Datang Bawa Mimpi, Pulang Jadi Juru Kunci! Ceko Dibantai Meksiko dan Dihujani Kritik

METROTODAY, MEXICO CITY – Timnas Meksiko menutup fase grup Piala Dunia 2026 dengan cemerlang. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukungnya di Estadio Azteca, El Tri mengalahkan Republik Ceko dengan skor telak 3-0 pada laga terakhir Grup A, Rabu (24/6) waktu setempat atau Kamis pagi WIB.

Hasil tersebut memastikan Meksiko melaju ke babak 32 besar dengan rekor sempurna tiga kemenanangan dari tiga pertandingan, sementara Ceko harus angkat koper sebagai penghuni dasar klasemen grup.

Meski sudah memastikan diri sebagai juara grup sebelum pertandingan dimulai, skuad asuhan Javier Aguirre tetap tampil agresif. Babak pertama berlangsung relatif seimbang, namun perlawanan Ceko perlahan memudar setelah Mateo Chavez memecah kebuntuan pada menit ke-55.

Julian Quinones kemudian menggandakan keungguluan enam menit berselang sebelum Alvaro Fidalgo menutup peluang Ceko pada masa injury time. Narodak (julukan Ceko) yang butuh kemenangan justru gagal menciptakan peluang berbahaya sepanjang laga.

Kemenangan ini semakin menegaskan kekuatan Meksiko di rumah sendiri. Reuters mencatat El Tri kini memiliki track record sembilan pertandingan Piala Dunia tanpa kekalahan di Estadio Azteca.

Lebih mengesankan lagi, mereka menyapu bersih fase grup dengan catatan cleansheet alias tanpa kebobolan satu gol pun. Padahal, Grup A dihuni sejumlah striker elite seperti Son Heung-min dari Korea Selatan dan Patrick Shick dari Ceko.

Fakta tersebut menjadikan Meksiko sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik sepanjang fase grup pada turnamen tahun ini.

Salah satu cerita menarik dalam pertandingan ini datang dari Gilberto Mora. Gelandang berusia 17 tahun tersebut menjadi starter dan tampil matang meski usianya masih sangat belia.

Banyak media menyebut Mora menjadi pemain termuda yang tampil sebagai starter di Piala Dunia sejak 2002. Penampilannya bahkan ikut berkontribusi dalam proses lahirnya gol kedua Meksiko kontra Ceko, sebuah sinyal bahwa El Tri mulai menemukan prospek menjanjikan dari generasi baru.

Momen emosional juga hadir dari kiper veteran Guillermo Ochoa yang masuk pada pengujung pertandingan menggantikan Raul Rangel.

Penampilan tersebut menjadi caps ke-154 bersama tim nasional dan kemungkinan besar menjadi laga Piala Dunia terakhir dalam karier sang legenda yang telah mengikuti enam edisi Piala Dunia bersamaan rekor dengan Cristiano Ronaldo (Portugal) dan Lionel Messi (Argentina).

Publik Azteca pun memberikan tepuk tangan panjang kepada penjaga gawang yang telah menjadi bagian penting sepak bola Meksiko selama lebih dari dua dekade.

Di sisi lain, kegagalan Ceko memicu gelombang kekecewaan dari berbagai pihak. Pelatih Miroslav Koubek menjadi orang pertama yang melontarkan kritik keras terhadap timnya.

Dalam sesi wawancara usai pertandingan, ia menyebut anak asuhnya melakukan kesalahan-kesalahan bodoh sepanjang turnamen dan mengakui kualitas teknis sepak bola Ceko masih tertinggal dari negara-negara pesaing di level tertinggi.

Koubek memandang kelelahan akibat perjalanan panjang selama turnamen juga menjadi salah satu alasan kegagalan mereka.

Kekecewaan juga datang dari kapten Ladislav Krejci dan sejumlah mantan pemain tim nasional yang menjadi analis di media lokal. Sebelum turnamen, Krejci sempat optimistis timnya mampu membuat kejutan, namun kenyataannya Ceko hanya mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan.

Media-media lokal Ceko seperti Idnes.cz dan Sport.cz menyoroti kegagalan tim negaranya mempertahankan keunggulan saat menghadapi Korea Selatan dan Afrika Selatan, dua hasil yang diyakini menjadi awal dari kehancuran mereka di Grup A.

Tak hanya itu, sejumlah komentator Eropa menilai Ceko tampil jauh di bawah ekspektasi. The Guardian menyoroti minimnya kreativitas lini tengah dan buruknya transisi menyerang.

Sementara di lini depan, Patrick Shick yang diharapkan menjadi tumpuan lumbung gol gagal memperoleh suplai bola yang memadai sepanjang turnamen. Banyak pengamat menilai generasi saat ini belum mampu menyamai kualitas emas Ceko era Pavel Nedved pada Euro 2004.

Di kubu Meksiko, pelatih Javier Aguirre memilih merendah usai pertandingan. Menurutnya, keberhasilan menjadi juara grup tidak berarti apa-apa jika Meksiko kembali gagal menembus perempat final seperti yang sering terjadi dalam sejarah mereka.

