METROTODAY, SURABAYA – Di usia yang telah menginjak 72 tahun, Tri Prasetiyowati tak berhenti menimba ilmu. Pada Wisuda ke-121 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (12/8) lalu, ia resmi menyelesaikan pendidikan Magister Bimbingan dan Konseling dan tercatat sebagai wisudawan tertua.
Perjalanan kembali ke bangku kuliah bukanlah demi karir atau sekadar menambah gelar melainkan keinginan tulus untuk memahami perubahan cara berkomunikasi dan pola pikir generasi yang berbeda dengan zamannya.
Sebagai ibu dari dua anak, Tri merasakan sendiri kesenjangan tersebut tumbuh semakin nyata seiring anak-anaknya beranjak dewasa.
“Ketika anak-anak semakin besar, saya selalu mendidik mereka dengan cara saya sendiri. Mulai dari bayi itu saya tangani sendiri. Lama-lama saya merasa sebagai ibu itu dengan zaman saya dulu jauh berbeda. Kalau saya dulu melihat orang tua, saya tirukan dikasih kode sudah mengerti. Kalau masa anak saya, kalau saya bilang gitu, dia bisa ngomong pendapatnya sendiri,” ujarnya, Minggu (16/8).
Dahulu Tri sempat menempuh pendidikan tinggi hingga semester empat, namun terhenti setelah menikah dan mendampingi suami yang bertugas sebagai prajurit TNI Angkatan Laut. Api semangat belajar tak pernah padam.
Saat pandemi Covid-19 membatasi aktivitas pada 2020 di usia 66 tahun ia memulai kembali dari awal, menempuh S-1 Bimbingan dan Konseling di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA), yang diselesaikan September 2024. Langsung melanjutkan ke jenjang S-2 di Unesa.
Di usia tersebut, tantangan terbesar adalah kemampuan mengingat materi. Tri menemukan strategi sendiri dengan membaca buku, merekam setiap penjelasan dosen, mencari referensi lewat internet, hingga membuat singkatan agar lebih mudah dihafal.
“Tantangannya kalau sudah usia gini, dijelasin materi itu memang ingat tapi gampang hilang. Jadi saya harus punya bukunya dan penjelasan dari dosen saya rekam. Di samping itu bantuan dari Google itu luar biasa. Dulu kalau kuliah harus ke perpustakaan, dengan usia yang segini enggak usah wira-wiri,” tuturnya.
Selain dukungan keluarga, keberadaannya di kelas bersama mahasiswa yang jauh lebih muda justru menjadi sumber pembelajaran terbesar. Bahkan tesis yang ditulisnya berfokus pada masalah yang dihadapi mahasiswa muda pengaruh mekanisme penyesuaian diri, dukungan sosial, dan kebiasaan menunda-nunda tugas pada mahasiswa baru.
Bagi Tri, perjalanannya membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. “Belajar tidak selalu harus dimulai pada usia tertentu atau berhenti ketika seseorang telah memasuki usia tertentu,” ucapnya. Semangatnya membuktikan untuk memahami perubahan zaman dan tetap tumbuh bersama generasi yang terus bergerak, tak ada kata terlambat untuk kembali belajar. (ahm)


