METROTODAY, SURABAYA – Menjelang kedatangan jemaah haji Debarkasi Surabaya dari Tanah Suci yang dijadwalkan mendarat Senin (1/6) malam, persiapan matang telah disiapkan PPIH Debarkasi Surabaya, terutama dalam aspek kesehatan.
Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya telah membentuk tim medis khusus yang bertugas mengawal jemaah sejak pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda hingga tiba di Asrama Haji Surabaya.
Langkah ini diambil demi menjamin kepulangan berjalan aman, sehat, serta mencegah masuknya penyakit menular seperti hantavirus dan ebola ke dalam negeri.
Kepala BBKK Surabaya sekaligus Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, menjelaskan bahwa skrining kesehatan sudah dimulai sejak dari pintu pesawat.
Begitu pesawat mendarat dan sebelum jemaah turun, tim medis langsung masuk ke kabin.
“Saat tiba di bandara, jemaah akan dikawal oleh tim kesehatan. Tim ini siap memberikan pertolongan pertama jika ada jemaah yang sakit selama penerbangan atau membutuhkan pertolongan darurat,” ungkap Rosidi, Minggu (31/5).
Tim medis yang diterbangkan ke dalam pesawat terdiri dari satu dokter dan satu perawat untuk menangani kondisi klinis, serta satu tenaga sanitarian yang memeriksa kelayakan sanitasi kabin guna menjamin kebersihan dan keamanan lingkungan penerbangan.
Jika ditemukan kasus gawat darurat yang butuh penanganan lebih lanjut, jemaah akan langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Jika ditemukan kasus gawat darurat, jemaah akan dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Setibanya di Asrama Haji Surabaya, pemeriksaan kesehatan akan diperketat kembali.
Di Gedung Muzdalifah dan Mina, seluruh jemaah akan diperiksa menggunakan thermal scanner serta pengamatan visual gejala klinis guna mendeteksi potensi penyakit menular.
“Jika ditemukan gejala mencurigakan, pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk memastikan jenis penyakit atau virus yang diderita,” tegas Rosidi.
Ia menyebutkan sejumlah penyakit yang patut diwaspadai, antara lain flu, meningitis, virus nipah, hantavirus, hingga ebola.
“Prinsipnya penyakit infeksi emerging seperti flu, meningitis, nipah, hantavirus dan ebola,” tuturnya.
Apabila hasil pemeriksaan awal mengindikasikan hal yang mencurigakan, tes usap atau swab akan langsung dilakukan di lokasi.
Sementara untuk karantina kesehatan, jika dinilai perlu, pelaksanaannya akan dilakukan di wilayah asal masing-masing jemaah, dan pihaknya akan berkoordinasi serta memberikan notifikasi resmi kepada dinas kesehatan daerah terkait.
Selain itu, BBKK Surabaya juga menyiagakan Poliklinik di Asrama Haji yang beroperasi 24 jam untuk melayani jemaah maupun petugas.
Rosidi juga menghimbau seluruh jemaah wajib mengisi formulir pernyataan kondisi kesehatan sebagai alat deteksi dini krusial mencegah penyebaran penyakit.
“Kami mengimbau kewajiban pelaku perjalanan luar negeri yakni jemaah haji untuk deteksi penyakit menular yang dilakukan sebenarnya sama dengan kegiatan kami di pintu masuk negara pada umumnya, yaitu melalui thermal scanner dan pengawasan visual gejala klinis,” imbuhnya.
Sebanyak 10 unit ambulans ditempatkan di Bandara Juanda, Asrama Haji, serta sebagai cadangan di kantor induk.
“Tim medis yang disiapkan saat debarkasi berjumlah sekitar 85 orang, termasuk nakes dan tenaga pendukung. Kami juga mendapat bantuan dari mitra-mitra kami,” ungkap Rosidi.
Sementara itu, tercatat sebanyak 22 jemaah haji asal Jawa Timur wafat di Tanah Suci, angka ini jauh lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai 45 orang.
Rinciannya: Kabupaten Pasuruan 4 orang, Kota Malang 2 orang, Lamongan 2 orang, Bojonegoro 2 orang, Tulungagung 2 orang, Kabupaten Malang 2 orang, serta masing-masing 1 orang dari Gresik, Jombang, Kabupaten Probolinggo, Sidoarjo, Jember, Magetan, dan Lumajang.
Kedatangan jemaah haji Debarkasi Surabaya dimulai dari Kloter 1 asal Kabupaten Probolinggo yang akan mendarat pukul 20.25 WIB, dilanjutkan Kloter 2 pukul 21.20 WIB, Kloter 3 pukul 22.20 WIB, dan Kloter 4 pukul 23.20 WIB. (ahm)

