Flyover Gedangan Dirancang Tahan 30 Tahun, Pemkab Sidoarjo Dorong Enam Jalur

Mahmud mengatakan, opsi pembangunan enam jalur itu juga berkaitan dengan kebutuhan lahan KAI. Pasalnya, pada tahun 2027, KAI juga berencana membangun jalur ganda kereta api. Rencana proyek pembangunan SRRL jalur ganda KAI itu perlu diselaraskan dengan pembangunan FO Gedangan.

Jika tidak diperhitungkan sejak awal, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan pada tahap pembangunan selanjutnya. Untuk itu, pembahasan desain dan kebutuhan lahan masih harus dibicarakan lagi bersama KAI.

”Ya kendalanya ini. Hanya itu saja. Ini kebetulan KAI belum bisa hadir, maka kami akan koordinasi lebih lanjut,” ucapnya.

Satker P2JN Jatim Indi Sasongko menyatakan butuh kesepahaman bersama untuk menyelesaikan DED FO Gedangan. Terutama pihak KAI sebagai pemilik lahan yang juga akan mengembangkan proyek SRRL.

”Hasil rapat kita masih butuh kesepahaman dengan pihak Kereta Api terkait lahan-lahan yang dibutuhkan. Mau menggunakan enam jalur per masing-masing sisi tiga atau dua jalur di masing-masing sisi. Tapi, dari Pemkab berharap tiga jalur per masing-masing sisi di bawah flyover,” ujarnya.

Idealnya, kata dia, jalur di bawah FO Gedangan menggunakan 6 jalur. Masing-masing sisi terdapat tiga jalur dari arah Sidoarjo ke Surabaya dan sebaliknya. Tiga jalur dari arah Surabaya ke Sidoarjo untuk melayani belok kiri ke arah Sedati dan belok kanan ke arah Sukodono serta jalan lurus ke arah Sidoarjo. Opsi pemilihan enam jalur tersebut juga sangat berkaitan dengan perhitungan kepadatan arus lalu lintas untuk 30 tahun mendatang.

”Kalau empat jalur dengan masing-masing sisinya dua jalur artinya lahan Kereta Api yang terdampak memang lebih sedikit. Tapi, memang secara lalu lintas itu memang lebih ideal kita menggunakan enam jalur. Enam jalur itu maksudnya masing-masing tiga jalur,” ujarnya. (mt)

Mahmud mengatakan, opsi pembangunan enam jalur itu juga berkaitan dengan kebutuhan lahan KAI. Pasalnya, pada tahun 2027, KAI juga berencana membangun jalur ganda kereta api. Rencana proyek pembangunan SRRL jalur ganda KAI itu perlu diselaraskan dengan pembangunan FO Gedangan.

Jika tidak diperhitungkan sejak awal, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan pada tahap pembangunan selanjutnya. Untuk itu, pembahasan desain dan kebutuhan lahan masih harus dibicarakan lagi bersama KAI.

”Ya kendalanya ini. Hanya itu saja. Ini kebetulan KAI belum bisa hadir, maka kami akan koordinasi lebih lanjut,” ucapnya.

Satker P2JN Jatim Indi Sasongko menyatakan butuh kesepahaman bersama untuk menyelesaikan DED FO Gedangan. Terutama pihak KAI sebagai pemilik lahan yang juga akan mengembangkan proyek SRRL.

”Hasil rapat kita masih butuh kesepahaman dengan pihak Kereta Api terkait lahan-lahan yang dibutuhkan. Mau menggunakan enam jalur per masing-masing sisi tiga atau dua jalur di masing-masing sisi. Tapi, dari Pemkab berharap tiga jalur per masing-masing sisi di bawah flyover,” ujarnya.

Idealnya, kata dia, jalur di bawah FO Gedangan menggunakan 6 jalur. Masing-masing sisi terdapat tiga jalur dari arah Sidoarjo ke Surabaya dan sebaliknya. Tiga jalur dari arah Surabaya ke Sidoarjo untuk melayani belok kiri ke arah Sedati dan belok kanan ke arah Sukodono serta jalan lurus ke arah Sidoarjo. Opsi pemilihan enam jalur tersebut juga sangat berkaitan dengan perhitungan kepadatan arus lalu lintas untuk 30 tahun mendatang.

”Kalau empat jalur dengan masing-masing sisinya dua jalur artinya lahan Kereta Api yang terdampak memang lebih sedikit. Tapi, memang secara lalu lintas itu memang lebih ideal kita menggunakan enam jalur. Enam jalur itu maksudnya masing-masing tiga jalur,” ujarnya. (mt)

Ikuti Kami Untuk mendapatkan Berita menarik MetroToday
Google News

Artikel Terkait

Pilihan Editor

Pilihan Editor

Terpopuler

Artikel Terbaru

Artikel Terkait