Ilustrasi pemulung di TPS. (Foto: Istimewa/waste4change)
METROTODAY, SURABAYA – Harga plastik yang mengalami kenaikan imbas konflik di Timur Tengah membuat para pemulung di Surabaya kini mencari sampah plastik di sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS). Akibatnya, pemkot pun melakukan penertiban pemulung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M Fikser, menjelaskan bahwa meski harga plastik mengalami kenaikan, hal tersebut belum berdampak pada penurunan volume sampah plastik yang masuk ke TPS.
Sebaliknya, kondisi ekonomi ini mendorong para pemulung untuk beraktivitas lebih padat di lokasi penampungan.
“Masih banyak sampah plastik yang kami temukan di lapangan. Kemudian juga mungkin sekarang karena (harga plastik) naik ya, akhirnya juga pemulung memanfaatkan harga itu untuk memilah-milah di TPS,” ungkap Fikser, Minggu (12/4).
Menurutnya, keberadaan pemulung di area TPS mengganggu proses operasional pengangkutan sampah. Selain itu, aktivitas pemilahan yang dilakukan di lokasi juga membuat ruang penampungan menjadi terbatas dan tidak efektif.
“Ini yang kami halau, tetapi tidak ada pengurangan (volume sampah) plastik di TPS-TPS. Masih tetap seperti biasa yang kami lihat beberapa hari ini,” ungkapnya.
Fikser juga menambahkan bahwa hingga saat ini kenaikan harga plastik belum mengubah perilaku masyarakat dalam penggunaan bahan elastis tersebut.
Konsumsi kantong plastik atas tas kresek masih terbilang tinggi, terutama dari aktivitas belanja di berbagai toko. “Saat ini belum terdampak ya, karena memang masih saja orang belanja menggunakan plastik,” ujarnya.
Masalah utama yang menjadi perhatian adalah keterbatasan lahan. Aktivitas pemilahan yang dilakukan di dalam area TPS membuat ruang gerak menjadi sempit, sehingga kapasitas tampung sampah berkurang drastis.
“Justru banyak pemulung memilah sampah plastik yang banyak saat ini. Itu yang kemudian kita tertibkan di TPS karena mengganggu TPS dari aktivitas pengambilan sampah,” tuturnya.
Kondisi ini berimbas pada sampah yang tidak tertampung dengan baik dan akhirnya meluber hingga ke badan jalan, yang tentu saja mengganggu kebersihan dan estetika kota.
“Nah, banyaknya pemilah sampah atau pemulung sampah plastik di TPS ini juga berakibat pada ruang atau luasan TPS menjadi berkurang. Nah, berakibatkan apa? Berakibatnya adalah seluruh sampah itu keluar, meluber dari dalam TPS keluar sampai ke jalan-jalan,” katanya.
Oleh karena itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, telah menginstruksikan agar dilakukan penertiban menyeluruh untuk memastikan seluruh TPS tetap tertata rapi dan berfungsi optimal.
“Ini yang kemudian kita diperintahkan oleh Pak Wali Kota (Eri Cahyadi) untuk menertibkan dan merapikan seluruh TPS,” pungkasnya. (ahm)
Kemajuan teknologi membuka akses luas bagi perempuan untuk berkarya, bersuara, dan membangun jejaring di ruang…
Dalam upaya menciptakan lingkungan perjalanan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun…
Uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Surabaya yang berlangsung sejak 22 hingga 28…
Melawan arus kebiasaan umum yang masih lekat dengan penggunaan kantong plastik, sekolah ini menerapkan konsep…
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mendorong Jaringan Media Siber Indonesia…
Komitmen PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (Tjiwi Kimia) dalam pengembangan bisnis sekaligus berkontribusi pada…
This website uses cookies.