Kelihaian Perempuan Mengubah Diam Menjadi Emas

Pihak perempuan begitu cerdas, ia tak menanggapi agar tak memunculkan bahan yang bisa diperdebatkan. Sedangkan pihak laki-laki terus mengumbar narasi menyudutkan. Yang bila salah kelola bisa menimbulkan kesalahan atau bias persepsi.

Dunia digital saat ini juga mengalami perkembangan berbeda. Simpati publik muncul di saat salah satu pihak tertekan. Maklum saja, ketika narasi menyudutkan terus diembuskan, maka algoritma media digital terus berupaya menyuplai informasi serupa dan mendukung. Jadilah, yang terjadi seperti perundungan digital.

Hal lain, pihak perempuan diuntungkan momen. Itu terlihat bagaimana publik menangkap suasana batin seorang ibu yang lama terpisah dari anaknya. Air matanya dihasilkan dari  tangis otentik yang muncul dari naluri seorang perempuan yang sedang disungkemi anak laki lakinya saat menikah. Disitulah emosi publik terbentuk. Serangan verbal justru jadi bentuk perlawanan terhadap emosi publik yang tengah galau.

Kendati ramai di mana-mana, perempuan tadi tetap diam. Ia tampaknya sedang memainkan “strategi” bahwa tanpa berkata kata, sebuah isu akan sampai pada titik jenuh alami. (*)

Pihak perempuan begitu cerdas, ia tak menanggapi agar tak memunculkan bahan yang bisa diperdebatkan. Sedangkan pihak laki-laki terus mengumbar narasi menyudutkan. Yang bila salah kelola bisa menimbulkan kesalahan atau bias persepsi.

Dunia digital saat ini juga mengalami perkembangan berbeda. Simpati publik muncul di saat salah satu pihak tertekan. Maklum saja, ketika narasi menyudutkan terus diembuskan, maka algoritma media digital terus berupaya menyuplai informasi serupa dan mendukung. Jadilah, yang terjadi seperti perundungan digital.

Hal lain, pihak perempuan diuntungkan momen. Itu terlihat bagaimana publik menangkap suasana batin seorang ibu yang lama terpisah dari anaknya. Air matanya dihasilkan dari  tangis otentik yang muncul dari naluri seorang perempuan yang sedang disungkemi anak laki lakinya saat menikah. Disitulah emosi publik terbentuk. Serangan verbal justru jadi bentuk perlawanan terhadap emosi publik yang tengah galau.

Kendati ramai di mana-mana, perempuan tadi tetap diam. Ia tampaknya sedang memainkan “strategi” bahwa tanpa berkata kata, sebuah isu akan sampai pada titik jenuh alami. (*)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait