Antrean bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu di SPBU Surabaya saat isue kenaikan harga Pertalite namun tidak jadi. Kini pemerintah memilih menaikhan BBM nonsubsidi Pertamax. (Foto: Ahmad/METROTODAY)
METROTODAY, SURABAYA – Pemerintah secara resmi menaikkan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan ini dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan di tengah tekanan lonjakan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menanggapi kebijakan tersebut, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Imron Mawardi, memperkirakan sejumlah besar pengguna kendaraan yang sebelumnya memakai Pertamax akan beralih menggunakan Pertalite mengingat selisih harga yang cukup signifikan.
“Kalau standar kendaraan yang menggunakan Pertamax RON 92 itu relatif tidak jauh berbeda dengan yang bisa memakai Pertalite. Karena itu, menurut saya pasti akan banyak yang kemudian beralih ke Pertalite. Hal ini juga akan membuat beban subsidi yang ditanggung negara makin besar,” ujarnya, Rabu (17/6).
Ia menjelaskan bahwa meskipun dikategorikan sebagai BBM non-subsidi, selama ini harga Pertamax sebenarnya masih mendapatkan bantuan dari pemerintah. Harga keekonomiannya saat ini bahkan sudah mendekati angka Rp 16.000 per liter.
“Kalau kita lihat, harga Pertamax sebelumnya juga masih di bawah harga pasar. Kalau dulu harganya Rp 12.300 per liter, berarti subsidinya sekitar Rp 4.000. Sekarang meskipun sudah naik, tetap ada selisih, sehingga subsidi yang dikeluarkan pemerintah justru bisa makin besar,” paparnya.
Menurut Prof. Imron, kebijakan penyesuaian ini seharusnya sudah dilakukan lebih awal agar harga Pertamax dapat mengikuti nilai keekonomiannya, sama seperti jenis BBM lain seperti Pertamax Turbo, Dexlite, atau Pertamina Green.
“Sejak awal saya sering sampaikan, jika Pertamax bukan BBM bersubsidi, maka harganya harus mengikuti harga pasar. Mungkin pemerintah sebelumnya mempertimbangkan bahwa penggunanya masih memiliki kemampuan ekonomi yang setara dengan pengguna Pertalite, sehingga tetap dipertahankan harganya,” jelasnya.
Bagi pengemudi ojek daring yang sebelumnya menggunakan Pertamax, perpindahan ke Pertalite juga dinilai sangat mungkin terjadi selama spesifikasi mesin kendaraan masih mendukung penggunaan BBM dengan angka oktan RON 90.
“Mereka pasti akan beralih jika mesin kendaraannya memungkinkan. Logikanya, biaya operasional harian akan menjadi pertimbangan utama,” tambahnya.
Page: 1 2
Kota Surabaya menjadi tuan rumah konferensi pers babak semifinal dan final Piala Presiden 2026 yang…
Desainer asal Jawa Timur, Ronie Parero turut meramaikan gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang…
Razia serentak yang digelar bersama Forkopimda dan Forkopimka di 18 kecamatan, Sabtu (1/8) malam, membuahkan…
Proses penyelamatan penumpang dan awak kapal KM Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan Sumenep,…
Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya.
Untuk pertama kalinya, suara gamelan, denting angklung, dan hentakan musik Reog Ponorogo menggema sepanjang hari…
This website uses cookies.