Dari total 62 kali percobaan tembakan yang mereka coba, hanya 13 yang benar-benar tepat sasaran. Ironisnya, dari sekian peluang emas tersebut, jumlah gol yang berhasil disarangkan tetap tertahan di angka 0 alias nihil.
Lebih mirisinya lagi, Turki sejatinya menyandang status mentereng sebagai tim dengan nilai pasar paling mahal di Grup D. Skuad mewah bertabur bintang dan legion Eropa milik Turki ini ditaksir dengan harga selangit yang jauh melampaui Amerika Serikat, Paraguay, apalagi Australia.
Namun, di atas panggung megah Piala Dunia 2026, tumpukan angka ratusan juta euro tersebut mendadak kehilangan tajinya, membuktikan bahwa label harga di atas kertas Transfermarkt sama sekali tidak punya kesaktian jika para pemainnya sudah terjangkit penyakit demam panggung yang akut.
“Kami memegang kendali penuh atas ritme permainan, tetapi kami kehilangan magis dan keberanian di sepertiga akhir lapangan,” sebut Vincenzo Montella dengan wajah galau saat menghadiri sesi konferensi pers.
Kombinasi taktik penguasaan bola dan catenaccio gaya Italia yang diusung Montella terbukti menjadi boomerang yang membosankan. Aliran bola horizontal yang lambat dan tanpa struktur penetrasi jelas membuat lini serang Turki terjebak dalam labirin kreasi mereka sendiri.
Tanpa kehadiran penyerang bertipe target man yang klinis dan berdarah dingin, ribuan umpan pendek Turki tak lebih dari sekadar tontonan estetik tak bermotif dan sama sekali tidak menakutkan bagi bek-bek lawan yang berpostur tinggi kekar, kritik L’Equipe.
Keguguran premature Turki hari ini langsung memicu gelombang turbulensi di dalam negeri, di mana media-media lokal Turki melabeli skuad saat ini sebagai Generasi Paling Lembek.
Selanjutnya banyak komentar pedas tertuju kepada sang arsitek. Netizen Turki dan internasional menyoroti taktik Vincenzo Montella yang mengandalkan umpan silang sama sekali tidak akan berjalan apabila sang pelatih terus memasang Karem Akturkoglu sebagai penyerang tengahnya.
Menurut database Sofascore, penyerang Fenerbahce itu hanya bertinggi badan 173 cm, tergolong pendek dan tentu akan kalah duel udara apabila diadu dengan bek Australia dan Paraguay yang notabene bertinggi badan 10-20 cm lebih menjulang.
Selain itu, kritik pedas dan menohok juga dilontarkan oleh mantan bek Liverpool yang kini menjadi analis utama di Sky Sports, Jamie Carragher.
“Turki datang ke turnamen ini dengan reputasi besar dan wah, namun mereka bermain seperti sekumpulan bocah berbakat yang mendadak ciut dan demam panggung di teater megah. Menguasai bola hingga 75 persen dan melepaskan lebih dari seribu umpan akurat tanpa mencetak gol bukan lagi masalah ketidakberuntungan, itu adalah sebuah kenyataan dari kebutaan taktis dan terbeban secara mental di bawah tekanan tinggi,” ujar Carragher dalam acara Sky Sports pascalaga, dikutip dari The Athletic.

