METROTODAY, SURABAYA – Dunia internasional kembali dihebohkan dengan merebaknya kasus infeksi Hantavirus yang menyerang sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius.
Kapal yang berlayar dari Argentina tersebut menjadi sorotan dunia setelah banyak penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut yang parah.
Hingga tanggal 4 Mei 2026, tercatat sudah ada tujuh penumpang yang teridentifikasi terpapar virus dengan berbagai tingkat keparahan, mulai dari gejala ringan, kondisi kritis, hingga berujung pada kematian.
Di Indonesia sendiri, keberadaan virus ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Tercatat sudah ada sebanyak 23 kasus infeksi pada manusia yang teridentifikasi dan dilaporkan sejak tahun 2024 lalu.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius kembali mengingat risiko penyakit menular dari hewan ke manusia atau penyakit zoonosis yang terus meningkat.
Spesialis Penyakit Dalam, dr. Zulistian Nurul Hidayati, Sp.PD, menjelaskan bahwa Hantavirus memiliki karakteristik penularan yang cukup unik namun sangat berisiko bagi kesehatan manusia.
Menurutnya, virus ini tidak menular antarmanusia, melainkan bersumber dari hewan pengerat seperti tikus.
“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel halus yang mengandung virus dari kotoran tikus, dan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat pembawa virus tersebut,” ungkapnya, Rabu (13/5).
METROTODAY, SURABAYA – Dunia internasional kembali dihebohkan dengan merebaknya kasus infeksi Hantavirus yang menyerang sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius.
Kapal yang berlayar dari Argentina tersebut menjadi sorotan dunia setelah banyak penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akut yang parah.
Hingga tanggal 4 Mei 2026, tercatat sudah ada tujuh penumpang yang teridentifikasi terpapar virus dengan berbagai tingkat keparahan, mulai dari gejala ringan, kondisi kritis, hingga berujung pada kematian.
Di Indonesia sendiri, keberadaan virus ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Tercatat sudah ada sebanyak 23 kasus infeksi pada manusia yang teridentifikasi dan dilaporkan sejak tahun 2024 lalu.
Kondisi ini seharusnya menjadi perhatian serius kembali mengingat risiko penyakit menular dari hewan ke manusia atau penyakit zoonosis yang terus meningkat.
Spesialis Penyakit Dalam, dr. Zulistian Nurul Hidayati, Sp.PD, menjelaskan bahwa Hantavirus memiliki karakteristik penularan yang cukup unik namun sangat berisiko bagi kesehatan manusia.
Menurutnya, virus ini tidak menular antarmanusia, melainkan bersumber dari hewan pengerat seperti tikus.
“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel halus yang mengandung virus dari kotoran tikus, dan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat pembawa virus tersebut,” ungkapnya, Rabu (13/5).