METROTODAY, SIDOARJO – Pendopo Delta Wibawa selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Berbagai agenda pemerintahan, pertemuan pejabat, hingga kegiatan resmi daerah kerap berlangsung di tempat tersebut.
Namun, bagi Bupati Sidoarjo H. Subandi, fungsi pendopo tidak harus berhenti sebagai ruang pemerintahan. Tempat tersebut juga bisa menjadi ruang bersama bagi masyarakat.
Karena itu, Pemkab Sidoarjo membuka Pendopo Delta Wibawa untuk dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan. Pengajian, dzikir, doa bersama, hingga sholawatan dapat digelar di tempat tersebut.
Keterbukaan itu ditegaskan Subandi saat menghadiri acara Dzikir, Doa Bersama dan Sholawat bersama Al Yasmin, Sabtu (5/9/2026). Ribuan jamaah memadati Pendopo Delta Wibawa dalam kegiatan tersebut.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama jajarannya turut hadir. Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf. Abraham Prihadi juga mengikuti kegiatan tersebut.
Di hadapan para jamaah, Subandi menyampaikan terima kasih atas doa yang dipanjatkan untuk Kabupaten Sidoarjo. Menurutnya, doa dan dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan daerah.

“Terima kasih atas doa untuk Sidoarjo. Semoga seluruh jamaah yang hadir diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan,” kata Subandi.
Bupati menilai kegiatan keagamaan memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas ibadah. Pertemuan yang dihadiri banyak warga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga hubungan sosial.
Di tengah kesibukan masyarakat, ruang pertemuan semacam itu dinilai penting. Warga dari berbagai latar belakang dapat bertemu, berinteraksi, dan membangun rasa kebersamaan.
Karena itu, pemerintah daerah menurut Subandi harus memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang membawa dampak positif.
Salah satunya dengan menyediakan ruang yang representatif.
“Pendopo ini terbuka. Pemkab Sidoarjo membuka lebar untuk kegiatan pengajian dan kegiatan keagamaan masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa fasilitas pemerintah tidak semata-mata digunakan untuk kepentingan birokrasi. Ketika tidak sedang digunakan untuk agenda pemerintahan, Pendopo Delta Wibawa dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan positif.
Sejumlah organisasi keagamaan sudah rutin memanfaatkan pendopo tersebut. Di antaranya Muslimat, Fatayat, dan Aisyiyah.

Menurut Subandi, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk interaksi langsung antara masyarakat dengan pemerintah. Warga bisa hadir di lingkungan pusat pemerintahan tanpa sekat yang terlalu formal.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun pemerintahan yang dekat dengan masyarakat. Pemerintah tidak hanya hadir ketika memberikan pelayanan administrasi atau menjalankan program pembangunan, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang sosial masyarakat.
Subandi mengatakan, pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur. Jalan yang bagus, fasilitas publik yang memadai, dan pembangunan fisik lainnya memang penting. Namun, kehidupan sosial masyarakat juga harus diperkuat.
Kegiatan keagamaan menjadi salah satu fondasi untuk menjaga kehidupan sosial tersebut.
Ketika masyarakat memiliki ruang untuk berkumpul dan bersilaturahmi, komunikasi antarwarga bisa semakin baik. Hubungan sosial yang kuat juga menjadi modal penting untuk menjaga suasana daerah tetap aman dan kondusif.
“Dengan kebersamaan dan doa masyarakat, kita berharap Sidoarjo semakin aman, kondusif dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujar Subandi.
Kegiatan bersama Al Yasmin di Pendopo Delta Wibawa menjadi gambaran bagaimana ruang pemerintahan bisa memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Ribuan jamaah hadir dalam suasana yang penuh kekhusyukan.

Rangkaian dzikir dan doa bersama berlangsung khidmat. Sholawat kemudian menggema di Pendopo Delta Wibawa. Masyarakat mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Bagi Pemkab Sidoarjo, kegiatan semacam itu juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat. Pemerintah dapat mendengar aspirasi secara langsung, sementara masyarakat bisa melihat lebih dekat aktivitas pemerintahan.
Keterbukaan ruang tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Subandi ingin Pendopo Delta Wibawa terus menjadi salah satu ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk kegiatan yang memberikan manfaat.
Tentu, pemanfaatannya tetap harus disesuaikan dengan agenda pemerintahan dan ketentuan yang berlaku. Namun, prinsipnya, fasilitas tersebut tidak dibuat eksklusif hanya untuk kalangan pemerintah.
“Pendopo ini terbuka,” kata Subandi.
Pemerintah ingin menunjukkan bahwa pusat pemerintahan juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Masyarakat memiliki ruang untuk hadir, berkegiatan, dan bersilaturahmi. Pemerintah pun memiliki kesempatan untuk semakin dekat dengan warga yang dilayaninya.
Subandi menilai pembangunan Sidoarjo membutuhkan gotong royong. Pemerintah memiliki kewenangan dan program, sedangkan masyarakat memiliki peran dalam menjaga hasil pembangunan sekaligus menciptakan suasana sosial yang kondusif.
Keduanya harus berjalan beriringan.
Terlebih, Sidoarjo merupakan daerah dengan aktivitas masyarakat yang tinggi. Berbagai organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta kelompok keagamaan memiliki kegiatan masing-masing.

Kehadiran ruang bersama menjadi penting agar aktivitas tersebut dapat berlangsung dengan baik.
Pendopo Delta Wibawa kemudian tidak sekadar dipandang sebagai bangunan milik pemerintah. Tempat tersebut dapat menjadi titik temu antara pemerintah dan masyarakat.
Di satu sisi, pendopo tetap menjalankan fungsi sebagai tempat berlangsungnya agenda pemerintahan. Di sisi lain, pintunya terbuka untuk kegiatan masyarakat yang positif.
Konsep tersebut diharapkan menciptakan kedekatan yang lebih nyata antara pemerintah dan warga. Sebab, pemerintahan yang kuat tidak hanya dibangun dari kebijakan dan program, tetapi juga dari kepercayaan serta hubungan yang baik dengan masyarakat.
Doa bersama yang digelar Al Yasmin menjadi salah satu contoh kecil dari semangat tersebut.
Subandi berharap kebersamaan semacam itu terus tumbuh. Bukan hanya melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga berbagai aktivitas sosial yang memperkuat persaudaraan dan kepedulian antarwarga.
“Dengan kebersamaan dan doa masyarakat,” kata Subandi, “kita berharap Sidoarjo semakin aman, kondusif dan masyarakatnya semakin sejahtera.” tambahnya. (mt)


