Drg. Tiyas memastikan seluruh korban hanya mengalami gejala ringan dan tidak ada kasus yang berujung serius.
“Alhamdulillah, semuanya sejauh ini rawat jalan dan tidak ada yang sampai rawat inap. Banyak yang sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pengobatan di tempat maupun di Puskesmas,” tuturnya.
Terkait penyebab pasti keracunan, tim kesehatan telah mengamankan sampel seluruh menu makanan yang disajikan untuk diuji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).
Meski hasil akhir belum keluar, pantauan lapangan dan laporan dari pihak guru mengarahkan kecurigaan pada menu daging yang disajikan pada hari kejadian. Pasalnya, menu tersebut diketahui merupakan hal baru yang belum pernah disajikan sebelumnya.
“Kami masih cek ulang, tapi laporan dari guru-guru biasanya memang tidak dikasih daging, baru hari ini ada daging. Ini masih kemungkinan ya,” jelas drg. Tiyas.
Sebagai langkah pencegahan, pihak SPPG terkait telah menarik seluruh sisa paket makanan yang belum dikonsumsi di sekolah-sekolah lain, guna memastikan tidak ada tambahan korban baru dari distribusi yang sama.
Puskesmas juga terus memantau kondisi para siswa di rumah masing-masing lewat koordinasi dengan pihak sekolah.
Sementara itu, pihak pengelola SPPG dilaporkan telah berkomitmen menanggung seluruh biaya pengobatan para siswa yang terdampak, meski drg. Tiyas belum bisa menyampaikan identitas lengkap pihak penyedia makanan tersebut.
Drg. Tiyas memastikan seluruh korban hanya mengalami gejala ringan dan tidak ada kasus yang berujung serius.
“Alhamdulillah, semuanya sejauh ini rawat jalan dan tidak ada yang sampai rawat inap. Banyak yang sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan pengobatan di tempat maupun di Puskesmas,” tuturnya.
Terkait penyebab pasti keracunan, tim kesehatan telah mengamankan sampel seluruh menu makanan yang disajikan untuk diuji laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).
Meski hasil akhir belum keluar, pantauan lapangan dan laporan dari pihak guru mengarahkan kecurigaan pada menu daging yang disajikan pada hari kejadian. Pasalnya, menu tersebut diketahui merupakan hal baru yang belum pernah disajikan sebelumnya.
“Kami masih cek ulang, tapi laporan dari guru-guru biasanya memang tidak dikasih daging, baru hari ini ada daging. Ini masih kemungkinan ya,” jelas drg. Tiyas.
Sebagai langkah pencegahan, pihak SPPG terkait telah menarik seluruh sisa paket makanan yang belum dikonsumsi di sekolah-sekolah lain, guna memastikan tidak ada tambahan korban baru dari distribusi yang sama.
Puskesmas juga terus memantau kondisi para siswa di rumah masing-masing lewat koordinasi dengan pihak sekolah.
Sementara itu, pihak pengelola SPPG dilaporkan telah berkomitmen menanggung seluruh biaya pengobatan para siswa yang terdampak, meski drg. Tiyas belum bisa menyampaikan identitas lengkap pihak penyedia makanan tersebut.