METROTODAY, SIDOARJO – Masa pemulihan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam terus mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Setelah ratusan santri sempat menjalani perawatan akibat dugaan keracunan massal usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), kondisi psikologis mereka ikut dipantau.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo bersama Tim Kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Tanggulangin dan Tim Puskesmas Jabon melakukan rapid asesmen serta pendampingan kesehatan jiwa, pada Kamis (3/9). Sebanyak 59 santri menjadi sasaran dalam kegiatan tersebut.
Asesmen dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologis para santri setelah mengalami insiden yang cukup mengganggu aktivitas mereka. Tim kesehatan juga berupaya mendeteksi sejak dini kemungkinan adanya santri yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Sehingga tidak sampai ada yang trauma.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina MKes menjelaskan, asesmen menjadi langkah awal untuk memetakan kondisi kesehatan jiwa santri. Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk menentukan bentuk pendampingan yang diperlukan.
“Kami semua ingin memastikan kesehatan jiwa para santri juga mendapatkan perhatian. Melalui rapid asesmen ini, kami mendeteksi awal untuk mendampingi mereka apabila ada santri yang membutuhkan dukungan lebih lanjut,” jelas dr. Lakhsmie.

Menurut dia, pengalaman menghadapi kejadian luar biasa, menjalani pemeriksaan kesehatan, hingga melihat teman-temannya mendapatkan perawatan dapat memberikan respons psikologis yang berbeda pada setiap anak. Sebagian mungkin dapat segera kembali beraktivitas. Namun, sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih lama dan dukungan untuk mengembalikan rasa aman.
Karena itu, pendekatan dalam asesmen dilakukan secara humanis. Para santri diberi kesempatan untuk menyampaikan kondisi dan perasaan yang mereka alami setelah kejadian.
“Kami tidak hanya melihat kondisi fisiknya, tetapi juga psikologisnya. Anak-anak perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan setelah mengalami situasi seperti ini. Jika dari hasil asesmen ditemukan santri yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, tentu akan dilakukan penanganan sesuai kebutuhannya,” katanya.
Asesmen Dilakukan di Dua Lokasi
Pendampingan kesehatan jiwa tersebut dilakukan di dua lokasi. Yakni di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, serta Balongdowo, Kecamatan Candi.
Dua lokasi tersebut berkaitan dengan aktivitas pendidikan dan tempat tinggal para santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam. Pesantren yang berada di Balongdowo menjadi tempat tinggal santri yang bersekolah di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Putat, Kecamatan Tanggulangin.
Kondisi itu membuat tim kesehatan perlu mendatangi kedua lokasi. Langkah tersebut dilakukan agar asesmen dapat menjangkau para santri secara lebih menyeluruh sekaligus memastikan proses pendampingan berjalan sesuai kebutuhan.
“Jadi, kami memberikan pendampingan di kedua tempat itu agar asesmen dan perhatian terhadap kondisi kesehatan jiwa santri dapat dilakukan secara menyeluruh,” tambah Lakhsmie.

Dinkes Sidoarjo menilai pemulihan pascainsiden perlu dilakukan secara bertahap. Kondisi fisik santri menjadi perhatian utama dalam penanganan medis. Setelah itu, kondisi psikologis juga perlu dipantau agar mereka dapat kembali menjalankan rutinitas pendidikan dan kehidupan pesantren dengan baik.
Deteksi dini menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Sebab, persoalan psikologis tidak selalu terlihat dari kondisi luar seseorang. Anak yang terlihat sudah kembali beraktivitas belum tentu sepenuhnya terbebas dari rasa cemas atau kekhawatiran akibat pengalaman yang baru dialami.
Melalui asesmen, tenaga kesehatan dapat memperoleh gambaran awal mengenai kondisi masing-masing santri. Jika diperlukan, pendampingan dapat dilanjutkan dengan penanganan yang lebih spesifik.
Kembali Nyaman Kembali ke Pondok Pesantren
Lingkungan pesantren memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Para santri akan kembali berhadapan dengan rutinitas belajar, kegiatan keagamaan, interaksi dengan teman, serta aktivitas lainnya.
Rasa aman menjadi salah satu kebutuhan yang perlu dibangun kembali. Dukungan dari pengasuh pesantren, guru, teman sebaya, keluarga, serta tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu santri melewati masa pemulihan.
Dinkes Sidoarjo juga menempatkan pendampingan sebagai bagian dari respons pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan penanganan segera. Pelayanan kesehatan diberikan dengan mempertimbangkan kondisi korban secara menyeluruh.

Kegiatan rapid asesmen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan pascainsiden membutuhkan kesinambungan. Ketika kondisi medis mulai membaik, pemantauan terhadap dampak lain yang mungkin muncul tetap diperlukan.
Bagi para santri, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mereka kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Proses belajar dan kegiatan keagamaan di pesantren diharapkan dapat berlangsung dengan suasana yang nyaman.
Lakhsmie menegaskan, apabila dalam proses asesmen ditemukan santri yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, tenaga kesehatan akan memberikan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mencegah persoalan psikologis berkembang lebih jauh. Dengan deteksi sejak awal, intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Pemkab Sidoarjo terus berupaya memastikan masyarakat yang terdampak insiden memperoleh pelayanan kesehatan secara maksimal. Penanganan dilakukan dengan melibatkan jajaran Dinkes dan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terkait.
Harapannya, seluruh santri dapat melewati masa pemulihan dengan baik. Setelah kondisi kesehatan pulih dan rasa aman kembali terbentuk, mereka dapat kembali berkonsentrasi mengikuti kegiatan belajar serta menjalankan aktivitas keagamaan di lingkungan pesantren.
Perhatian terhadap kesehatan jiwa ini menjadi bagian dari rangkaian penanganan pasca insiden dugaan keracunan massal menu MBG di Tanggulangin, Sidoarjo. Pemulihan korban diharapkan berlangsung secara menyeluruh sehingga para santri dapat kembali beraktivitas dengan tenang dan nyaman. Evaluasi pun masih terus dilakukan. Sehingga tidak sampai ada kejadian luar biasa serupa di Kabupaten Sidoarjo. Hingga Jumat (4/9), Bupati Sidoarjo Subandi masih terus memantau kondisi para korban dan memastikan mereka mendapatkan pelayanan yang layak. (mt)


