METROTODAY, PANDEGLANG — Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda kembali membuahkan perkembangan baru.
Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banten bersama tim SAR gabungan berhasil menemukan satu buah life jacket (rompi pelampung) tanpa identitas dan sebuah botol tabung putih di perairan sebelah barat Anyer, Kabupaten Pandeglang.
Meski demikian, pihak otoritas menegaskan bahwa seluruh barang temuan tersebut belum dapat dipastikan sebagai bagian dari perlengkapan speed boat atau milik rombongan korban yang hilang sejak Senin (7/9) saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Komandan Lanal (Danlanal) Banten, Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani, menjelaskan bahwa temuan tersebut didapati oleh tim armada KAL Anyer saat menyisir area laut lepas.
Lokasi penemuan life jacket berada di sisi barat wilayah Anyer, berjarak sekitar 7,05 nautical mile dari bibir pantai, atau sekitar 10 hingga 12 nautical mile dari titik kontak terakhir (last known position) rombongan kapal.
Guna mencegah berkembangnya asumsi liar di tengah masyarakat, seluruh temuan tersebut kini dibawa ke posko utama untuk menjalani tahap verifikasi dan identifikasi komprehensif.
“Untuk temuan tim KAL Anyer saat ini masih akan dilaksanakan identifikasi terlebih dahulu. Mengingat posisinya cukup jauh dari lokasi kejadian dan barang seperti botol tabung putih masih umum digunakan oleh nelayan setempat, kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang milik korban,” tegas Letkol Laut (P) Wawan Subagyo.
Ia menambahkan, Lanal Banten akan mengonfirmasi dan mencocokkan karakteristik temuan tersebut kepada pihak penyewa kapal untuk memastikan kepemilikan aslinya sebelum mengeluarkan rilis resmi.
Di sisi lain, pencarian dari udara yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun serpihan kapal di daratan pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.
Ia menjelaskan, operasi SAR lapangan ini menghadapi tantangan alam yang cukup kompleks. Tim dihadapkan pada jarak pandang yang terbatas akibat kabut tebal serta paparan abu vulkanik di bawah ketinggian 1.500 meter.
Kendati abu vulkanik tingkat tinggi dilaporkan telah bergerak menuju Samudra Hindia di atas ketinggian 50.000 kaki, aspek keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama sebelum tim darat diterjunkan langsung ke pulau sasaran.
Basarnas memastikan bahwa operasi pencarian di enam sektor yang melibatkan koordinasi ketat bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta BMKG akan terus berjalan selama tujuh hari ke depan sesuai dengan standar International Aeronautical and Maritime Search and Rescue (IAMSAR Guidelines).
“Sesuai standar, pada hari ketujuh nanti kita akan melaksanakan rapat evaluasi menyeluruh yang melibatkan PVMBG, BMKG, hingga tim medis untuk membahas langkah dan kelanjutan operasi ini,” kata Kepala Basarnas Mohammad Syafii.
Pihak otoritas kembali mengimbau publik untuk selalu memantau perkembangan resmi dari Posko Gabungan di Pantai Marina Carita guna mendapatkan informasi akurat dan terverifikasi terkait perkembangan pencarian para korban. (mt)


