“Misal butuh 5, dikalikan koefisien jadi butuh sekitar 6 atau 7. Tidak boleh ada yang sisa atau terbuka, harus dihitung per RW, dijumlahkan semuanya,” tegasnya.
Eri membagi tugas dalam pengawasan ini. Untuk tingkat kecamatan dan kelurahan, cukup fokus menghitung jumlah kebutuhan tongbin. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diminta melakukan pemantauan lebih detail hingga ke operasional armada.
“Kalau teman-teman DLH, saya minta hitung sampai plat nomor mobil, shift berapa ke TPS mana. Karena saya harus tahu di monitor, mobil ini ke mana saja,” imbuhnya.
Pemantauan dilakukan secara real time menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Dengan sistem ini, waktu tempuh dan efektivitas kerja truk sampah dari TPS menuju TPA dapat terpantau dengan akurat.
“Dengan GPS saya bisa tahu berapa jam dia dari TPA balik ke TPS. Ini agar pengelolaan sampah di Kota Pahlawan makin tertib dan terukur,” pungkasnya. (ahm)
Page: 1 2
Fardhan Aruna Syafzani Wibowo, 13 tahun, jemaah haji termuda dari Bali, tiba di Asrama Haji…
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menerima kunjungan pengawasan dari tim Ombudsman Jawa Timur terkait pelaksanaan…
S, 50 tahun, warga Kalianak Timur Gang Rachmat, Surabaya. Ia menjadi korban pencurian kendaraan bermotor…
Pemkab Sidoarjo mempercepat pembangunan infrastruktur jalan melalui program betonisasi sejumlah ruas strategis pada 2026. Langkah…
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mulai menyalurkan bantuan pangan dari pemerintah pusat kepada masyarakat penerima manfaat di…
Lembaga pemeringkatan pendidikan tinggi internasional, Quacquarelli Symonds (QS), resmi merilis hasil terbaru QS World University…
This website uses cookies.