Tak hanya burung, hasil pengamatan dan penelitian juga menemukan banyak jenis kupu-kupu serta keberadaan kucing bakau. Satwa yang terakhir ini ditemukan melalui penelitian yang dilakukan dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Beberapa waktu lalu ada pencinta kupu-kupu datang ke sini, ternyata ragamnya cukup banyak. Sedangkan untuk kucing bakau, berdasarkan penelitian dosen Unesa pernah ditemukan. Dulu kita sempat ingin memperbanyak untuk menyelamatkan kelangkaannya, tapi ternyata tidak bisa karena satwa ini hidupnya memang liar dan tidak dapat dikembangbiakkan di penangkaran,” jelasnya.
Keberadaan kucing bakau sendiri dinilai Dian sebagai indikator utama kualitas lingkungan. Satwa ini hanya dapat hidup di kawasan yang ekosistemnya masih sehat dan seimbang.
“Tidak banyak tempat yang masih bisa ditemukan kucing bakau. Kehadirannya menunjukkan bahwa ekosistem di sini terjaga dengan sangat baik,” ungkapnya.
Selain itu, kawasan ini juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon, sejenis kepiting bakau yang mengandung zat beracun sehingga tidak layak dikonsumsi.
Sementara untuk jenis satwa lain, biawak masih sering terlihat, sedangkan buaya belum ditemukan di wilayah Gunung Anyar, meski pernah tercatat ada di kawasan Wonorejo.
Saat ini, KRM Surabaya mengelola dua wilayah terpisah, yaitu kawasan Gunung Anyar–Medokan Sawah dan Wonorejo dengan total luas mencapai 34 hektare. Meskipun hutan bakau berfungsi sangat baik menahan abrasi pantai, tantangan utama yang dihadapi adalah limpahan sampah yang terbawa aliran sungai.
“Surabaya berada di wilayah hilir, sehingga pasti menerima kiriman sampah dari berbagai daerah hulu. Jika sampah tersangkut di akar pohon, hal ini bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mangrove itu sendiri,” pungkasnya. (ahm)
Tak hanya burung, hasil pengamatan dan penelitian juga menemukan banyak jenis kupu-kupu serta keberadaan kucing bakau. Satwa yang terakhir ini ditemukan melalui penelitian yang dilakukan dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Beberapa waktu lalu ada pencinta kupu-kupu datang ke sini, ternyata ragamnya cukup banyak. Sedangkan untuk kucing bakau, berdasarkan penelitian dosen Unesa pernah ditemukan. Dulu kita sempat ingin memperbanyak untuk menyelamatkan kelangkaannya, tapi ternyata tidak bisa karena satwa ini hidupnya memang liar dan tidak dapat dikembangbiakkan di penangkaran,” jelasnya.
Keberadaan kucing bakau sendiri dinilai Dian sebagai indikator utama kualitas lingkungan. Satwa ini hanya dapat hidup di kawasan yang ekosistemnya masih sehat dan seimbang.
“Tidak banyak tempat yang masih bisa ditemukan kucing bakau. Kehadirannya menunjukkan bahwa ekosistem di sini terjaga dengan sangat baik,” ungkapnya.
Selain itu, kawasan ini juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon, sejenis kepiting bakau yang mengandung zat beracun sehingga tidak layak dikonsumsi.
Sementara untuk jenis satwa lain, biawak masih sering terlihat, sedangkan buaya belum ditemukan di wilayah Gunung Anyar, meski pernah tercatat ada di kawasan Wonorejo.
Saat ini, KRM Surabaya mengelola dua wilayah terpisah, yaitu kawasan Gunung Anyar–Medokan Sawah dan Wonorejo dengan total luas mencapai 34 hektare. Meskipun hutan bakau berfungsi sangat baik menahan abrasi pantai, tantangan utama yang dihadapi adalah limpahan sampah yang terbawa aliran sungai.
“Surabaya berada di wilayah hilir, sehingga pasti menerima kiriman sampah dari berbagai daerah hulu. Jika sampah tersangkut di akar pohon, hal ini bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mangrove itu sendiri,” pungkasnya. (ahm)