Categories: Internasional

Suara Reog Mengubah Langit Maryland saat Indonesia Day on the Creek 2026 (1)

MARRYLAND, AS, METROTODAY – Untuk pertama kalinya, suara gamelan, denting angklung, dan hentakan musik Reog Ponorogo menggema sepanjang hari di Carroll Creek Park, Frederick, Maryland. Di tengah kota kecil Amerika yang biasanya dipenuhi musik jalanan dan percakapan dalam bahasa Inggris, ribuan orang berhenti menyaksikan wajah Indonesia yang hidup melalui seni, kuliner, dan tradisi.

Indonesia Day on the Creek 2026 bukan sekadar festival budaya. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa, tempat diaspora Indonesia menjaga akar budayanya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru dan masyarakat dunia. Di sana, Indonesia tidak hadir sebagai negara yang jauh di peta, melainkan sebagai pengalaman yang bisa didengar, disentuh, dicicipi, dan dirasakan.

Tak pernah ada hari seperti itu di Frederick, Maryland. Sejak matahari mulai meninggi hingga senja perlahan turun, udara di Carroll Creek Park dipenuhi bunyi yang tak lazim bagi kota kecil di pesisir timur Amerika Serikat tersebut. Dentuman kendang bersahutan dengan bunyi gong yang bergema dari panggung utama. Sesekali, lengking terompet tradisional menembus keramaian, disusul sorak penonton ketika topeng Dadak Merak setinggi hampir tiga meter bergerak gagah mengikuti irama musik Reog Ponorogo.

Bagi warga Maryland, mungkin itu hanya festival musim panas yang meriah. Namun bagi ribuan diaspora Indonesia yang datang dari berbagai penjuru Washington D.C., Virginia, hingga Pennsylvania, suara-suara itu lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah gema kampung halaman yang menyeberangi Samudra Pasifik.

Sehari penuh, Carroll Creek seakan berubah menjadi sepotong Nusantara. Di sepanjang taman, aroma sate, rendang, bakso, dan aneka jajanan Indonesia berbaur dengan angin musim panas Amerika. Anak-anak berlarian mengenakan kebaya dan batik. Orang tua berbincang dalam bahasa Indonesia, sementara warga lokal berhenti dengan rasa ingin tahu, mengabadikan setiap pertunjukan menggunakan telepon genggam mereka.

Tak ada tiket masuk. Tak ada pagar pembatas antara penampil dan penonton. Semua orang dipersilakan datang, menikmati, bahkan ikut merasakan Indonesia lewat cara yang paling sederhana: menyaksikan, mendengar, mencicipi, dan berbincang.

Itulah semangat yang dibawa Indonesia Day on the Creek 2026, festival budaya yang memasuki penyelenggaraan tahun ketiganya di Frederick, Maryland. Diselenggarakan oleh Indonesian Education & Cultural Network (IDECN), Asian American Center of Frederick (AACF), dan Indonesia Lighthouse dengan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C., festival ini kembali menghadirkan wajah Indonesia di ruang publik Amerika.

Persiapan para penari pedukung tampilan Reog Ponorogo saat tampil di Marryland, Amerika Serikat. (Foto: Ari Sufiati for Metrotoday)

Namun, yang membuat perhelatan tahun ini berbeda bukan sekadar jumlah pengunjung atau banyaknya penampil budaya. Tahun ini, Indonesia membawa tiga warisan budaya yang telah diakui UNESCO ke hadapan masyarakat dunia dalam satu panggung yang sama: Reog Ponorogo, angklung, dan batik. Ketiganya bukan hanya simbol kebudayaan. Ketiganya adalah kisah tentang identitas.

 

Reog Ponorogo menjadi magnet utama festival. Sosok Dadak Merak yang megah berdiri anggun di atas kepala penarinya membuat banyak pengunjung Amerika terpukau. Mereka menyaksikan bagaimana tarian itu bukan sekadar pertunjukan fisik, tetapi sebuah tradisi panjang yang diwariskan turun-temurun dari masyarakat Ponorogo. Di balik gerakan para penarinya, tersimpan cerita tentang keberanian, kepemimpinan, dan daya hidup sebuah kebudayaan yang terus bertahan melewati zaman.

Pengakuan UNESCO pada 2024 sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak menjadikan Reog semakin memperoleh perhatian dunia. Namun di Maryland, pengakuan itu memperoleh makna baru. Reog tidak lagi sekadar dipertontonkan. Ia dipertemukan dengan masyarakat lintas bangsa yang mungkin baru pertama kali melihatnya secara langsung.

Tak jauh dari panggung utama, suara bambu saling bersahutan. Puluhan pemain angklung berdiri berjajar. Mereka berasal dari berbagai latar belakang usia dan bahkan kebangsaan.

Di bawah arahan Ari Sufiati bersama kelompok Angklung Ibu Ari, setiap orang memainkan satu atau dua nada. Sendiri-sendiri bunyinya sederhana. Namun ketika dimainkan bersama, tercipta harmoni yang utuh. Di situlah filosofi angklung hidup. Tak seorang pun menjadi pusat perhatian. Semua saling melengkapi.

