Oleh: Machsus (*)
APAKAH Tuhan memiliki masa depan? Pertanyaan ini terdengar ganjil, bahkan mungkin mengusik iman. Bagi orang beriman, Tuhan tak terikat dimensi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tuhan tidak datang dan pergi dalam bentangan waktu. Manusialah yang lahir, tumbuh, berubah, menua, lalu pergi meninggalkan zaman.
Ketika Karen Armstrong menulis The Case for God (2009), yang diterjemahkan menjadi Masa Depan Tuhan, yang dipersoalkan bukan masa depan Tuhan secara harfiah. Yang dimaksud adalah masa depan cara manusia memahami, mengalami, dan menghadirkan Tuhan. Di tengah modernitas, sains, teknologi, dan kecerdasan buatan, masihkah Tuhan memiliki tempat dalam kesadaran manusia?
Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW menemukan relevansinya. Maulid bukan semata memperingati peristiwa biologis kelahiran seorang manusia lebih dari empat belas abad lalu. Kelahiran Muhammad adalah kelahiran sebuah risalah yang mengubah peradaban. Maulid bukan sekadar memperingati kapan Rasulullah dilahirkan, tetapi menghadirkan kembali untuk apa Rasulullah diutus.
Membicarakan Tuhan, Menghadirkan Tuhan
Modernitas memberi manusia kemampuan luar biasa. Sains menjelaskan berbagai misteri alam. Teknologi memperpendek jarak dan mengakselerasi kehidupan. Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) mengerjakan hal-hal yang sebelumnya dianggap hanya mampu dilakukan manusia.
Namun, kemajuan tidak otomatis memberikan makna. Teknologi dapat menjawab bagaimana manusia berkomunikasi lebih cepat, tetapi tidak selalu menjawab untuk apa kita berkomunikasi. Kedokteran dapat memperpanjang usia, tetapi tidak menjelaskan untuk apa kehidupan yang panjang itu dijalani. AI menjadi semakin cerdas, tetapi kecerdasan tidak dengan sendirinya melahirkan kebijaksanaan.
Di situlah agama menghadapi tantangannya. Tuhan akan terasa jauh ketika hanya diperdebatkan sebagai konsep, tetapi menjadi dekat ketika nilai-nilai ketuhanan dihidupkan dalam tindakan. Armstrong menempatkan compassion, kasih sayang sebagai salah satu inti terdalam kehidupan beragama.
Islam menyebutnya rahmah. Dalam Islam, gagasan itu menemukan gema yang kuat dalam kerasulan Muhammad, “Wa maa arsalnaaka illaa raḥmatan lil’aalamin”, yang artinya kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya’: 107).
Muhammad SAW tidak sekadar mengajarkan bagaimana manusia berbicara tentang Tuhan, tetapi bagaimana menghadirkan Tuhan dalam kehidupan. Tauhid melahirkan kesetaraan. Iman melahirkan amanah. Ibadah melahirkan akhlak. Ilmu melahirkan kemaslahatan. Kekuasaan melahirkan keadilan. Dan agama semestinya melahirkan raḥmatan lil’aalamin.
Maulid Seremonial, Maulid Substansial
Setiap tahun Maulid diperingati. Shalawat berkumandang, pengajian diselenggarakan, sirah Nabi dibacakan. Semua itu ekspresi cinta yang patut dihargai. Tetapi Maulid tidak semestinya berhenti pada seremoni.
Maulid setidaknya memiliki tiga lapis makna, yakni mengingat Rasulullah, mencintai Rasulullah, dan meneladani Rasulullah. Mengingat adalah pintu masuk. Mencintai adalah ikatan batin. Meneladani adalah pembuktiannya.
Pertanyaannya apakah semakin sering kita bershalawat juga membuat kita semakin dekat dengan akhlak Muhammad? Jangan sampai Muhammad semakin sering disebut, tetapi semakin jarang diteladani.
Paradoks itu nyata. Informasi agama semakin melimpah, tetapi ujaran kebencian juga semakin mudah menyebar. Simbol agama semakin terlihat, tetapi kejujuran dan amanah masih menjadi persoalan. Rumah ibadah semakin megah, tetapi kepedulian kepada mereka yang lemah belum tentu tumbuh bersamanya.
Lantaran itu, Maulid semestinya menjadi momentum melahirkan kembali nilai kenabian. Shiddiq di tengah kebohongan dan manipulasi informasi. Amanah di tengah korupsi dan penyalahgunaan kewenangan. Tabligh dalam komunikasi publik yang jujur. Fathanah dalam membangun masyarakat cerdas dan bijaksana. Dan di atas semuanya, rahmah sebagai wajah keberagamaan.