Namun melihat peak performance Meksiko tahun ini, tentu optimisme kini sedang menyelimuti sepak bola Meksiko jelang babak knock-out. (ezaar/mt)

METROTODAY, MEXICO CITY – Timnas Meksiko menutup fase grup Piala Dunia 2026 dengan cemerlang. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukungnya di Estadio Azteca, El Tri mengalahkan Republik Ceko dengan skor telak 3-0 pada laga terakhir Grup A, Rabu (24/6) waktu setempat atau Kamis pagi WIB.

Hasil tersebut memastikan Meksiko melaju ke babak 32 besar dengan rekor sempurna tiga kemenanangan dari tiga pertandingan, sementara Ceko harus angkat koper sebagai penghuni dasar klasemen grup.

Meski sudah memastikan diri sebagai juara grup sebelum pertandingan dimulai, skuad asuhan Javier Aguirre tetap tampil agresif. Babak pertama berlangsung relatif seimbang, namun perlawanan Ceko perlahan memudar setelah Mateo Chavez memecah kebuntuan pada menit ke-55.

Julian Quinones kemudian menggandakan keungguluan enam menit berselang sebelum Alvaro Fidalgo menutup peluang Ceko pada masa injury time. Narodak (julukan Ceko) yang butuh kemenangan justru gagal menciptakan peluang berbahaya sepanjang laga.

Kemenangan ini semakin menegaskan kekuatan Meksiko di rumah sendiri. Reuters mencatat El Tri kini memiliki track record sembilan pertandingan Piala Dunia tanpa kekalahan di Estadio Azteca.

Lebih mengesankan lagi, mereka menyapu bersih fase grup dengan catatan cleansheet alias tanpa kebobolan satu gol pun. Padahal, Grup A dihuni sejumlah striker elite seperti Son Heung-min dari Korea Selatan dan Patrick Shick dari Ceko.

Fakta tersebut menjadikan Meksiko sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik sepanjang fase grup pada turnamen tahun ini.

Salah satu cerita menarik dalam pertandingan ini datang dari Gilberto Mora. Gelandang berusia 17 tahun tersebut menjadi starter dan tampil matang meski usianya masih sangat belia.

Banyak media menyebut Mora menjadi pemain termuda yang tampil sebagai starter di Piala Dunia sejak 2002. Penampilannya bahkan ikut berkontribusi dalam proses lahirnya gol kedua Meksiko kontra Ceko, sebuah sinyal bahwa El Tri mulai menemukan prospek menjanjikan dari generasi baru.

Momen emosional juga hadir dari kiper veteran Guillermo Ochoa yang masuk pada pengujung pertandingan menggantikan Raul Rangel.

Penampilan tersebut menjadi caps ke-154 bersama tim nasional dan kemungkinan besar menjadi laga Piala Dunia terakhir dalam karier sang legenda yang telah mengikuti enam edisi Piala Dunia bersamaan rekor dengan Cristiano Ronaldo (Portugal) dan Lionel Messi (Argentina).

Publik Azteca pun memberikan tepuk tangan panjang kepada penjaga gawang yang telah menjadi bagian penting sepak bola Meksiko selama lebih dari dua dekade.

Di sisi lain, kegagalan Ceko memicu gelombang kekecewaan dari berbagai pihak. Pelatih Miroslav Koubek menjadi orang pertama yang melontarkan kritik keras terhadap timnya.

Dalam sesi wawancara usai pertandingan, ia menyebut anak asuhnya melakukan kesalahan-kesalahan bodoh sepanjang turnamen dan mengakui kualitas teknis sepak bola Ceko masih tertinggal dari negara-negara pesaing di level tertinggi.

Koubek memandang kelelahan akibat perjalanan panjang selama turnamen juga menjadi salah satu alasan kegagalan mereka.

Kekecewaan juga datang dari kapten Ladislav Krejci dan sejumlah mantan pemain tim nasional yang menjadi analis di media lokal. Sebelum turnamen, Krejci sempat optimistis timnya mampu membuat kejutan, namun kenyataannya Ceko hanya mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan.

Media-media lokal Ceko seperti Idnes.cz dan Sport.cz menyoroti kegagalan tim negaranya mempertahankan keunggulan saat menghadapi Korea Selatan dan Afrika Selatan, dua hasil yang diyakini menjadi awal dari kehancuran mereka di Grup A.

Tak hanya itu, sejumlah komentator Eropa menilai Ceko tampil jauh di bawah ekspektasi. The Guardian menyoroti minimnya kreativitas lini tengah dan buruknya transisi menyerang.

Sementara di lini depan, Patrick Shick yang diharapkan menjadi tumpuan lumbung gol gagal memperoleh suplai bola yang memadai sepanjang turnamen. Banyak pengamat menilai generasi saat ini belum mampu menyamai kualitas emas Ceko era Pavel Nedved pada Euro 2004.

Di kubu Meksiko, pelatih Javier Aguirre memilih merendah usai pertandingan. Menurutnya, keberhasilan menjadi juara grup tidak berarti apa-apa jika Meksiko kembali gagal menembus perempat final seperti yang sering terjadi dalam sejarah mereka.

Namun melihat peak performance Meksiko tahun ini, tentu optimisme kini sedang menyelimuti sepak bola Meksiko jelang babak knock-out. (ezaar/mt)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait