Categories: Lifestyle

Bunga Mekar di Atas Awan, Ronie Parero Angkat Filosofi Kebebasan Bermimpi di IFW 2026

METROTODAY, SURABAYA – Desainer asal Jawa Timur, Ronie Parero turut meramaikan gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang berlangsung pada 29 Juli–2 Agustus 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.

Ronie mempersembahkan koleksi bertajuk Cloud Bloom, sebuah karya busana yang merayakan imajinasi tanpa batas melalui siluet gaya couture, palet warna lembut, serta bentuk artistik yang terinspirasi dari keindahan awan dan bunga yang sedang bermekaran.

Koleksi tersebut juga dikenakan langsung oleh Miss Youth Indonesia 2026, Jollene Ferischea. Mengusung filosofi bahwa setiap anak muda bertumbuh dengan ritme dan jalannya masing-masing, Cloud Bloom menghadirkan gambaran dunia imajiner di mana bunga tidak tumbuh di tanah, melainkan mekar di antara awan sebuah metafora puitis tentang harapan, kebebasan, keberanian, dan kemungkinan tanpa batas bagi siapa saja yang berani memelihara mimpinya.

Melalui lapisan kain tulle yang ringan dengan perpaduan warna kuning mentega, hijau mint, biru langit, ungu lavender, dan merah muda lembut, setiap rancangan seolah menghadirkan taman yang melayang di atas cakrawala. Setiap siluet merepresentasikan perjalanan anak muda dalam menemukan jati diri, merayakan keunikan, dan melangkah penuh keyakinan menuju masa depan.

“Ini adalah pertama kalinya saya berpartisipasi di Indonesia Fashion Week, dan tentunya saya sangat antusias. Menurut saya, IFW merupakan platform yang sangat penting bagi desainer Indonesia untuk memperkenalkan karya, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan bahwa industri fesyen Indonesia terus berkembang dengan identitas yang kuat dan semakin dikenal di tingkat internasional,” tutur Ronie, Minggu (2/8).

Ronie menjelaskan, setiap koleksi yang ia buat selalu membawa sebuah cerita. Kali ini tema diangkat dari kebebasan anak muda untuk bermimpi.

“Saya membayangkan bunga yang biasanya tumbuh dan mekar di tanah, tetapi dalam koleksi ini bunga-bunga tersebut bermekaran di atas awan. Itu menjadi simbol bahwa mimpi tidak memiliki batas dan setiap orang memiliki ruang untuk tumbuh dengan cara mereka sendiri. Filosofinya adalah harapan, kreativitas, dan keberanian untuk terus bertumbuh serta mengejar mimpi setinggi langit,” ungkapnya.

Page: 1 2

Jay Wijayanto

Recent Posts

Bupati Subandi Pimpin Razia Serentak, Ribuan Botol Miras Disita di Sidoarjo

Razia serentak yang digelar bersama Forkopimda dan Forkopimka di 18 kecamatan, Sabtu (1/8) malam, membuahkan…

3 hours ago

KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Laut Sumenep, 231 Selamat, 5 Meninggal, Korban Dievakuasi ke Surabaya, Lombok dan Sumenep

Proses penyelamatan penumpang dan awak kapal KM Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan Sumenep,…

4 hours ago

Budaya Indonesia Menjangkau Hati Berbeda Bangsa dalam Indonesia Day on the Creek 2026(2)

Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya.

5 hours ago

Suara Reog Mengubah Langit Maryland saat Indonesia Day on the Creek 2026 (1)

Untuk pertama kalinya, suara gamelan, denting angklung, dan hentakan musik Reog Ponorogo menggema sepanjang hari…

5 hours ago

Menag Nasaruddin: 400 Imam Besar Dunia Bakal Hadiri IGIC, Jadikan Indonesia Pusat Perdamaian Dunia

Ribuan orang dari unsur pemerintah, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu…

14 hours ago

Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya, Data Terintegrasi 8 Kementerian, Eliminasi Penerima Bansos Tak Berhak Capai 25 Persen

Uji coba perlindungan sosial (perlinsos) digital, Perlinsos Digital di Surabaya menjadi bagian dari cetak biru…

17 hours ago

This website uses cookies.