Gapura di depan masjid dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah di Dusun Sidorangu, Desa Watugolong, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. (Foto: Dite Surendra)
Pada bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 M, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku ”Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.
===
Gus Yunus, salah seorang cucu Mbah Sahlan, mengisahkan, pada suatu ketika Mbah Sahlan diundang ke Desa Miru, Kedamean, Gresik. Acaranya sehabis sholat Isya’. Namun, beliau lupa dan langsung tidur setelah sholat Isya’. Saat terbangun dan teringat ada undangan tersebut, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
Mbah Sahlan kemudian mengajak santri untuk menemani ke lokasi acara di Desa Miru. Dalam hati santri berkata, acara sehabis Isya’ dan saat berangkat sudah pukul 10 malam. Apalagi, jaraknya sekitar 7 kilometer. Saat tiba, acara pasti sudah selesai.
Namun, keanehan terjadi. Ketika tiba di desa tujuan, santri tersebut mendengar puji-pujian yang biasa dilantunkan ketika orang hendak sholat berjamaah di masjid. Terbawa oleh rasa penasaran, bertanyalah santri itu kepada warga ihwal lantunan puji-pujian tersebut. Jawabannya sungguh mengagetkan santri itu sendiri.
”Ternyata saat sampai di sana, jamaah masih akan melaksanakan shalat Isya’. Padahal, berangkatnya sudah jam 10 malam,” kata Gus Yunus yang kini diberi kepercayaan untuk mengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Sahlaniyah peninggalan kakeknya.
Kisah lain, suatu ketika Mbah Sahlan bersama dengan Mbah Haji Ilyas Benowo. Beberapa hari kemudian, Mbah Ilyas bertanya kepada Pak Nur Jein, salah seorang putra gawan Mbah Sahlan (Mbah Sahlan menikah dengan nyai yang sudah punya anak) tentang keberadaannya kemarin.
Putra tersebut menjawab bahwa dirinya menemani Mbah Sahlan ke Madura. Namun, Mbah Ilyas menyatakan bahwa pada hari itu dirinya menemani Mbah Sahlan di Surabaya. Keduanya pun eyel-eyelan karena merasa sedang bersama Mbah Sahlan pada saat yang sama.
Karamah Mbah Sahlan lainnya berkaitan dengan upaya menghilangkan kemusyrikan. Pada masa itu tidak sedikit masyarakat yang menyembah pohon-pohon besar yang mereka anggap keramat. Tidak ada orang yang berani memotong pohon tersebut. Sebab, menurut keyakinan mereka, jika itu dilakukan akan berakibat pemotong pohon akan sakit, bahkan meninggal dunia.
Mbah Sahlan kemudian meminta kepada orang yang biasa memotong pohon seraya mengatakan bahwa yang menyuruh memotong pohon tersebut adalah dirinya.
”Walhasil, setelah pohon tersebut dipotong, orang yang memotong juga tidak apa-apa,” kaya Gus Yunus. ”Dalam dunia lain, istilahnya di makhluk gaib juga dihormati, sekaligus diwedeni (ditakuti),” imbuh Ketua Yayasan Bahrul Ulum Sahlaniyah itu. (Redaksi/Bersambung)
(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk
Pemerintah terus berupaya untuk memberantas mafia tanah, termasuk yang beroperasi di wilayah perkotaan. Salah satu…
Mbah Sahlan termasuk salah seorang ulama yang hidup pada masa perang kemerdekaan. Meski tidak ikut…
Bupati Subandi berkeliling menemui rakyatnya di berbagai kecamatan. Itulah kebiasaan yang selama ini dilakukan untuk…
Tadarus Jurnalistik itu menghadirkan narasumber Ketua Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Sidoarjo Ubaidillah Nurdin…
DPRD Kota Surabaya sedang mengakselerasi pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Inisiatif tentang Pengendalian dan Penanggulangan…
Truk pengangkut sampah yang beroperasi di Kota Surabaya viral di media sosial karena bak belakang…
This website uses cookies.