Categories: Surabaya

Abad 16 Okol Ritual Panggil Hujan, Kini Masih Dilestarikan di Surabaya Barat untuk Cegah Perselisihan

METROTODAY, SURABAYA – Olahraga okol atau yang lebih dikenal sebagai gulat tradisional, merupakan salah satu warisan budaya yang telah lama menjadi hiburan sekaligus tradisi masyarakat di kawasan Surabaya Barat, khususnya di daerah Beringin. Uniknya, olahraga ini telah ada dan dijalankan sejak tahun 1500-an atau abad ke-16, dan menjadikannya sebagai salah satu olahraga tertua di Surabaya.

Kini, okol tidak lagi hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Kaum perempuan hingga anak-anak dan generasi muda juga turut berpartisipasi dalam adu kekuatan untuk saling menjatuhkan lawan di atas arena yang telah disiapkan.

Salah satu warga Beringin, Iswanto, menjelaskan bahwa arena pertandingan dibuat khusus menggunakan alas jerami yang kemudian ditutup dengan terpal. Hal ini bertujuan agar para pegulat yang terbanting ke lantai tidak merasakan sakit atau terhindar dari risiko cedera.

Okol masih lestari di Surabaya Barat, biasanya digelar saat momen sedekah bumi, bahkan juga diikuti kaum perempuan. (Foto: Ahmad/METROTODAY)

“Dalam setiap pertandingan, para pegulat wajib mengenakan selendang yang diikatkan di bagian perut. Selendang ini berfungsi sebagai pegangan untuk menarik lawan, sedangkan ikat kepala yang dipakai menjadi simbol kejantanan dan semangat seorang pegulat,” terang Iswanto, Minggu (5/7).

Aturan mainnya cukup sederhana: setiap pertandingan diikuti oleh dua orang peserta yang bertarung satu lawan satu. Jika hasilnya seri, pertandingan akan dilanjutkan hingga babak ketiga untuk menentukan pemenang.

Pegulat yang menang berhak mendapatkan hadiah berupa kaus dan uang tunai. Lebih dari sekadar hiburan dan ajang mengadu kekuatan, tradisi ini memiliki makna sosial yang mendalam.

“Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persatuan dan kesatuan antarwarga. Dengan adanya kegiatan positif seperti ini, diharapkan tidak ada lagi perselisihan atau tawuran yang bisa merugikan banyak pihak,” imbuhnya.

Biasanya, pertandingan okol diselenggarakan secara terbuka dan rutin setahun sekali, tepatnya saat momen perayaan sedekah bumi atau bersih desa. Pesertanya pun terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang asal daerah.

Page: 1 2

Jay Wijayanto

Recent Posts

Wisudawan Untag Asal NTT Hadiri Wisuda Tanpa Keluarga, Civitas Akademis Urunan Kirim Donasi

Kebahagiaan wisuda ke-133 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Sabtu (22/8), terasa lebih bermakna. Di…

5 hours ago

Melintas di Jalur Khusus R4, Pemotor Warga Gresik Tewas Ditabrak Mobil di Jembatan Suramadu

Kecelakaan lalu lintas antara sepeda motor dan mobil terjadi di area Jembatan Suramadu, Tambak Wedi,…

5 hours ago

Sampah Horeka di Keputih Dipilah Sembarangan Ancam Lingkungan, Cak Eri Ancam Pidanakan Pengelola

Pemkot Surabaya menertibkan aktivitas pemilahan dan pengolahan sampah tanpa izin di lahan seluas sekitar 1,4…

5 hours ago

Wayang Pandawa Jadi Art Toys, Mahasiswa UK Petra Kenalkan Budaya Jawa ke Gen Alpha

Pameran tugas akhir Adiwarna 2026 karya mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) dan International Program in…

5 hours ago

Didukung 36 Cabor, Rafi Wibisono Daftar Calon Ketua Umum KONI Sidoarjo

Rafi Wibisono meramaikan bursa calon ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sidoarjo periode…

8 hours ago

Akses Nagekeo Tersendat, Gempa Susulan Terus Terjadi, Tim ITS Turun Pantau Struktur Bangunan di NTT

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) segera menerjunkan tim Satgas Bencana untuk melakukan peninjauan ke lokasi…

17 hours ago

This website uses cookies.