Di sinilah Pancasila menemukan relevansi barunya. Ketika algoritma berpotensi mengendalikan perhatian manusia, Pancasila mengingatkan pentingnya nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Ketika ruang digital cenderung memecah-belah, Pancasila meneguhkan persatuan. Pancasila mengajarkan keniscayaan bermusyawarah di tengah kebisingan ruang digital.
Dan ketika data serta teknologi terkonsentrasi pada segelintir pihak, Pancasila kembali mengingatkan cita-cita keadilan sosial.
Dari kolonialisme hingga algoritmisme, zaman terus berganti wajah. Namun Pancasila tetap berdiri sebagai jangkar yang menautkan Indonesia pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.
Lantaran itu, Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya yang terus menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan. (*)
Di sinilah Pancasila menemukan relevansi barunya. Ketika algoritma berpotensi mengendalikan perhatian manusia, Pancasila mengingatkan pentingnya nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Ketika ruang digital cenderung memecah-belah, Pancasila meneguhkan persatuan. Pancasila mengajarkan keniscayaan bermusyawarah di tengah kebisingan ruang digital.
Dan ketika data serta teknologi terkonsentrasi pada segelintir pihak, Pancasila kembali mengingatkan cita-cita keadilan sosial.
Dari kolonialisme hingga algoritmisme, zaman terus berganti wajah. Namun Pancasila tetap berdiri sebagai jangkar yang menautkan Indonesia pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.
Lantaran itu, Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya yang terus menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan. (*)