Selain aspek pelayanan umum, Wamenhaj menegaskan bahwa pihaknya menerapkan standar yang sangat ketat terkait penilaian kemampuan atau istitaah kesehatan jemaah.
Langkah ini diambil demi menjaga keselamatan jemaah mengingat aktivitas ibadah haji yang cukup berat dan menuntut fisik yang prima.
Hingga saat ini, tercatat sudah ada lebih dari delapan calon jemaah yang terpaksa dibatalkan keberangkatannya karena dinilai tidak memenuhi syarat kesehatan atau tidak laik terbang.
Kasus yang ditemukan antara lain penderita demensia dan ibu hamil. Mereka yang dibatalkan keberangkatannya nanti akan dipertimbangkan kembali untuk diberangkatkan pada tahun depan.
“Memang tahun ini kita ketat sekali terkait istitaah kesehatan. Sampai dengan hari ini ada delapan lebih yang tidak diberangkatkan karena kesehatan. Ada yang dinilai tidak layak terbang, misalnya penderita demensia. Ada dua kasus demensia, ada juga ibu hamil yang keberangkatannya dibatalkan. Nanti mereka bisa dipertimbangkan kembali untuk berangkat pada tahun depan,” ungkapnya.
Ketatnya pengawasan kesehatan ini sejalan dengan target utama pemerintah untuk menekan angka kematian seminimal mungkin, bahkan menuju angka nol atau zero kematian.
Dahnil memastikan bahwa upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan dan pengawasan kesehatan ini mulai membuahkan hasil nyata.
Ia membandingkan data hingga tanggal yang sama dengan tahun lalu, di mana angka kematian jemaah tahun ini mengalami penurunan drastis.
“Untuk kesehatan kita akan sangat ketat karena kita memang targetnya mengurangi, bahkan kalau bisa mencapai zero kematian. Tapi sampai dengan hari ini, yang meninggal sudah sekitar 24 orang. Angka ini turun relatif signifikan dibanding tahun lalu. Di tahun lalu, di tanggal yang sama jumlahnya bisa mencapai 50-an orang. Jadi target kami tahun ini angka kematian harus menurun signifikan, semuanya sehat saat berangkat dan bisa kembali pulang dalam keadaan sehat juga,” tegasnya.
Selain aspek pelayanan umum, Wamenhaj menegaskan bahwa pihaknya menerapkan standar yang sangat ketat terkait penilaian kemampuan atau istitaah kesehatan jemaah.
Langkah ini diambil demi menjaga keselamatan jemaah mengingat aktivitas ibadah haji yang cukup berat dan menuntut fisik yang prima.
Hingga saat ini, tercatat sudah ada lebih dari delapan calon jemaah yang terpaksa dibatalkan keberangkatannya karena dinilai tidak memenuhi syarat kesehatan atau tidak laik terbang.
Kasus yang ditemukan antara lain penderita demensia dan ibu hamil. Mereka yang dibatalkan keberangkatannya nanti akan dipertimbangkan kembali untuk diberangkatkan pada tahun depan.
“Memang tahun ini kita ketat sekali terkait istitaah kesehatan. Sampai dengan hari ini ada delapan lebih yang tidak diberangkatkan karena kesehatan. Ada yang dinilai tidak layak terbang, misalnya penderita demensia. Ada dua kasus demensia, ada juga ibu hamil yang keberangkatannya dibatalkan. Nanti mereka bisa dipertimbangkan kembali untuk berangkat pada tahun depan,” ungkapnya.
Ketatnya pengawasan kesehatan ini sejalan dengan target utama pemerintah untuk menekan angka kematian seminimal mungkin, bahkan menuju angka nol atau zero kematian.
Dahnil memastikan bahwa upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan dan pengawasan kesehatan ini mulai membuahkan hasil nyata.
Ia membandingkan data hingga tanggal yang sama dengan tahun lalu, di mana angka kematian jemaah tahun ini mengalami penurunan drastis.
“Untuk kesehatan kita akan sangat ketat karena kita memang targetnya mengurangi, bahkan kalau bisa mencapai zero kematian. Tapi sampai dengan hari ini, yang meninggal sudah sekitar 24 orang. Angka ini turun relatif signifikan dibanding tahun lalu. Di tahun lalu, di tanggal yang sama jumlahnya bisa mencapai 50-an orang. Jadi target kami tahun ini angka kematian harus menurun signifikan, semuanya sehat saat berangkat dan bisa kembali pulang dalam keadaan sehat juga,” tegasnya.