Kolaborasi bersama Mabuhay Foundation bahkan mempertemukan komunitas Indonesia dan Filipina dalam satu pertunjukan, memperlihatkan bahwa musik tradisional mampu melampaui batas negara maupun bahasa.

Di sudut lain taman, pengunjung mengerubungi meja-meja batik. Mereka mencoba mencanting malam di atas kain putih untuk pertama kalinya. Ada yang masih kaku menggenggam canting. Ada pula anak-anak Amerika yang tertawa ketika tetesan malam membentuk pola tak beraturan. Tak ada yang mempersoalkan hasil akhirnya. Yang penting, mereka pulang dengan pengalaman baru tentang Indonesia.

Karena budaya memang selalu lebih mudah dipahami ketika disentuh secara langsung. Festival kemudian dibuka dengan parade budaya yang dipimpin Reog Ponorogo dan Rumah Gadang USA. Di belakangnya, para penampil mengenakan busana dari berbagai daerah Indonesia berjalan menyusuri Carroll Creek menuju amphitheater.

Pemandangan itu menghadirkan kontras yang indah. Gedung-gedung bata khas Amerika menjadi latar bagi barisan penari berkebaya, berkain ulos, berbusana Bali, hingga pakaian adat Minangkabau. Seolah dua dunia yang berbeda sedang saling menyapa tanpa perlu menerjemahkan bahasa masing-masing.

Pembukaan festival turut dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat H.E. Dwisuryo Indroyono Soesilo, Wali Kota Frederick Michael O’Connor, Frederick County Executive Jessica Fitzwater, anggota Maryland House of Delegates, serta perwakilan Kongres dan Senat Amerika Serikat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa diplomasi budaya mampu membangun hubungan yang sering kali lebih hangat daripada diplomasi politik semata.

Sepanjang hari, panggung tak pernah benar-benar sepi. Bali Jegeg, Banjar Bali, Culture Keepers, Harmony Band, Nusantara Budaya, Reog Singolodoyo, Rumah Gadang, Santi Budaya, Williamsburg Djojo, hingga Spotlight Academy bergantian mengisi suasana. Di sela pertunjukan, para pengunjung menikmati bazar kuliner, berburu produk Indonesia, berdiskusi di stan budaya, atau sekadar duduk di tepian sungai sambil menikmati semilir angin musim panas.

Bagi sebagian diaspora Indonesia, festival seperti ini menjadi penawar rindu. Bagi anak-anak mereka yang lahir dan tumbuh di Amerika, festival ini menjadi ruang belajar tentang negeri yang selama ini mungkin hanya mereka kenal lewat cerita orang tua. Karena itulah, Indonesia Day on the Creek tahun ini memberikan perhatian khusus kepada generasi kedua diaspora Indonesia.

Mereka tidak hanya diajak menonton budaya, tetapi menjadi bagian dari budaya itu sendiri—memainkan angklung, mengenakan batik, menari, bahkan membantu penyelenggaraan acara. Warisan budaya tidak cukup disimpan dalam album foto atau cerita keluarga. Ia harus dialami agar tetap hidup.

Presiden IDECN sekaligus Ketua Panitia, Haris Koentjoro, melihat festival ini sebagai ruang yang mempertemukan manusia melalui kebudayaan. “Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya. Ketika masyarakat menyaksikan Reog Ponorogo, mendengar angklung, mencoba membatik, dan menikmati kuliner Indonesia, mereka tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan. Mereka terhubung dengan tradisi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelas Haris antusias. (MT/Indonesia Lighthouse)

Eros Muhammad

Recent Posts

Budaya Indonesia Menjangkau Hati Berbeda Bangsa dalam Indonesia Day on the Creek 2026(2)

Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya.

1 hour ago

Tegas! Bupati Subandi Tutup 3 Toko Miras yang Langgar Aturan

Bupati Sidoarjo Subandi menindak tegas tempat penjualan minuman keras (miras) yang menyalahi ketentuan. Jumat (31/7/2026)…

2 days ago

Potensi 540 Hektare, Komisi C DPRD Surabaya Minta Perluasan Kebun Raya Mangrove Libatkan Masyarakat

Kebun Raya Mangrove Surabaya kini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata edukasi.

2 days ago

Viral Tuduhan Eksploitasi Anak Disuruh Mengemis, DP3A-PPKB Surabaya Belum Temukan Bukti, Anak Diasuh dengan Baik

Video yang beredar di media sosial menuding seorang anak berusia lima tahun ditelantarkan dan dieksploitasi…

2 days ago

Aksi Massa PSHT Bubar Usai Ditemui Kapolrestabes Surabaya, Polisi Buru Pelaku Penganiayaan

Ribuan pesilat menggelar aksi damai menuntut penindakan pelaku penganiayaan anggotanya oleh kelompok penagih utang atau…

2 days ago

Banggar DPRD Sidoarjo Sampaikan Laporan Pertanggungjawaban APBD 2025, Bupati Subandi Apresiasi Sinergi Legislatif dan Eksekutif

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo menggelar rapat paripurna dengan agenda penyampaian Laporan Hasil…

3 days ago

This website uses cookies.