Categories: Bumi Aulia

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (2): Asal Usul Nama Gus Ud dan Garis Nasab ke Sunan Gunung Jati

Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Metrotoday.id menayangkan kisah kisah religi jejak para Auliya (Waliyullah) penyebar agama Islam yang ada di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penayangan kisah ini bersumber dari buku “Sidoarjo Bumi Aulia” karya Muh. Subhan dan Fathur Roziq.

—————————–

K.H. ALI MAS’UD atau Mbah Ud terlahir dengan nama Mas’ud. Karena putra seorang kiai pengasuh pondok pesantren, dia lebih sering disapa dengan Gus Ud. Lahir di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Tak diketahui pasti tanggal lahirnya, namun diperkirakan tahun 1908 Masehi.

Mas’ud atau Gus Ud mendapatkan gelar kiai setelah menunaikan ibadah haji di usia dewasa. Sepulang berhaji namanya bertambah dengan awalan Ali menjadi K.H. Ali Mas’ud. Beliau wafat di Daleman, Sidoarjo, pada tanggal 10 Juni 1980, bertepatan dengan 26 Rajab 1401 Hijriah dalam usia sekitar 72 tahun.

Dari garis nasab ayah maupun ibu, Mbah Ud adalah keturunan ulama terkemuka. Beliau adalah putra kedua pasangan K.H. Said, pengasuh Pondok Pesantren Sono di Desa Sidokerto, Buduran, dengan Nyai Hj. Fatmah dari Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo.

K.H. Said adalah putra dari K.H. Zarkasyi bin K.H. Muhayyin, pendiri Pondok Pesantren Sono di Desa Sidokerto. Pada masa keemasannya pesantren tersebut sangat terkenal di seluruh Nusantara.

Pesantren itu melahirkan banyak ulama besar nasional. Namun, bangunan pondok aslinya kini sudah tidak ada lagi, hilang ditelan perkembangan zaman.

Pondok Pesantren Sono—yang diperkirakan berdiri tahun 1750-an—adalah salah satu pesantren tertua di Indonesia. Pada awal abad ke-20, pesantren ini menjadi rujukan para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur untuk menimba ilmu agama, khususnya ilmu nahwu dan sharaf.

Di dunia pesantren, kedua ilmu itu dikenal dengan ilmu ‘alat, yakni perangkat yang harus dikuasai untuk  dapat memahami isi kitab suci maupun kitab kuning.

Ilustrasi Sunan Gunung Jati dengan background makamnya di Cirebon, Jawa Barat. (Foto: AI generated by Gemini)

Tercatat sejumlah ulama besar nasional pernah menimba ilmu di Pesantren Sono ini. Di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU dan pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang), K.H.A. Wahid Hasyim (putra Hadratus Syaikh yang pernah menjadi Menteri Agama RI), K.H. Abdul Karim atau Mbah Manaf (pendiri Pondok Pesantren  Lirboyo Kediri, K.H. Usman Jazuli (pendiri Pondok Pesantren Ploso Kediri), serta sebagian besar ulama di Jawa Timur lainnya juga pernah belajar di pesantren ini.

Sedangkan dari jalur ibu, Mbah Ud memiliki nasab hingga ke Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati, salah satu dari Wali Songo yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat.

Diketahui, Nyai Fatmah adalah putri dari K.H. Mas Muhyiddin dari Sidoresmo, Surabaya. Beliau adalah putra dari K.H. Adnan bin Sayyid Badruddin bin Sayyid Ali Akbar (Sidoresmo) bin Sayyid Sulaiman (Mojoagung) bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban (Bangil) hingga naik ke Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati.

Namun di masa remaja Mas’ud tidak lama merasakan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya. Sebab, di usia remaja, sekitar 16 tahun, ia harus menghadapi kenyataan pahit: kedua orang tuanya bercerai. Ayahnya tetap tinggal di Sono, sedangkan sang ibunda memilih tinggal di Pagerwojo. Mas’ud pun memilih tinggal bersama ibunya di Pagerwojo hingga dewasa.

Kamar dimana Mbah Ud sering tidur di rumah kakaknya Nyai Masrifah di Pagerwojo, Sidoarjo. (Foto: Istimewa)

Mas’ud mempunyai dua saudara kandung, yaitu kakak bernama Masrifah, yang tinggal di Pagerwojo, Sidoarjo; dan adik, Mahfudz, yang tinggal di Arjosari, Rejoso, Pasuruan.

Masrifah yang menikah dengan H. Abdurrahman dari Pasuruan memiliki enam orang putra-putri dan semuanya tinggal di Pagerwojo, Sidoarjo.

Sedangkan Mahfudz dikaruniai empat orang putra-putri dan tinggal di Mojoagung, Jombang.

Sementara Mas’ud atau Gus Ud atau K.H. Ali Mas’ud atau Mbah Ud, sampai wafat tidak dikaruniai satu pun keturunan, meski telah enam kali menikah dengan lima orang wanita (Redaksi/bersambung)

(*) Materi artikel ini disadur dari buku Sidoarjo Bumi Aulia atas seizin Bappeda Kabupaten Sidoarjo sebagai pemilik produk

Jay Wijayanto

Recent Posts

K.H. Ali Mas’Ud, Waliyullah Unik Penuh Karamah (4): Menebak Nasib Jenderal AH Nasution dan Pertemuan dengan Petani Miskin

SEPANJANG hidupnya, KH. Ali Mas’ud dikenal senang mengikuti kegiatan masyarakat yang mendorong pada peribadatan kepada…

2 hours ago

Rusun Sumbo Surabaya Terbakar, Penyebab Diduga Korsleting Listrik

Sebuah kebakaran melanda rumah rusun (rusun) lantai 3 di Jalan Rusun Sombo, Kelurahan Simolawang, Kecamatan…

8 hours ago

Gol Gali Freitas Bawa Persebaya Bangkit Kalahkan PSM Makassar 1-0 di GBT

Persebaya Surabaya berhasil mengalahkan PSM Makassar dengan skor 1-0 dalam pertandingan pekan ke-23 BRI Super…

8 hours ago

Tari Sufi dari Turki Jadi Hiburan Anak-Anak Menunggu Berbuka Puasa di Surabaya

Sejumlah anak-anak mengisi waktu tersebut dengan belajar tari Sufi di dalam masjid, diiringi irama sholawat…

12 hours ago

Pelatih PSM Makassar Trucha Ingin Tim Main Aktif dan Kontrol Bola Tekan Permainan Persebaya

BRI Super League akan menyajikan laga seru antara tuan rumah Persebaya Surabaya dengan tamunya PSM…

16 hours ago

Tanah Ditetapkan Telantar? Ini Cara Masyarakat Menggugat dan Menolak secara Hukum

Penetapan tanah sebagai tanah telantar bukan akhir dari segalanya. Masyarakat atau pemegang hak tetap memiliki…

16 hours ago

This website uses cookies.