Perjalanan Rasulullah mengajarkan bahwa memperjuangkan kebenaran tidak selalu mudah. Beliau mengalami penolakan, penghinaan, bahkan kekerasan. Pelajaran pentingnya bahwa kebenaran tidak cukup diperjuangkan.
Ia juga harus diperjuangkan dengan cara yang benar. Ukuran kebermaknaan Maulid bukan kemeriahan acaranya, tetapi perubahan sesudahnya, yakni apakah kita menjadi lebih jujur, amanah, adil, santun, dan bertanggung jawab?
Melahirkan Kembali Nilai Kenabian
Nilai kenabian tidak boleh berhenti di masjid atau panggung Maulid. Ia harus hadir dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan ruang digital. Di dunia pendidikan, keteladanan Muhammad SAW menemukan ruang aktualisasinya dalam membentuk manusia sebagai insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Menjadi insan akademis berarti menjadikan ilmu sebagai jalan mencari kebenaran, bukan sekadar gelar dan kekuasaan. Menjadi insan pencipta berarti menggunakan akal dan kreativitas untuk menghasilkan inovasi bagi kemanusiaan.
Menjadi insan pengabdi berarti memastikan ilmu dan karya nyata tidak berhenti pada kepentingan diri, tetapi bermuara pada keberdampakan yang maslahat. Keteladanan Nabi di kampus hadir melalui kejujuran akademik dan kecintaan kepada ilmu. Dalam pekerjaan, melalui profesionalisme dan amanah. Dalam kepemimpinan, melalui keadilan dan keberpihakan kepada kemaslahatan.
Di dunia digital, empat sifat Nabi memperoleh konteks baru. Shiddiq berarti tidak memproduksi hoaks. Amanah berarti bertanggung jawab terhadap data dan teknologi. Tabligh berarti menyampaikan informasi secara benar.
Fathanah berarti memastikan kecerdasan, termasuk kecerdasan buatan, digunakan untuk kemaslahatan. Nabi memang lahir empat belas abad lalu, tetapi nilai kenabian harus terus dilahirkan kembali pada setiap zaman, dalam konteks kekinian dan kenantian.
Masa Depan Kemanusiaan
Peradaban bergerak semakin cepat. Mesin semakin cerdas, informasi semakin melimpah, dan batas dunia fisik dengan digital semakin tipis. Namun, di tengah kemajuan itu, pertanyaan klasik justru semakin relevan, apakah manusia akan semakin manusiawi?
Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, tetapi tidak selalu menjawab mengapa manusia harus berbuat baik. Teknologi memperbesar kemampuan manusia, tetapi tidak menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.
AI dapat meniru kecerdasan manusia, tetapi manusialah yang harus menentukan nilai yang menuntunnya. Lantaran itu, masa depan agama tidak bergantung pada seberapa sering Tuhan dibicarakan, melainkan seberapa nyata nilai ketuhanan menjawab persoalan kemanusiaan.
Di sinilah ilmu, penciptaan, dan pengabdian menemukan muaranya. Pendidikan bukan sekadar melahirkan manusia pintar, teknologi bukan sekadar membuat manusia produktif, dan kekuasaan bukan sekadar menjadikan manusia berkuasa. Semuanya ikhtiar peradaban harus bergerak menuju kemaslahatan.
Muhammad SAW menunjukkan bahwa jalan menuju Tuhan justru mendekatkan manusia kepada sesamanya. Semakin dekat kepada Tuhan, semakin besar tanggung jawab kemanusiaannya. Sejatinya, pertanyaan masa depan Tuhan perlu dibalik.
Bukan Tuhan yang membutuhkan masa depan. Kitalah yang membutuhkan Tuhan untuk menuntun masa depan. Tuhan tak akan pernah kehilangan masa depan, justru manusialah yang bisa kehilangan Tuhan dari masa depannya.
Di situlah Maulid menemukan makna substansialnya. Ketika bershalawat kepada Nabi melahirkan keteladanan, iman melahirkan amanah, ilmu melahirkan pengabdian, kekuasaan melahirkan keadilan, teknologi melahirkan kemanfaatan, dan agama melahirkan kasih sayang.
Itulah masa depan Tuhan, yakni ketika nilai-nilai ketuhanan tetap hidup dan terinternalisasi dalam perilaku manusia, serta menuntunnya dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
(*) Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember; Alumnus Pondok Pesantren Al-Hidayah Jengkebuan Bangkalan


