8 April 2026, 4:41 AM WIB

Dampak Konflik Timur Tengah, Pemprov Jatim Atur Distribusi BBM dan LPG

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai membayangi stabilitas ekonomi nasional.

Tersendatnya pasokan minyak dunia memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Menyikapi situasi global tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bergerak cepat melakukan langkah mitigasi.

Pada Senin (6/4), Pemprov Jatim secara resmi meluncurkan gerakan hemat energi sekaligus memetakan potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino guna menjaga status Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga untuk memastikan stok energi tetap aman.

Fokus utama saat ini bukanlah pembatasan, melainkan penyesuaian distribusi BBM dan LPG 3 kilogram agar tepat sasaran.

“Kita pastikan para Pedagang Kaki Lima (PKL) terdaftar di pangkalan-pangkalan resmi. Ini penting agar data lebih detail dan menghindari gejolak harga secara psikologis di masyarakat,” ujar Khofifah, Senin (6/4).

Selain itu, Pemprov Jatim juga menggalakkan gerakan hemat energi yang dimulai secara serentak sejak Senin.

Di sisi lain, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino juga menjadi fokus utama. Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Mei hingga Agustus 2026.

Untuk mempertahankan produktivitas pertanian, Pemprov Jatim telah menyiapkan sejumlah langkah strategis pemetaan detail dengan melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan hingga level desa, bukan lagi sekadar tingkat kabupaten/kota.

Selain itu juga dengan melakukan modifikasi cuaca dengan bekerja sama dengan BNPB dan BMKG untuk mengelola potensi awan menjadi sumber air melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Khofifah mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan efisiensi energi secara mandiri di rumah tangga masing-masing.

“Kemarin kita gunakan manajemen hidrometeorologi untuk mengelola hujan, nanti kita gunakan untuk me-manage awan agar menjadi sumber air. Ini semua agar lumbung pangan kita tetap terjaga meski El Nino lebih panjang,” tutur Khofifah.

Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama agar Jawa Timur mampu bertahan di tengah guncangan krisis global dan tantangan iklim yang terjadi saat ini. (ahm)

spot_img

METROTODAY, SURABAYA – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai membayangi stabilitas ekonomi nasional.

Tersendatnya pasokan minyak dunia memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Menyikapi situasi global tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bergerak cepat melakukan langkah mitigasi.

Pada Senin (6/4), Pemprov Jatim secara resmi meluncurkan gerakan hemat energi sekaligus memetakan potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino guna menjaga status Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga untuk memastikan stok energi tetap aman.

Fokus utama saat ini bukanlah pembatasan, melainkan penyesuaian distribusi BBM dan LPG 3 kilogram agar tepat sasaran.

“Kita pastikan para Pedagang Kaki Lima (PKL) terdaftar di pangkalan-pangkalan resmi. Ini penting agar data lebih detail dan menghindari gejolak harga secara psikologis di masyarakat,” ujar Khofifah, Senin (6/4).

Selain itu, Pemprov Jatim juga menggalakkan gerakan hemat energi yang dimulai secara serentak sejak Senin.

Di sisi lain, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino juga menjadi fokus utama. Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Mei hingga Agustus 2026.

Untuk mempertahankan produktivitas pertanian, Pemprov Jatim telah menyiapkan sejumlah langkah strategis pemetaan detail dengan melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan hingga level desa, bukan lagi sekadar tingkat kabupaten/kota.

Selain itu juga dengan melakukan modifikasi cuaca dengan bekerja sama dengan BNPB dan BMKG untuk mengelola potensi awan menjadi sumber air melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Khofifah mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan efisiensi energi secara mandiri di rumah tangga masing-masing.

“Kemarin kita gunakan manajemen hidrometeorologi untuk mengelola hujan, nanti kita gunakan untuk me-manage awan agar menjadi sumber air. Ini semua agar lumbung pangan kita tetap terjaga meski El Nino lebih panjang,” tutur Khofifah.

Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama agar Jawa Timur mampu bertahan di tengah guncangan krisis global dan tantangan iklim yang terjadi saat ini. (ahm)

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait