METROTODAY, SURABAYA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof Dr Abdul Mu’ti, M.Ed hadir pada pengajian Ramadan Universitas Airlangga (Unair), Jumat (6/3).
Kegiatan yang digelar di Aula Garuda Mukti, Gedung Manajemen, Kampus MERR-C Unair, ini dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, serta civitas academica kampus.
Prof Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Ramadan merupakan bulan literasi dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia.
Menurutnya, berbagai tradisi keagamaan yang berkembang selama bulan suci tersebut menunjukkan bagaimana agama mampu melahirkan budaya yang khas di tengah masyarakat.
“Ramadan di Indonesia bisa disebut sebagai bulan literasi karena banyak kegiatan dakwah dan pengajian agama yang memperkaya pemahaman masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di Indonesia memiliki berbagai praktik keagamaan yang tidak selalu ada di negara lain. Tradisi seperti kuliah tujuh menit (kultum) dan tadarus menjadi contoh bagaimana nilai-nilai agama berkembang menjadi budaya sosial di tengah masyarakat.
Ia juga membahas fenomena vernakularisasi agama, yaitu proses ketika ajaran agama hadir dalam bentuk budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Praktik seperti buka puasa bersama maupun halal bihalal menjadi contoh, yang membuat nilai-nilai agama lebih universal dan mudah diterima berbagai kalangan.
Selain itu, Prof Mu’ti mengingatkan bahwa umat Islam memaknai Ramadan sebagai syahrul Qur’an, bulan ketika Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia, tradisi membaca Al-Qur’an selama Ramadan sangat kuat, bahkan banyak yang menargetkan khatam melalui pendekatan one day one juz.
Namun, menurutnya, membaca saja belum cukup apabila tidak disertai pemahaman terhadap makna ayat-ayatnya. Ia menyoroti kecenderungan mistifikasi Al-Qur’an, yaitu ketika umat memperlakukan ayat-ayatnya secara magis atau sekadar sebagai jimat.
Menurutnya, hal tersebut dapat mengaburkan fungsi utama Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Sebagai alternatif, ia mengajak umat untuk melakukan objektifikasi Al-Qur’an melalui tadabbur.
“Kita tidak boleh berhenti hanya pada membaca. Kita perlu berdialog dengan Al-Qur’an melalui tadabbur agar pesan-pesannya benar-benar menancap di hati dan menggerakkan tindakan,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor Unair Prof Dr Muhammad Madyan, SE MSi MFin menyampaikan bahwa bulan Ramadan bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan ruang pendidikan rohani yang membentuk kesadaran, kedisiplinan, dan integritas diri.
Unair Wakili Indonesia di ASEAN+3 Youth Cultural Forum, Tampilkan Pesona Budaya Indonesia
“Di bulan yang mulia ini, kita diajak untuk memperkuat hubungan kita dengan Allah, sekaligus memperdalam kepedulian sosial dan tanggung jawab kemanusiaan,” ungkapnya.
Prof Madyan menjelaskan bahwa Unair memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter dan nilai-nilai moral sivitas akademika. Ilmu yang unggul harus berjalan beriringan dengan akhlak yang luhur, dan kemajuan akademik harus ditopang oleh kedalaman spiritual.
“Kita berharap tercipta ruang refleksi bersama. Ruang untuk menata kembali niat, memperbaiki kualitas diri, serta memperkuat komitmen kita sebagai insan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual,” paparnya.
Guru Besar FEB Unair itu berharap, kehadiran dan pemikiran Prof Dr Abdul Mu’ti dapat memperkaya wawasan keislaman, memperteguh nilai kebangsaan, serta menginspirasi dalam mengabdi melalui dunia pendidikan.
“Semoga apa yang disampaikan pada hari ini menjadi cahaya yang menerangi langkah kita, tidak hanya selama Ramadhan, tetapi juga dalam perjalanan panjang pengabdian kita ke depan,” harapnya.
Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan civitas academica Unair, mulai dari Ketua Senat Akademik, Wakil Rektor, Dekan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. (ahm)


