ketika air hujan tak segera mereda. Saluran drainase yang tersumbat membuat air menggenang di atas aspal. Jalan terendam lebih lama, retakan melebar, lubang membesar. Tak heran, lubang jalan paling sering muncul di titik-titik yang saban hari tergenang. Bukan sekali dua kali, tapi berulang setiap musim hujan datang.

Beban Kendaraan Ikut Menekan

Ada faktor lain yang sering luput dari perhatian: beban kendaraan. Jalan yang dirancang untuk kendaraan ringan, nyatanya kerap dilalui truk bertonase berat. Saat kering saja sudah kewalahan, apalagi ketika hujan membuat struktur jalan melemah.

Tekanan berulang dari kendaraan berat membuat retak kecil berubah menjadi lubang besar. Kadang hanya butuh hitungan hari.

Belum lagi jalan kabupaten yang diproyeksikan tidak padat kendaraan. Seiring dengan memadatnya jumlah penduduk, jumlah kendaraan yang melintas turut bertambah. Bahkan, tak jarang memicu kemacetan dengan ekor panjang.

Kualitas Konstruksi Tak Bisa Diabaikan

Soal kualitas pembangunan juga tak bisa ditutup-tutupi. Campuran aspal yang tak ideal, pemadatan kurang sempurna, atau ketebalan di bawah standar membuat jalan jauh lebih rentan. Dalam kondisi seperti itu, hujan hanya menjadi pemantik. Akar masalahnya ada sejak awal.

Tak Sekadar Tambal Sulam

Lalu, apa solusinya? Para ahli sepakat, jalan rusak tak bisa disembuhkan dengan cara instan. Tambal sulam asal-asalan, apalagi saat hujan, justru mempercepat kerusakan berikutnya.

Drainase harus jadi prioritas. Saluran air perlu rutin dibersihkan, kemiringan jalan diarahkan agar air segera mengalir. Retakan kecil seharusnya ditutup sebelum musim hujan datang, bukan dibiarkan hingga menjadi lubang.

Aspal pun perlu disesuaikan dengan kondisi iklim. Daerah bercurah hujan tinggi membutuhkan material yang lebih tahan air dan tetap fleksibel. Murah di awal sering kali mahal di belakang.

Pengawasan kendaraan overload juga tak kalah penting. Timbangan harus berfungsi dan jalan kelas ringan tak boleh dipaksa menanggung beban berlebih. Tanpa itu, perbaikan jalan hanya akan menjadi siklus tanpa ujung. (red/MT)

Naufal

Recent Posts

Buka Puasa, Waspada ‘Glucose Spike’: Balas Dendam yang Berujung Petaka bagi Tubuh

Saat berbuka puasa, meja makan penuh dengan sajian menggoda. Es sirup, gorengan, hingga kolak manis…

1 hour ago

Makam Aulia Sono (4-Habis): Asal Usul Kitab Tashrifan Sono dan Ponpes Ummul Ulum

Keunggulan dalam tarbiyah ilmu shorof ini pula yang membedakan Pondok Sono dari pondok-pondok lain, sekaligus…

7 hours ago

Trauma Pasca Bencana Aceh Masih Terasa, Unair Ajak Warga Bangkit Lewat Pendampingan

Bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir 2025 lalu masih menyisakan luka mendalam bagi korban terdampak…

8 hours ago

Kekalahan Kedua Beruntun Persebaya Surabaya, Tumbang 3-1 dari Persijap Jepara

Persebaya Surabaya kembali mengalami kekalahan setelah sebelumnya dikalahkan Bhayangkara Presisi di kandang. Pada lanjutan pekan…

8 hours ago

Separo SPPG di Surabaya Belum Punya Sertifikat Higiene Sanitasi

Melalui Satuan Tugas (Satgas) Pelaksanaan MBG, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar koordinasi monitoring dan evaluasi…

15 hours ago

Pemkot Surabaya Targetkan DTSEN Rampung 31 Maret, Hadapi Tantangan di Cluster Premium

Pemkot Surabaya tengah mempercepat penyelesaian pendataan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan target menuntaskan…

19 hours ago

This website uses cookies.