Categories: Surabaya

Suasana Haru Wisuda Unesa: Ibu Gantikan Putrinya yang Meninggal Dunia, Adik Dapat Beasiswa

METROTODAY, SURABAYA – Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang digelar di Graha Unesa, Kamis (25/6). Dari 1.500 lulusan yang mengenakan toga, satu nama tidak hadir secara fisik.

Linda Ayu Tivani, mahasiswi Fakultas Ekonomi berusia 22 tahun, telah meninggal dunia akibat penyakit paru-paru basah yang berkembang sangat cepat. Kehadirannya dalam acara wisuda pun diwakili oleh ibunya, Kartiwi.

Menurut Kartiwi, Linda merupakan sosok yang pendiam dan tidak pernah mengeluh. Ia lebih memilih memendam rasa sakit agar tidak merepotkan orang lain maupun teman-temannya, sehingga kondisinya baru terdeteksi saat sudah memasuki tahap lanjut.

Wisuda Unesa.

Gejala sakit baru muncul sekitar dua bulan sebelum ia meninggal. Awalnya hanya disertai batuk-batuk, namun setelah diperiksa melalui rontgen, dokter mendapati paru-parunya sudah memutih dan terisi cairan.

“Tanggal 6 hasil rontgen keluar, sore harinya langsung dirawat inap. Saat itu cairan yang diambil sekitar 250 mililiter. Setelah sebulan kontrol tidak ada perubahan, malah dia makin lemah dan tidak bisa berjalan. Saya bawa ke rumah sakit di Kediri, ternyata cairannya sudah penuh,” kata Kartiwi.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan jumlah cairan di paru-paru mencapai sekitar 6 liter, jauh melebihi batas normal yang hanya berkisar 3–4 liter, serta berwarna sangat gelap.

“Dokter pun kaget melihat kondisinya. Selama ini dia anak yang pendiam, tidak pernah mau mengeluh atau cerita kalau merasa sakit. Tidak mau merepotkan orang tua maupun teman-temannya, jadi semuanya dipendam sendiri. Akhirnya saya baru tahu kondisinya sudah parah,” ujarnya.

Meskipun tubuhnya makin melemah, Linda enggan mengambil cuti kuliah karena khawatir kehilangan beasiswa yang diterimanya.

Sang ibu bahkan sempat menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu dan menawarkan biaya pendidikan jika harus menambah masa studi, namun Linda tetap bersikeras menyelesaikan revisi jurnal tugas akhirnya.

“Dia bilang takut beasiswanya hilang. Saya katakan tidak apa-apa, nanti cari uang untuk bayar UKT. Tapi dia tetap tidak mau berhenti. Bahkan setelah keluar rumah sakit tanggal 19, dia masih bilang sudah bisa jalan tanpa bantuan kursi roda,” tuturnya.

Page: 1 2

Jay Wijayanto

Recent Posts

Metrotowatch #2: Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Tidak Ramah Pendaki, tapi Ramah Perut yang Butuh Geli

Kesuksesan Sekawan Limo pada 2024 membuat Bayu Skak kembali mengajak penonton mendaki dunia mistis khas…

1 hour ago

Persebaya Gandeng RS Mayapada Bangun Ekosistem Sports Medicine Terintegrasi Pertama di Indonesia

Persebaya Surabaya mengambil langkah besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan performa pemain dan staf…

12 hours ago

Venezuela Diguncang Gempa Dahsyat 7,5 Magnitudo, Ratusan Orang Ditemukan Tewas

Venezuela dilanda bencana alam paling mematikan dalam beberapa decade terakhir setelah dua gempa bumi kuat…

14 hours ago

Son Heung-min Duduk di Bangku Cadangan, Korea Selatan Tumbang di Tangan Afsel

Timnas Korea Selatan harus menelan pil pahit setelah takluk 0-1 dari Afrika Selatan pada laga…

15 hours ago

Datang Bawa Mimpi, Pulang Jadi Juru Kunci! Ceko Dibantai Meksiko dan Dihujani Kritik

Timnas Meksiko menutup fase grup Piala Dunia 2026 dengan cemerlang. Bermain di hadapan puluhan ribu…

15 hours ago

19 Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Masih Dirawat di Tanah Suci, 83 Orang Meninggal

Sebanyak 19 jemaah haji Debarkasi Surabaya masih belum dapat pulang ke Indonesia karena harus menjalani…

18 hours ago

This website uses cookies.