METROTODAY, SURABAYA – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Persebaya Surabaya dan komunitas Bonek. Tokoh suporter legendaris Persebaya, Andie Peci atau Andy Kristiantono, meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026) sekitar pukul 11.25 WIB, setelah menjalani perawatan di RSUD dr. Mohamad Soewandhie, Surabaya.
Kabar wafatnya dikonfirmasi oleh sejumlah tokoh Bonek, termasuk Koordinator Bonek Husein Ghozali (Cak Conk), serta disampaikan melalui akun resmi komunitas Bonek. Persebaya Surabaya juga menyampaikan belasungkawa atas kepergian sosok yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu simbol perjuangan klub berjuluk Bajul Ijo tersebut.
Bagi publik sepak bola Surabaya, Andie Peci bukan sekadar suporter biasa, melainkan sosok “api penyemangat” sekaligus aktor vokal di balik sejarah bangkitnya Persebaya Surabaya. Pria kelahiran Madiun itu merupakan motor penggerak utama dalam aksi-aksi Bonek ketika klub kebanggaan mereka menghadapi dualisme dan pembekuan keanggotaan oleh PSSI pada rentang waktu 2010 hingga 2017. Kemampuannya yang piawai dalam membangun komunikasi, bernegosiasi, dan mengonsolidasikan massa suporter menjadikannya benteng pertahanan terakhir bagi marwah Persebaya.
Salah satu momentum paling bersejarah yang dinahkodai oleh Andie Peci adalah ketika dirinya memimpin pergerakan ribuan Bonek menuju Bandung demi mengawal jalannya Kongres Tahunan PSSI pada 8 Januari 2017. Perjuangan gigih dan tak kenal lelah yang dikomandoinya tersebut akhirnya membuahkan hasil manis ketika PSSI secara resmi memulihkan status keanggotaan Persebaya Surabaya. Green Force -julukan Persebaya- pun dapat kembali berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Di luar sepak bola, Andie Peci juga dikenal sebagai aktivis buruh. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan aktif mengadvokasi berbagai isu ketenagakerjaan. Kiprahnya di dunia pergerakan sosial berjalan beriringan dengan dedikasinya membela Persebaya, sehingga ia dihormati baik oleh kalangan suporter maupun organisasi buruh nasional.
Hingga Jumat malam, penyebab pasti penyakit yang diderita Andie Peci belum diumumkan secara resmi oleh pihak keluarga maupun rumah sakit. Sejumlah laporan menyebut almarhum telah menjalani perawatan selama beberapa bulan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSUD dr. Mohamad Soewandhie.
Koordinator Bonek Husein Ghozali mengaku mengetahui bahwa Andie Peci memang dirawat intensif, namun tidak mengetahui secara pasti diagnosis penyakit yang diderita. Karena itu, penyebab kematian secara medis belum dapat dipastikan.
Ucapan belasungkawa langsung membanjiri media sosial. Persebaya menyebut kepergian Andie Peci sebagai kehilangan besar bagi keluarga tim Bajul Ijo -julukan Persebaya-. Banyak mantan pemain, tokoh sepak bola, hingga komunitas suporter dari berbagai daerah turut mengenang jasa-jasanya dalam mempertahankan eksistensi Persebaya pada masa-masa paling sulit. Bahkan rival-rival suporter di Indonesia turut menyampaikan penghormatan terakhir sebagai bentuk respek terhadap dedikasi almarhum di dunia sepak bola nasional.
Jenazah Andie Peci disemayamkan di rumah duka di Jalan Tanjung Manis No. 61, Kecamatan Manisrejo, Kota Madiun, sebelum dimakamkan di kampung halamannya. Ratusan Bonek mengantar kepergian pria yang selama lebih dari satu dekade dikenal sebagai salah satu penjaga marwah Persebaya. Bagi banyak pendukung Bajul Ijo, nama Andie Peci akan selalu dikenang sebagai sosok yang berdiri di garis depan ketika identitas Persebaya berada di ujung tanduk. (ezaar)

