Silaturahmi tim MetroToday dengan Pengurus Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sidoarjo, Sabtu (2/5/2026). (Dok. PDNA, edited by AI)
METROTODAY, SIDOARJO – Sambutan positif tergambar dari para Pengurus Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sidoarjo, Sabtu (2/5/2026) sore. Di ruang kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah Sidoarjo, mereka serius menyimak paparan tim MetroToday.id. Berbincang tentang seluk beluk tulisan.
Sore itu, dua pendiri MetroToday.id, yakni Anggit Satriyo Nugroho dan Naufal Widi Asmoro Rofid, memang berkunjung ke PDNA. Banyak hal yang diperbincangkan. Salah satunya, rencana menggelar workshop khusus penulisan berita. Perbincangan yang asyik pun terasa gayeng dan mengalir.
“Saya rasa penting sekali mengadakan pelatihan menulis. Kami memang pernah mengadakan hal serupa, tapi belum sampai praktik,” kata Ketua Pengurus Daerah Nasyiatul Aisyiyah Nur Ravita Hanun.
Yunda Hanun, sapaan karib Nur Ravita Hanun, mengungkapkan bahwa dirinya ingin mendesain pelatihan yang lebih banyak praktiknya daripada teori. “Jadi harapannya setelah pelatihan bisa langsung ngegas,” kata perempuan yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.
Pelatihan yang digagas itu, kata Hanun, akan melibatkan segenap pengurus Nasyiatul Aisyiyah. Jumlah peserta yang dilibatkan tidak perlu banyak. Namun, mereka memiliki komitmen yang kuat untuk konsisten menulis.
Anggit Satriyo Nugroho mengatakan bahwa menulis tidak sulit. “Yang sulit itu adalah mau segera memulai,” ucapnya.
Tulisan yang bagus, lanjut Anggit, adalah tulisan yang selesai. “Apalagi kalau pembacanya terkenang-kenang dengan tulisan tersebut,” terangnya.
Itu pula yang membedakan dengan konten media sosial. Menurut Anggit, konten hanya dilihat, setelah itu dilupakan. Berbeda dengan tulisan yang membekas di hati. Tulisan itu akan dikenang, bahkan dibaca berulang-ulang.
Menurut Anggit, banyak tema yang bisa ditulis oleh perempuan. Mulai soal keluarga, parenting, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan banyak lagi hal menarik lainnya. Apalagi, para perempuan punya kepekaan emosi yang tinggi. Kalau bisa dituangkan dalam karya, pasti akan memiliki nilai tersendiri.
“Akan terasa sekali bahwa tulisan tersebut relate dengan pembacanya,” ujarnya.
Dengan kemampuan menulis, pemikiran para pengurus Nasyiatul Aisyiyah juga akan jauh lebih tajam. Ia punya critical thinking yang baik. Dari sana, gagasan yang semula hanya terpikirkan bisa dinarasikan dengan baik. Lebih-lebih bila berubah menjadi aksi yang positif bagi kehidupannya.
Anggit menambahkan, era Artifisial Intelligence memang memudahkan orang menyusun tulisan. Tapi, yang tidak dilihat banyak orang bahwa tulisan AI tak bisa menautkan emosi kepada pembacanya. “Jadi nggak ada yang terasa membekas,” ujar Anggit.
Naufal mengatakan, workshop penulisan akan memberikan fondasi tentang teknis menulis. Output yang dihasilkan antara peserta yang satu dengan yang lain bisa jadi tidak sama. “Tapi yang terpenting adalah mau untuk terus mencoba. Karena resepnya ada tiga: menulis, menulis, dan menulis,” tandasnya. (red/MT)
Menjelang pertemuan dengan PSBS Biak pada lanjutan BRI Super League, skuad Persebaya Surabaya menggelar latihan…
PSBS Biak siap memberikan perlawanan sengit saat bertandang ke markas Persebaya Surabaya pada lanjutan pekan…
Sejumlah buruh perempuan tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSPMI) Kabupaten…
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, hadir langsung berbaur bersama ribuan buruh yang datang dari berbagai…
Jumat bakal menjadi hari yang menegaskan fungsi representasi politik masyarakat bagi anggota Fraksi PKB DPRD…
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof. Muhadjir Effendy, menyampaikan bahwa saat ini sudah ada tiga…
This website uses cookies.