METROTODAY, SURABAYA – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh Surabaya, Chalfi Alida Najla, memberikan penjelasan resmi terkait dugaan pihaknya menjadi sumber masalah dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menegaskan bahan baku yang digunakan aman, namun ia mengakui kemungkinan adanya kesalahan pada proses pengolahan masakan.
Menurut Chalfi, menu olahan daging khususnya masakan krengsengan yang disajikan pada hari kejadian menjadi fokus utama penelusuran.
Kondisi SPPG usai memberikan makanan yang dikonsumsi siswa di Surabaya yang menyebabkan keracunan. (Foto: istimewa)
Ia menjamin bahwa bahan dasar daging yang diproses masih segar dan layak dikonsumsi.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan ada tahap pengolahan yang kurang tepat sehingga memicu gangguan kesehatan kepada para siswa.
“Bahan baku daging yang kami gunakan dipastikan segar dan layak konsumsi, tidak ada yang basi atau rusak. Kami menduga kemungkinan ada hal yang kurang tepat pada proses pengolahan daging krengsengan tersebut. Atas kejadian ini, kami menerima keputusan bahwa SPPG ditutup sementara waktu untuk dilakukan evaluasi total, agar kejadian serupa tidak terulang lagi ke depan,” jelas Chalfi Alida Najla, Senin (11/5).
METROTODAY, SURABAYA – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh Surabaya, Chalfi Alida Najla, memberikan penjelasan resmi terkait dugaan pihaknya menjadi sumber masalah dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menegaskan bahan baku yang digunakan aman, namun ia mengakui kemungkinan adanya kesalahan pada proses pengolahan masakan.
Menurut Chalfi, menu olahan daging khususnya masakan krengsengan yang disajikan pada hari kejadian menjadi fokus utama penelusuran.
Kondisi SPPG usai memberikan makanan yang dikonsumsi siswa di Surabaya yang menyebabkan keracunan. (Foto: istimewa)
Ia menjamin bahwa bahan dasar daging yang diproses masih segar dan layak dikonsumsi.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan ada tahap pengolahan yang kurang tepat sehingga memicu gangguan kesehatan kepada para siswa.
“Bahan baku daging yang kami gunakan dipastikan segar dan layak konsumsi, tidak ada yang basi atau rusak. Kami menduga kemungkinan ada hal yang kurang tepat pada proses pengolahan daging krengsengan tersebut. Atas kejadian ini, kami menerima keputusan bahwa SPPG ditutup sementara waktu untuk dilakukan evaluasi total, agar kejadian serupa tidak terulang lagi ke depan,” jelas Chalfi Alida Najla, Senin (11/5).