Categories: Sidoarjo

Keluarga Kenang Semangat Daul Milal dalam Menuntut Ilmu Agama di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang Ingin Menjadi Ahli Kitab

METROTODAY, SURABAYA – Suasana duka menyelimuti kediaman Achmad Rofik, ayah dari Daul Milal, salah satu korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidoarjo.

Ia terlihat duduk bersama tamu yang tengah takziah di rumah duka di Jalan Sidokapasan Gang VIII nomor 18 Surabaya.

Di depan rumah bercat hijau putih lantai dua juga terlihat sanak saudara tetangga juga tengah berkumpul. Para tamu yang takziah juga terus berdatangan. Di depan gang masuk rumah duka juga karangan ucapan belasungkawa dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Daul Milal merupakan santri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang sudah tiga tahun ini melangsungkan pendidikan agamanya di ponpes tersebut.

Milal bersama ratusan santri lainnya menjadi korban ambruknya bangunan musala. Saat kejadian, Milal sedang melaksanakan salat ashar di rakaat terakhir bersama santri lainnya.

Achmad Rofik mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki firasat apapun sebelum kejadian tragis ini. Pada Senin (29/9) sore, saat sedang mengajar mengaji di Masjid Al Hidayah, Simolawang, ia mendengar kabar tentang musala Ponpes Al Khoziny yang ambruk.

Awalnya, ia mengira kejadian tersebut adalah kecelakaan biasa, namun kemudian mendapat kabar dari adiknya bahwa ada banyak korban.

“Daftar nama santri yang dicari dan sebagian santri bilang ke saya kalau ketemu Milal lagi shalat. Jadi ya senang-senang susah. Senangnya berarti Milal salat dan berarti ada di dalam. Susahnya kalau ada musibah terjadi itu takdirnya. Karena saat itu dalam kondisi suci (salat, Red),” ujar Achmad Rofik, Jumat (10/10).

Setelah tiga hari pencarian yang penuh harapan dan kecemasan, jasad Milal dan korban lainnya belum juga ditemukan.

Para wali santri yang gelisah kemudian berkoordinasi dengan Basarnas untuk mempercepat proses pencarian. Setelah melalui musyawarah dengan Gubernur, akhirnya disepakati penggunaan alat berat untuk membantu pencarian.

Pada hari keenam, jenazah Milal akhirnya ditemukan dan dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya.

“Setelah dikafani saya melihat bersama istri, adik dan adik ipar. Memang setelah dilihat jenazah agak lebab mukanya. Baunya memang nyengat. Kemudian segera untuk dimakamkan,” tutur Achmad Rofik dengan suara bergetar.

Milal, yang dikenal sebagai anak yang supel, mudah bergaul, dan bercita-cita menjadi ahli kitab serta kelak bisa menggantikan ayahnya sebagai guru ngaji. Ibunda Milal juga mengajar ngaji.

Ia juga aktif membantu mengajar di TPQ Al-Fadilah yang ada di rumahnya setiap libur dan pulang dari Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. “Kalau pulang mondok bantu ngajar juga di TPQ Al-Fadilah,” imbuhnya.

Sejak lulus dari SD Negeri Simokerto 1 Surabaya, Milal terus meminta kepada ayahnya, Achmad Rofik, untuk dimasukkan ke pondok pesantren.

“Saya bilang mondok itu susah tapi outputnya bagus itu bekal. Saya tidak bisa memberikan apa apa kecuali ilmu karena tidak punya apa apa. Dan anaknya semangat,” jelas Achmad Rofik, mengenang tekad putranya.

Meski kondisi ekonomi keluarga terbatas, Achmad Rofik berusaha mewujudkan keinginan Milal untuk mondok. Saat ini, di usia 15 tahun, Milal duduk di kelas IX sekolah formal dan kelas VI diniyah di pondok pesantren.

Selain giat belajar, Milal juga memiliki bakat dalam seni hadrah. Bahkan, pada hari Sabtu sebelum kejadian tragis, ia sempat tampil dalam acara hadrah.

Almarhum Milal merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia meninggalkan seorang adik yang masih duduk di kelas V SD. Kepergian Milal tentu menjadi duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Achmad Rofik dengan ikhlas menerima musibah ini sebagai takdir dari Allah SWT.

“Menurut saya nuntut gak pantas nuntut-nuntut. Pantasnya kita bersyukur kalau anak kita sama Allah lebih disayang untuk pulang. Kita semua kan juga akan pulang tinggal tunggu waktunya,” ujarnya dengan nada pasrah.

Bahkan setelah dimakamkan di TPU Pegirian Surabaya Minggu malam (5/10) para pelayat terus mengalir ke rumah duka. Terutama saat mengikuti yasin tahlil setiap harinya ada ratusan orang yang hadir untuk mendoakan Daul Milal.

“Setiap hari ada ratusan yang ikut ngaji. Bahkan dari luar kampung juga ikut hadir mendoakan anak saya. Insyaallah Sabtu besok tepat tujuh harinya (Milal,Red),” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa seluruh korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, insyaallah, meninggal dalam keadaan syahid karena sedang menuntut ilmu, salat, dan berpuasa.

“Para wali santri ridho ikhlas merelakan anak anak kita karena ini musibah ajal ini sudah ada waktunya. Anak-anak yang wafat pilihan,” pungkasnya. (ahm)

Jay Wijayanto

Recent Posts

Atasi Banjir di Surabaya Selatan, Pemkot Fokus Penyambungan Saluran dan Penyamaan Ketinggian Air

Penanganan banjir di wilayah Surabaya Selatan dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh. Pemerintah kota menitikberatkan pada…

5 hours ago

Anas Karno Resmi Jabat Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Kota Surabaya

Anas Karno ditetapkan sebagai Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya dalam rapat paripurna yang digelar…

5 hours ago

Gantikan Adi Sutarwijono, Syaifuddin Zuhri Dilantik sebagai Ketua DPRD Surabaya, Fokus Optimalisasi Pendapatan Daerah

Syaifuddin Zuhri resmi dilantik dan mengucap sumpah jabatan sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)…

5 hours ago

Kelihaian Perempuan Mengubah Diam Menjadi Emas

KALIMAT yang diucapkan belum sepenuhnya tuntas. Tapi, air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tak…

7 hours ago

Pakar: Pengelolaan Budaya Surabaya Dinilai Masih Fase Transisi

Penyediaan ruang publik serta transformasi lembaga kesenian menjadi lembaga kebudayaan dinilai sebagai langkah positif menuju…

1 day ago

KAI Uji Coba Biodiesel B50 di KA Sembrani, Performa Tetap Optimal di Jalur Surabaya – Jakarta

PT KAI melakukan terobosan baru dengan menggelar uji coba perdana penggunaan bahan bakar Biodiesel B50…

1 day ago

This website uses cookies.