4 April 2026, 20:33 PM WIB

Mahasiswa Disabilitas Tuli Tadarus Al-Quran dengan Bahasa Isyarat di Unesa

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Kegiatan mengaji atau tadarus Al-Quran selama bulan suci Ramadan bukan hanya dilakukan oleh masyarakat umum, melainkan juga oleh mahasiswa disabilitas.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan tadarus dengan bahasa isyarat di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang.

Peserta dari berbagai jurusan tampak khuuk mengikuti pembelajaran menggunakan gerak isyarat tangan dengan metode iqra untuk mempermudah pengenalan huruf Al-Qur’an.

Program yang digagas sejak 2024 dan berjalan efektif mulai tahun lalu ini diikuti sekitar 30 pendaftar pada tahun ini. Mayoritas peserta adalah mahasiswa tuli Unesa. Namun kelas ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin bergabung.

Kegiatan ini digerakkan oleh Komunitas Tuli Unesa dengan pengajar dari mahasiswa tingkat akhir yang telah tersertifikasi dalam penguasaan bahasa isyarat Al-Quran.

Muhammad Fadilah, pengajar sekaligus penggagas acara, menjelaskan tentang penyederhanaan materi pembelajaran. “Mengaji untuk disabilitas tuli bahasanya lebih disederhanakan, sebab belum paham bahasa yang rumit. Kalau teman-teman tuli hadir ke pengajian, harus merubah bahasa menjadi lebih sederhana,” ucapnya pada Selasa (3/3).

Ia juga mengungkapkan motivasi dalam mengajar untuk mendapatkan pahala, karena para penyandang disabilitas memiliki hak untuk mengenal Tuhan.

WhatsApp Image 2026-03-03 at 15.29.27 (1)
Para mahasiswa saat tadarus Al-Quran dengan bahasa isyarat di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang Unesa selama Ramadan. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Visi saya mengajar ngaji adalah mendapatkan pahala untuk mengajar anak-anak disabilitas tuli sangat banyak sekali. Jadi mengajar dengan ikhlas, saya berharap teman-teman di sini punya hak untuk mengenal Tuhan lebih dekat dan saya menjadi jembatan untuk belajar,” tambahnya.

Kegiatan mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat ini dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Metode iqra digunakan agar peserta lebih memahami huruf sebelum beranjak ke Al-Quran.

“Kita menggunakan metode iqra karena sebelum  membaca Alquran pemahaman mereka masih minim. Tahap awal kita belajar iqra, setelah itu kita lanjutkan ke Al-Qur’an isyarat,” tegas Fadilah.

Kasubdit PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, menyatakan program ini bertujuan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, mengaji bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya meningkatkan ketakwaan dan spiritual mahasiswa disabilitas secara setara.

“Kami ingin memastikan Ramadan dapat dijalani secara setara dan bermakna. Bagi orang pada umumnya mungkin mengaji itu sederhana, tetapi bagi teman-teman disabilitas ini adalah bentuk ibadah sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan spiritual,” harapnya.

Metode pembelajaran dirancang secara adaptif dengan pendekatan visual dan gestural. Berbeda dengan TPQ konvensional yang menggunakan metode oral, kelas ini menitikberatkan pada visualisasi gerakan tangan yang merepresentasikan huruf hijaiyah.

Pengajar juga mengombinasikan standar bahasa isyarat Arab dengan penyesuaian konteks Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar lebih mudah dipahami. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Kegiatan mengaji atau tadarus Al-Quran selama bulan suci Ramadan bukan hanya dilakukan oleh masyarakat umum, melainkan juga oleh mahasiswa disabilitas.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan tadarus dengan bahasa isyarat di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang.

Peserta dari berbagai jurusan tampak khuuk mengikuti pembelajaran menggunakan gerak isyarat tangan dengan metode iqra untuk mempermudah pengenalan huruf Al-Qur’an.

Program yang digagas sejak 2024 dan berjalan efektif mulai tahun lalu ini diikuti sekitar 30 pendaftar pada tahun ini. Mayoritas peserta adalah mahasiswa tuli Unesa. Namun kelas ini juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin bergabung.

Kegiatan ini digerakkan oleh Komunitas Tuli Unesa dengan pengajar dari mahasiswa tingkat akhir yang telah tersertifikasi dalam penguasaan bahasa isyarat Al-Quran.

Muhammad Fadilah, pengajar sekaligus penggagas acara, menjelaskan tentang penyederhanaan materi pembelajaran. “Mengaji untuk disabilitas tuli bahasanya lebih disederhanakan, sebab belum paham bahasa yang rumit. Kalau teman-teman tuli hadir ke pengajian, harus merubah bahasa menjadi lebih sederhana,” ucapnya pada Selasa (3/3).

Ia juga mengungkapkan motivasi dalam mengajar untuk mendapatkan pahala, karena para penyandang disabilitas memiliki hak untuk mengenal Tuhan.

WhatsApp Image 2026-03-03 at 15.29.27 (1)
Para mahasiswa saat tadarus Al-Quran dengan bahasa isyarat di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang Unesa selama Ramadan. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Visi saya mengajar ngaji adalah mendapatkan pahala untuk mengajar anak-anak disabilitas tuli sangat banyak sekali. Jadi mengajar dengan ikhlas, saya berharap teman-teman di sini punya hak untuk mengenal Tuhan lebih dekat dan saya menjadi jembatan untuk belajar,” tambahnya.

Kegiatan mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat ini dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Metode iqra digunakan agar peserta lebih memahami huruf sebelum beranjak ke Al-Quran.

“Kita menggunakan metode iqra karena sebelum  membaca Alquran pemahaman mereka masih minim. Tahap awal kita belajar iqra, setelah itu kita lanjutkan ke Al-Qur’an isyarat,” tegas Fadilah.

Kasubdit PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, menyatakan program ini bertujuan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, mengaji bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya meningkatkan ketakwaan dan spiritual mahasiswa disabilitas secara setara.

“Kami ingin memastikan Ramadan dapat dijalani secara setara dan bermakna. Bagi orang pada umumnya mungkin mengaji itu sederhana, tetapi bagi teman-teman disabilitas ini adalah bentuk ibadah sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan spiritual,” harapnya.

Metode pembelajaran dirancang secara adaptif dengan pendekatan visual dan gestural. Berbeda dengan TPQ konvensional yang menggunakan metode oral, kelas ini menitikberatkan pada visualisasi gerakan tangan yang merepresentasikan huruf hijaiyah.

Pengajar juga mengombinasikan standar bahasa isyarat Arab dengan penyesuaian konteks Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar lebih mudah dipahami. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait