METROTODAY,ID, LONDON– Fanatisme publik Inggris terhadap gelandang Real Madrid dan Timnas Inggris, Jude Bellingham, kini mencapai level yang tak biasa. Di tengah euforia perjalanan The Three Lions (julukan Inggris), puluhan penggemar berkumpul di kawasan Shoreditch, London Timur, bukan untuk menyaksikan latihan timnas atau berburu tanda tangan sang idola, melainkan mengikuti kompetisi mencari orang yang paling mirip Jude Bellingham. Acara yang berlangsung saat laga Inggris kontra Argentina itu langsung menyedot perhatian warga, kreator konten, hingga media setempat.
Fenomena tersebut menjadi bukti bagaimana sosok Bellingham telah menjelma menjadi ikon baru sepak bola Inggris. Penampilannya yang konsisten sepanjang turnamen, ditambah karisma di dalam maupun luar lapangan, membuat banyak penggemar menjadikannya simbol harapan baru sepak bola Negeri Ratu Elizabeth (sebutan Inggris). Media lokal London sebagaimana yang dikutip oleh The Guardian menggambarkan suasana lomba itu layaknya festival dadakan yang dipenuhi nyanyian “One Jude Bellingham, there’s only one Jude Bellingham”, meski ironisnya hari itu justru ada belasan kembaran berkumpul di satu tempat.
Sekitar selusin peserta mencoba meniru penampilan sang bintang Real Madrid. Ada yang datang dengan potongan rambut khas Bellingham, ada pula yang mengenakan jersey Timnas Inggris lengkap dengan gestur selebrasinya. Salah seorang peserta, Zane Proctor, mengaku mengikuti lomba bukan semata karena wajahnya dianggap mirip, melainkan karena mengidolakan kepribadian Bellingham yang dinilainya tetap berkharisma meski kerap menjadi sasaran kritik. Menurutnya, gelandang Real Madrid tersebut merupakan teladan bagi generasi muda Inggris.
Setelah mendapat sorakan dan penilaian dari penonton, gelar pemenang akhirnya jatuh kepada Marcus Legemah, mahasiswa program magister di University College London (UCL) yang berusia 24 tahun. Wajahnya dianggap memiliki kemiripan paling kuat dengan Bellingham dibanding peserta lain, sehingga berhak menyandang predikat “Jude paling Jude” pada hari itu.
Alih-alih membawa pulang trofi mewah, Marcus menerima hadiah yang tak kalah unik, yakni voucher Deliveroo senilai 1.966 poundsterling (sekitar Rp47 juta). Nominal itu bukan dipilih secara acak, melainkan sebagai simbol tahun 1966, momen terakhir Inggris menjuarai Piala Dunia. Panitia sengaja memilih angka tersebut sebagai bentuk doa terhadap pasukan Tiga Singa yang masih berjuang di Negeri Paman Sam (julukan Amerika Serikat).
Usai diumumkan sebagai juara, Marcus menyampaikan pernyataan yang mengundang tawa para penonton. Ia mengaku memang sering disebut mirip Bellingham, tetapi biasanya hanya ketika bertemu orang-orang yang sedang mabuk di pub.
“Ya, saya memang sering dibilang mirip Jude, tapi biasanya oleh orang-orang mabuk di pub. Sejak Jude tampil luar biasa di turnamen ini, komentar seperti itu jadi jauh lebih sering saya dengar,” ujarnya, seperti yang ditulis oleh Onefootball.
Ketika ditanya apa kesamaan terbesar antara dirinya dan sang bintang Real Madrid, Marcus menjawab dengan rendah hati. “Sayangnya, selain wajah saya rasa tidak banyak yang sama.”
Meski begitu, ia mengaku kemenangan tersebut berarti banyak baginya. Voucher yang didapat, katanya, akan dipakai untuk mentraktir teman-temannya menikmati pizza dan bir sambil menyaksikan laga perebutan juara ketiga.
Ia pun menutup pernyataannya dengan optimisme khas suporter Inggris, “Saya yakin kami akan mendapatkannya. Harus percaya diri. It’s coming home.”
Fenomena lomba kembaran Bellingham menegaskan besarnya pengaruh pemain berusia 23 tahun itu di Inggris.
Dari sekadar gelandang andalan di lapangan, Bellingham kini telah menjadi idola banyak penggemar sepak bola yang mampu menyatukan ribuan orang dalam sebuah acara sederhana namun penuh gelak tawa. (Ezaar)

