METROTODAY, SURABAYA – Ratusan juru parkir yang tergabung dalam Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Surabaya, Senin (31/8). Sekitar 1.000 orang juru parkir yang 90 persennya di lokasi Tempat Parkir Tepi Jalan Umum (TJU) menggelar aksi turun ke jalan untuk menyampaikan sejumlah tuntutan terkait pengelolaan parkir di Kota Surabaya.
Aksi yang awalnya berlangsung di sisi timur Balai Kota, kemudian bergeser ke kawasan depan Taman Surya dan sempat mengganggu arus lalu lintas.
Jalan Wali Kota Mustajab ditutup sementara, dengan kendaraan dari arah Yos Sudarso dialihkan melalui Jalan Ketabang Kali, dan dari arah barat dialihkan ke Jalan Jaksa Agung Suprapto.
Ketua PJS, Izul Fikri, menjelaskan bahwa tuntutan utama mereka mencakup perubahan bagi hasil, penghapusan setoran ganda, serta perlindungan atas risiko kehilangan kendaraan. “Sekitar seribu jukir yang ikut. Kurang lebih 90 persen TJU ikut dalam aksi hari ini,” ujar Izul, Senin (31/8).
PJS meminta skema bagi hasil pendapatan parkir diubah menjadi 70 persen untuk juru parkir. Persoalan yang paling mendesak, kata Izul, adalah adanya sistem setoran ganda dalam penerapan parkir non-tunai.
“Intinya tuntutan kami, bagi hasil 70 persen untuk juru parkir dan tidak ada setoran ganda. Jukir dituntut menerima non-tunai, tetapi sore hari tetap diwajibkan membayar tunai dengan sistem target,” tegasnya.
Izul menambahkan, sistem ini memberatkan karena pendapatan parkir tidak menentu setiap hari, sementara target setoran tetap harus dipenuhi.
Selain itu, mereka juga meminta kejelasan mengenai perlindungan kendaraan yang diparkir, termasuk kemungkinan adanya skema asuransi atau tanggung jawab pemerintah jika terjadi kehilangan.
Situasi sempat memanas saat sejumlah massa terlibat adu argumen dengan petugas Satpol PP. Beberapa peserta naik ke area taman sambil meluapkan kemarahan, dan sempat terjadi pembakaran di tengah kerumunan.
Aparat kepolisian segera melakukan pendekatan untuk meredam ketegangan. Seorang individu yang memicu kemarahan massa diamankan polisi untuk mencegah kericuhan lebih besar.
Situasi perlahan kondusif setelah massa duduk bersama dan mendengarkan lantunan ayat suci.
Hingga siang hari, massa masih bertahan menunggu audiensi dengan Wali Kota Eri Cahyadi. Mereka bahkan mengancam akan memperpanjang aksi jika tuntutan tidak direspons.
“Kalau tidak ditemui, kita bermalam di sini. Kalau tidak ditemui (Eri Cahyadi), kita datangi rumah wali kota,” tutur salah seorang orator.
Pihak kepolisian terus melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi untuk menjaga ketertiban. (ahm)


