METROTODAY, SURABAYA – El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah Indonesia berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menimbulkan bencana sekunder lainnya.
Pakar manajemen bencana Aditya Prana Iswara, menegaskan upaya mitigasi tidak akan berjalan optimal selama penanganan bencana masih bersifat reaktif dan terhambat ego sektoral antarlembaga.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan, baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya, Minggu (23/8).
Aditya menyoroti pentingnya setiap rumah tangga memiliki cadangan air mandiri sebagai langkah antisipatif saat sumber air kian menipis. Salah satu cara paling praktis adalah memanfaatkan air hujan melalui sistem rain harvesting atau pemanenan air hujan.
“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya.
Caranya pun sederhana: aliran air hujan dari talang rumah diarahkan ke penampungan, melewati proses penyaringan atau sterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Meski volumenya mungkin belum mencukupi seluruh kebutuhan harian, langkah ini efektif mengurangi ketergantungan pada sumber air umum saat musim kemarau panjang.
“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” tutur pengajar pascasarjana Unair ini.
METROTODAY, SURABAYA – El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah Indonesia berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menimbulkan bencana sekunder lainnya.
Pakar manajemen bencana Aditya Prana Iswara, menegaskan upaya mitigasi tidak akan berjalan optimal selama penanganan bencana masih bersifat reaktif dan terhambat ego sektoral antarlembaga.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan, baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” ungkapnya, Minggu (23/8).
Aditya menyoroti pentingnya setiap rumah tangga memiliki cadangan air mandiri sebagai langkah antisipatif saat sumber air kian menipis. Salah satu cara paling praktis adalah memanfaatkan air hujan melalui sistem rain harvesting atau pemanenan air hujan.
“Kita harus punya reservoir sendiri. Dari mana kita ambil airnya? Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Kita bisa melakukan rain harvesting,” ujarnya.
Caranya pun sederhana: aliran air hujan dari talang rumah diarahkan ke penampungan, melewati proses penyaringan atau sterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Meski volumenya mungkin belum mencukupi seluruh kebutuhan harian, langkah ini efektif mengurangi ketergantungan pada sumber air umum saat musim kemarau panjang.
“Talang kita arahkan ke satu sudut, satu sisi ke arah tandon di bawah dengan melewati proses filter lebih dulu sehingga nanti airnya bisa digunakan. Meskipun mungkin sangat minim ya, karena penggunaan air kita sehari-hari cukup besar,” tutur pengajar pascasarjana Unair ini.