Distributor LPG di Jatim diminta mengantisipasi kelangkaan dampak konflik timur tengah. (Foto: istimewa)
METROTODAY, SURABAYA – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai membayangi stabilitas ekonomi nasional.
Tersendatnya pasokan minyak dunia memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.
Menyikapi situasi global tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bergerak cepat melakukan langkah mitigasi.
Pada Senin (6/4), Pemprov Jatim secara resmi meluncurkan gerakan hemat energi sekaligus memetakan potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino guna menjaga status Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga untuk memastikan stok energi tetap aman.
Fokus utama saat ini bukanlah pembatasan, melainkan penyesuaian distribusi BBM dan LPG 3 kilogram agar tepat sasaran.
“Kita pastikan para Pedagang Kaki Lima (PKL) terdaftar di pangkalan-pangkalan resmi. Ini penting agar data lebih detail dan menghindari gejolak harga secara psikologis di masyarakat,” ujar Khofifah, Senin (6/4).
Selain itu, Pemprov Jatim juga menggalakkan gerakan hemat energi yang dimulai secara serentak sejak Senin.
Di sisi lain, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino juga menjadi fokus utama. Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Mei hingga Agustus 2026.
Untuk mempertahankan produktivitas pertanian, Pemprov Jatim telah menyiapkan sejumlah langkah strategis pemetaan detail dengan melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan hingga level desa, bukan lagi sekadar tingkat kabupaten/kota.
Selain itu juga dengan melakukan modifikasi cuaca dengan bekerja sama dengan BNPB dan BMKG untuk mengelola potensi awan menjadi sumber air melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Khofifah mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan efisiensi energi secara mandiri di rumah tangga masing-masing.
“Kemarin kita gunakan manajemen hidrometeorologi untuk mengelola hujan, nanti kita gunakan untuk me-manage awan agar menjadi sumber air. Ini semua agar lumbung pangan kita tetap terjaga meski El Nino lebih panjang,” tutur Khofifah.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama agar Jawa Timur mampu bertahan di tengah guncangan krisis global dan tantangan iklim yang terjadi saat ini. (ahm)
Sterilisasi gratis bagi kucing lokal disiapkan khusus untuk warga Surabaya dengan kuota terbatas sebanyak 100…
Rencana perbaikan dan renovasi terhadap 10.000 Puskesmas di seluruh Indonesia kini sedang dalam tahap penyusunan…
Indonesian Super League 2025/2026 resmi berakhir. Persib Bandung berpesta dengan menjadi juara tiga kali secara…
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus mematangkan rencana pembangunan Flyover Gedangan sebagai solusi kemacetan di jalur utama…
Dalam rangka memeriahkan HJKS ke-733, Pemkot Surabaya menggelar tradisi Ruwatan Kota di Halaman Tugu Pahlawan,…
Nama Bojan Hodak kini layak disebut sebagai pelatih paling sukses dalam sejarah Persib Bandung, bahkan…
This website uses cookies.