Categories: Tokoh

Maestro Ludruk Jatim Cak Kartolo Masuk Memori Kolektif Bangsa

Menurut Yusuf, nilai lebih dari sosok Cak Kartolo terletak pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Ia mampu mengubah tampilan ludruk dari pertunjukan besar dengan musik konvensional, menyesuaikan diri dengan teknologi digital, hingga sanggup tampil solo meski kesenian ini berbasis kelompok.

Hal ini menjadi keistimewaan yang jarang dimiliki seniman ludruk generasi sebelumnya.

“Beliau mampu menyesuaikan tradisi ludruk dengan perkembangan zaman dan wilayah. Dulu personelnya banyak dan musik konvensional, sekarang sudah pakai sistem digital. Uniknya, beliau legenda yang bisa tampil solo, padahal dasarnya grup. Tidak semua seniman bisa seperti itu,” jelasnya,

Tak hanya piawai di atas panggung, Cak Kartolo juga memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya dokumentasi.

Sejak tahun 1960-an, ia secara mandiri dan tertata rapi mengarsipkan naskah pertunjukan, skrip, agenda kegiatan, hingga catatan tangannya sendiri. Arsip inilah yang menjadi dasar penilaian utama ANRI.

“Penilaian itu berangkat dari arsip milik beliau sendiri. Padahal tidak punya manajer, tapi administrasinya tertata sangat baik. Bahkan kalau diundang instansi, tema jula-julinya bisa langsung disesuaikan. Di usia yang sudah 81 tahun, kemampuan beradaptasi dan konsistensi itu luar biasa,” tambahnya.

Program Memori Kolektif Bangsa sendiri merupakan upaya ANRI menyelamatkan arsip bernilai sejarah yang merepresentasikan identitas bangsa.

Penetapan ini melalui seleksi ketat mulai dari nominasi hingga verifikasi. Yusuf menegaskan penghargaan ini tidak didapatkan secara instan.

“Pengajuan Memori Kolektif Bangsa dilakukan setiap tahun dan ada proses seleksi panjang. Tidak bisa langsung lolos begitu saja. Penghargaan ini menegaskan bahwa ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan bagian memori budaya bangsa yang hidup,” tandasnya.

Usai menerima penghargaan, Cak Kartolo sempat membawakan jula-juli atau parikan khas Suroboyoan di hadapan peserta Rakornas Kearsipan, membuktikan bahwa karya seninya tetap relevan dan diterima lintas generasi. (ahm)

Page: 1 2

Jay Wijayanto

Recent Posts

Bukan yang Paling Gacor, Justru Si Paling Populer: Fan Vote Player of the Match Piala Dunia 2026 Dianggap Bias

Pemilihan Player of the Match (POTM) di Piala Dunia 2026 mendadak menjadi bahan perdebatan. Mekanisme…

1 day ago

Gaya Elit Menang Sulit: Skuad Mewah Brasil Main Parkir Bus, Didobrak Haaland Sampai Mampus!

Laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium pada Senin (6/7) dinihari WIB…

1 day ago

Menhaj Gus Irfan Akui Mediasi dengan Hanania Travel yang Diduga Gelapkan Dana Umrah 1.430 Jemaah Tak Berhasil

Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah umrah yang melibatkan PT Hanania Tama International…

1 day ago

Musik Lebih dari Sekadar Hiburan: Perannya dalam Budaya dan Tantangan di Era Digital

Musik merupakan salah satu karya seni yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Selain sebagai…

1 day ago

Adidas Trionda Final: Bola Resmi Khusus Babak Semifinal hingga Final Piala Dunia 2026

Menyambut fase paling krusial dalam perebutan trofi paling bergengsi di jagat sepak bola, produsen perlengkapan…

1 day ago

Abad 16 Okol Ritual Panggil Hujan, Kini Masih Dilestarikan di Surabaya Barat untuk Cegah Perselisihan

Olahraga okol atau yang lebih dikenal sebagai gulat tradisional, merupakan salah satu warisan budaya yang…

2 days ago

This website uses cookies.